Category Archives: Kabar Kampus

KKA sebagai “Sebuah Proses Menjadi”

“Sebuah proses menjadi,” demikian ujar Prof. Dr. L. Dyson tatkala mengomentari foto pelaksanaan KKA 2011 dalam suatu jejaring sosial. Memang pelaksanaan KKA tahun 2011 kemarin, tergolong semarak. Setidaknya itu tercermin dari banyaknya dosen Antropologi yang hadir kala itu. Selain Prof. Dr. L. Dyson dan Ketua Departemen Antropologi, Sri Endah Kinasih, M.Si., tampak hadir Djoko Adi Prasetyo, M.Si., dan Budi Setiawan, M.A., selaku dosen pembina. Selain itu, hadir pula Dr. Toetik Koesbardiati, yang selain dosen, juga mewakili alumni (KELUARGA).

KKA merupakan singkatan dari Kemah Kekerabatan Antropologi, sebagai ritual ucapan “selamat datang” bagi mahasiswa baru Antropologi Universitas Airlangga. Ada juga yang mengenalnya sebagai Kemah Keakraban Antropologi. Bahkan secara berseloroh, ada pula yang menyebutnya sebagai Kamp Konsentrasi Antropologi.

Biasanya, KKA ini dilaksanakan pada medio tahun pertama bagi mahasiswa baru Antropologi. Disebut kemah, karena memang, KKA ini selalu digelar di luar kampus. Tepatnya, dilaksanakan pada suatu bumi perkemahan yang dipilih secara khusus.

“Pertama kali saya mendengar tentang KKA banyak hal negatif yang saya bayangkan. Tetapi, setelah saya mengikuti seluruh kegiatan KKA, saya menjadi kian yakin bahwa Antropologi memang pilihan yang tepat untuk saya !” demikian ungkap mahasiswi Antropologi angkatan 2011, ditemui sesaat setelah mengikuti kegiatan KKA baru lalu.

KKA selalu menyajikan dialektika yang menarik di permukaan. Bagi Universitas lain yang memiliki program studi Antropologi, kegiatan semacam KKA ini kerap disebut sebagai Inisiasi Mahasiswa Baru. Jadi, bagi mahasiswa Antropologi, KKA ini bukan sekedar ajang Ospek yang sengaja digelar di tingkat Prodi.

Inisiasi, memang sebuah istilah yang telah dikenal luas di kalangan antropolog. Inisiasi ini, sebagaimana pernah dinyatakan oleh Mordecai Marcus, diartikan sebagai bagian dari masa kecil, menuju remaja, hingga kemudian keanggotaannya dapat diterima secara penuh dalam adult society. Agar dapat diterima, biasanya inisiasi juga melibatkan beberapa jenis ritual simbolis.

Dalam kajian sastra, istilah inisiasi ini, diakui telah dipinjam dari Antropologi, dan dikemukakan untuk yang pertama kali setelah Perang Dunia II. Merujuk pada pendapat Freese, maka J.E. Gotowos menulis deskripsi yang melukiskan inisiasi sebagai sebuah langkah menuju pemahaman diri. Inisiasi menggambarkan sebuah episode untuk mendapatkan wawasan dan pengalaman, dimana pengalaman ini umumnya akan dianggap sebagai tahapan penting dalam menuju kedewasaan. Pada karakteristik yang lain, inisiasi menekankan pada aspek dualitas, berupa hilangnya kepolosan melalui sebuah pengalaman menyakitkan, namun diperlukan. Bahkan dapat disebut sebagai keuntungan dalam memperoleh identitas.

Selain itu, pengalaman inisiasi, baik itu berupa aturan, tugas dan perilaku yang dipelajari, memang sengaja diaktifkan agar dapat menjadi anggota penuh dari sebuah masyarakat. Di sini, inisiasi berfokus pada pengalaman individu dan konsekuensinya, hingga bersandar pada aspek sosiologis inisiasi. Pada aspek yang lain, inisiasi dapat menjelaskan proses penemuan antara “diri” dan “realisasi diri”, yang pada dasarnya dapat diartikan sebagai proses individuasi.

Satu hal penting yang perlu disampaikan, jika memang KKA dapat diartikan sebagai suatu bentuk inisiasi, KKA pun akan memiliki agenda untuk mengajak mahasiswa baru, guna mengalami perubahan sehubungan dengan pengetahuannya tentang dunia atau diri mereka sendiri, perubahan karakter, atau keduanya.

Dan yang terpenting, perubahan ini harus merujuk pada titik yang sanggup membawanya menuju dunia “orang dewasa”. Meski KKA juga merefleksikan beberapa bentuk ritual, namun dalam tantangannya, KKA juga harus mampu memberikan beberapa bukti bahwa perubahan positif itu, setidaknya cenderung memiliki efek yang permanen.

“Banyak hal yang bisa saya dapatkan dari kegiatan KKA ini. Mulai dari pembelajaran tujuh unsur budaya, mempraktekkan tentang apa itu Antropologi Visual, hingga menyerap rasa persaudaraan yang kental. Bisa dikatakan KKA 2011 ini, tidak bisa dilupakan begitu saja ! Penyambutan calon kerabat dengan tari-tarian hingga acara inisiasi yang telah menyambut kedatangan kita sebagai Kerabat Antropologi. KKA ini mengajarkan saya hal-hal baru,” pungkas salah seorang peserta KKA 2011 Antropologi Universitas Airlangga. (dev)

Iklan

Raih Gelar Doktor, Bu Pinky Gelar Tasyakuran

Salah satu langkah besar yang diraih Departemen Antropologi tahun 2011 lalu adalah capaian gelar Doktor bagi salah seorang dosennya yang menjalani studi lanjut. Siapa tak kenal Pinky Saptandari ? Segudang prestasi dan aktivitas telah ia raih. Sebut saja Pinky Saptandari pernah menjadi anggota Konsorsium Swara Perempuan (KSP) Surabaya, Dewan Redaksi Warta BK3S Jawa Timur, Sekjen Dewan Kota Surabaya, hingga ketika ia dipercaya sebagai Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Bu Pinky, begitu ia biasa disapa oleh mahasiswanya, merupakan salah satu dosen Antropologi Universitas Airlangga yang kiprah dan pengabdiannya telah dikenal luas. Bagi Departemen Antropologi, Bu Pinky tergolong dosen yang sangat dibanggakan oleh mahasiswanya. Setelah berhasil meraih gelar doktornya, Departemen Antropologi pun berinisiatif untuk menggelar acara tasyakuran.

Bertempat di Ruang Adi Sukadana, gedung FISIP lt II, Kampus B UNAIR, karangan bunga di pintu depan seakan turut menunjukkan kemeriahan acara tasyakuran pada siang hari itu. Selain dihadiri oleh Ketua Departemen, acara tasyakuran juga dihadiri oleh Wakil Rektor, Dekan FISIP, serta beberapa dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa di lingkungan FISIP Universitas Airlangga.

Sementara upacara promosi sendiri, telah berlangsung pada hari Rabu, (14/12) baru lalu di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Bu Pinky berhasil memperoleh gelar doktor melalui disertasinya yang berjudul “Kebijakan Kesehatan Reproduksi dalam Wacana Tubuh Perempuan: Perspektif Filsafat”. Bertindak selaku promotor adalah Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi, serta Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto dipercaya selaku ko promotor. Sejak itu, Bu Pinky dinyatakan berhasil meraih gelar doktor ilmu pengetahuan budaya dari Universitas Indonesia. Dan karenanya, kini nama lengkap Bu Pinky pun bertambah panjang menjadi Dr. Pinky Saptandari W, dra., MA.

“Hal ini juga sebagai suatu prestasi yang membanggakan bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, sebab Bu Pinky, dengan menjadi penyelamat untuk Fakultas, yaitu satu-satunya dosen yang meraih gelar Doktor di tahun 2011 ini,” demikian tukas Drs. I. Basis Susilo, MA., selaku Dekan FISIP Universitas Airlangga.

Sementara itu, Bu Pinky tampak sangat terharu atas acara tasyakuran yang diselenggarakan ini. Untuk menambah semarak, acara tasyakuran menampilkan tim paduan suara dari Departemen Antropologi, serta Tari Gandrung yang juga dibawakan oleh mahasiswa Antropologi, Arry Setiawan. Selain itu, Departemen Antropologi juga berkesempatan menyerahkan kenang-kenangan yang disampaikan oleh Sri Sanituti Hariadi, SH, M.Si., selaku dosen senior pada Departemen Antropologi yang juga mantan Dekan FISIP Universitas Airlangga. (rez)

Sumber : http://antro.fisip.unair.ac.id/berita.antro.php?tl=Raih%20Gelar%20Doktor,%20Bu%20Pinky%20Gelar%20Tasyakuran

Selamatkan Permainan Anak Tradisional

Departemen Antropologi mendapatkan kesempatan mengisi acara “Thanks to Nature” yang diselenggarakan di Taman Flora Surabaya, (1/12) baru lalu. Kali ini, Antropologi Universitas Airlangga memilih tema stan “Permainan Anak Tradisional”. Tema ini sengaja diangkat oleh Himpunan Mahasiswa Antropologi, ketika melihat keadaan permainan anak tradisional, yang kini, terasa sudah tidak memiliki peminat, bahkan telah dilupakan.

Permainan tradisional atau biasa disebut folkgames ini, perlahan terasa mulai terpinggirkan. Bahkan melalui film kartun yang diproduksi oleh Negara tetangga, beberapa permainan anak tradisional terkesan bukan lagi menjadi milik bangsa Indonesia. Melalui tontonan tersebut, anak Indonesia mengenal permainan tersebut sebagai tuntunan yang justru disajikan oleh bangsa lain. Kini, semua anak mulai beralih memainkan gadget-gadget cangih.

Sejalan dengan itu, sebagai dukungan kepada pemerintah Kota Surabaya yang berupaya menjadikan Surabaya sebagai Kota Layak Anak (KLA), maka Departemen Antropologi UNAIR tergerak untuk berpartisipasi. Masyarakat didorong untuk memperkenalkan dan mewariskan permainan rakyatnya kepada anak-anak di lingkungan mereka masing-masing.

Istilah tak kenal, maka tak sayang, memang masih berlaku di sini. Jika kembali dicermati, sebenarnya permainan anak tradisional di Indonesia sangat beragam dan menarik. Contohnya; ada permainan dakon, egrang, yoyo, gasing, pistol-pistolan kayu, layang-layang, holahop, gelembung sabun dan masih banyak lagi. Ada juga beberapa permainan anak tradisional yang harus diakui juga memiliki banyak manfaat. Misalnya, karenanya anak pun menjadi lebih kreatif, berguna bagi pengembangan kecerdasan majemuk anak, hingga bisa digunakan untuk terapi pada anak. Dan yang terpenting, anak menjadi mudah bersosialisasi dengan teman sebaya, sekaligus bangga sebagai pewaris kekayaan budaya bangsanya.

Dibukanya “Permainan Anak Tradisional” oleh Antropologi UNAIR ternyata cukup berhasil menarik animo. Stan itu pun sangat ramai dikunjungi oleh anak-anak yang ternyata juga penasaran dengan keberadaan permainan yang ditampilkan. Bahkan banyak dari mereka yang ternyata tidak mengenal nama-nama permainan tradisional yang dipamerkan.

Mengetahui pengunjungnya mulai kebingungan, dengan sabar mahasiswa Antropologi menjelaskan serta mengajarkan cara permainan tersebut. “Ini begini cara mainnya, Dik”, ujar salah seorang mahasiswi.

Dalam kesempatan itu, panitia juga membagikan permainan secara cuma-cuma. “Iya, agar anak-anak bisa memainkannya di rumah,” tutur salah seorang pengurus Hima Antropologi UNAIR. Ekspresi yang jarang didapat ketika mereka hanya bermain game di depan komputer, terpancar manakala anak-anak mulai memainkan permainan yang diberikan. Tak ayal, saat itu tidak hanya anak-anak saja yang merasa terhibur, para orang tua pun banyak yang mengaku tertarik dan bahkan ada juga yang ikut bermain.

“Sekalian nostalgia,” celetuk para orang tua. Menurut mereka, acara semacam ini harusnya dapat digelar secara rutin. Selain untuk menjaga kebudayaan bangsa, acara semacam ini juga mereka yakini dapat memberikan kebahagiaan bagi keluarga.

Sumber : http://antro.fisip.unair.ac.id/berita.antro.php?tl=Selamatkan%20Permainan%20Anak%20Tradisional

Mahasiswa Baru Antropologi, Disodori Fasilitas Lengkap

Penerimaan mahasiswa baru Universitas Airlangga 2011/2012 telah berakhir, dan mereka pun telah dikukuhkan bersama oleh Rektor pada hari Senin (15/8) baru lalu. Tak terkecuali bagi mahasiswa baru pada Departemen Antropologi, FISIP Universitas Airlangga.

Tahun ini,  Departemen Antropologi menerima sejumlah 65 mahasiswa baru. Kehadiran mereka langsung dipeluk kehangatan acara welcome party. Sebuah ajang penyambutan bagi mahasiswa baru Antropologi UNAIR. Keesokan harinya, Selasa (23/8), mahasiswa baru angkatan 2011, juga digiring untuk menghadiri acara pengenalan mereka dengan para dosen, pengurus Hima (himpunan mahasiswa) Antropologi, dan alumni.

Dalam acara perkenalan ini, mahasiswa baru memperoleh aneka materi pengenalan. Mulai dari kedisiplinan mahasiswa, pengenalan kampus, hingga tatap muka dengan para dosen dari Departemen Antropologi. Selain itu, Hima juga berkesempatan memperkenalkan program kerja yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan. Sementara dari alumni, ada kesempatan untuk berbagi informasi dan pengalaman. Berbagi pengetahuan tentang peluang yang sekiranya dapat dikelola selepas lulus dari studi Antropologi.

“Tahun 2011 ini, Antropologi kembali mendapat akreditas A. Kita berhasil memperoleh nilai paling tinggi di antara Departemen lain di FISIP, UNAIR,” demikian ungkap Ketua Deparmen Antropologi, Sri Endah Kinasih, S.Sos, M.Si., dengan penuh rasa bangga. Sebagai Kadep, Sri Endah Kinasih, M.Si., juga menerangkan akan tersedianya aneka fasilitas yang dimiliki oleh Departemen Antropologi guna menunjang aktivitas perkuliahan mahasiswa.

Selain Laboratorium Antropologi Ragawi yang terdapat di Fakultas Kedokteran, Antropologi juga memiliki koleksi buku yang kini masih menjadi satu-satunya koleksi Departemen di FISIP UNAIR, yang menyediakan akses peminjaman buku bagi para mahasiswa. Di luar itu, Departemen Antropologi UNAIR juga memiliki Museum dan Pusat Kajian Etnografi, yang diperkuat dengan keberadaan Laboratorium Simulasi.

Mahasiswa baru seakan disodori aneka peluang, agar nantinya mereka dapat segera mengoptimalkan keberadaan fasilitas yang ada. Seraya ingin menambahkan, Dr. Myrtati Dyah Artaria, dra., MA., salah satu dosen pada Departemen Antropologi, menyatakan bahwa Antropologi UNAIR memiliki segudang keunikan. “Departemen Antropologi UNAIR adalah satu-satunya jurusan yang memiliki dua program studi dalam satu Departemen, yaitu Antropologi Ragawi dan Antropologi Budaya,” demikian ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Heti Palestina Yunani, S.Sos., menyatakan bahwa Antropologi telah memberikan filosofi keilmuan yang nantinya dapat membuat para lulusan bisa memberikan pilihan yang luas dan beragam, termasuk dalam semua bidang pekerjaan. Sebagai Ketua KELUARGA (Kekerabatan Alumni Antropologi Universitas Airlangga), Heti mengaku banyak memperoleh manfaat dari sekian pengetahuan yang pernah ia peroleh selama mengikuti studi Antropologi di bangku FISIP Universitas Airlangga. Kini, Heti Palestina berprofesi sebagai jurnalis dan berkiprah sebagai Redaktur dari salah satu berita harian ternama.

Yang menarik, mahasiswa baru angkatan tahun 2011 ini berasal dari pelbagai daerah di beberapa penjuru Nusantara. Mulai dari sudut Kalimantan hingga ada yang datang dari tanah Papua. Diharapkan, melalui proses pendidikan yang mereka jalani, kelak mereka dapat berdiri mengisi garis depan pembangunan masyarakat Indonesia dan kebudayaannya. (tys)

[2011-08-25 ]

Antropologi UNAIR, Pertahankan Akreditasi A

Senin (30/5) siang itu, Departemen Antropologi tampak dipenuhi oleh wajah-wajah penuh keceriaan. Aura yang dipancarkan, melukiskan kegembiraan yang mewakili isi hati keluarga besar Antropologi Universitas Airlangga. Kala itu, Ketua Departemen Antropologi, Sri Endah Kinasih, S.Sos., M.Si., baru saja memperoleh kabar bahwa akreditasi “A” yang selama ini digenggam, telah berhasil dipertahankan. Keluarga Antropologi patut bangga, dengan hasil yang ditetapkan oleh pihak BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi) ini, Departemen Antropologi dinyatakan berhasil memenuhi instrumen akreditasi hingga lima tahun ke depan. Untuk kali kedua, Departemen Antropologi UNAIR berhasil memperoleh nilai “A”, sehingga dinilai cakap dalam meningkatkan mutu dan efisiensi. Hasil ini juga membuktikan, bahwa Antropologi UNAIR mampu untuk mempertahankan kualitas yang telah dicapai pada proses akreditasi sebelumnya. Selain itu, prestasi ini juga dapat membuktikan bahwa Departemen Antropologi UNAIR ternyata juga mampu meningkatkan kualitas dari sumber daya yang bernaung di dalamnya. Menurut Ketua Departemen Antropologi, hasil “A” yang dicapai ini terbilang sangat memuaskan. “Ini cukup untuk membayar usaha dan kerja keras dari seluruh civitas di dalamnya. Karena hasil ini pula, yang nantinya akan digunakan oleh Departemen untuk memperkenalkan Antropologi ke masyarakat. Khusunya bagi mereka yang belum mengetahui peran Antropologi,” ujar Sri Endah Kinasih, S.Sos., M.Si selaku Ketua Departemen Antropologi UNAIR. Untuk itu, Endah Kinasih menegaskan, bahwa hasil yang telah dicapai ini, diharapkan juga mampu mendongkrak jumlah mahasiswa yang kelak ingin menimba ilmu Antropologi. Endah Kinasih mengaku, akreditasi yang telah dicapai oleh Antropologi memang “A”, namun hal tersebut tidak sesuai dengan jumlah mahasiswa yang masuk ke dalam Program Studi ini. “Jumlah mahasiswa yang masuk pada setiap tahunnya tidak terlalu banyak,” demikian ungkap Ketua Departemen Antropologi UNAIR. Dikatakan oleh Endah Kinasih, hal ini cukup membuktikan bahwa masih banyak masyarakat di luar sana, yang ternyata belum mengerti tentang Antropologi. Setelah pencapaian ini, Departemen masih memiliki target yang ingin dicapi untuk membuat Antropologi UNAIR lebih maju lagi. Dan sasarannya, Antropologi UNAIR ingin dikenal lebih dekat oleh masyarakat. Karena itu, Departemen bermaksud menggandeng alumni. Diantaranya untuk mengajak mahasiswa melakukan penelitian bersama, menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan pada kegiatan magang. “Dengan demikian jalinan akan terbentuk, dan alumni dapat turut berperan dalam memperkenalkan Antropologi. Dan bekalnya adalah hasil A yang telah dicapai ini,” papar Sri Endah Kinasih, S.Sos., M.Si. Lain dari itu, hasil ini diyakini mampu membawa peran dan manfaat yang lebih besar bagi mahasiswa. Dalam jangka pendek, hasil ini dapat digunakan oleh para lulusan untuk berkarya di masyarakat. “Saat ini perusahaan memang menuntut lampiran akreditasi Jurusan atau Program Studi yang telah ditempuh,” tukas Kadep Antropologi UNAIR. Ke depan, Kadep berharap agar keluarga besar Antropologi UNAIR dapat mempertahankan kesolidan agar dapat mepertahankan nilai “A” yang telah diperoleh ini. Menurut Kadep Antropologi, mempertahankan memang terasa lebih berat ketimbang memperolehnya. “Yang lebih penting lagi adalah membenahi mahasiswa dulu, khususnya agar mereka lebih disiplin. Jadi bukan hanya menghargai waktu, tetapi juga harus terlibat aktif dalam segala kegiatan Antropologi, baik akademis atau non akademis,” tandas Ketua Departemen. Selain itu, sebagai Kadep, Endah Kinasih juga menuntut adanya perbaikan dan perubahan performance mahasiswa Antropologi UNAIR. Tak hanya terkait dengan nilai akademik selama berada di bangku perkuliahan, namun juga menyorot etika berpenampilan mereka selama berada di kampus.

Jumatan, Sebuah Dialektika “Khas” Antropologi

Masih lekat dengan “ruh” Jumatan yang pernah hadir sebelumnya, Jumat (20/5), kerabat Antropologi UNAIR kembali menggelar Jumatan setelah sempat istirahat selama hampir satu tahun. Tawa canda alumni dan mahasiswa terdengar mengiringi sajian prasmanan “khas” Antropologi. Sembari menyantap hidangan, satu per satu jamaah tampak mulai terlibat dalam sebuah diskusi kecil. Menyeduh dialektika komunitas Antropologi, berbaur hangat di pelataran depan Museum dan Kajian Etnografi, Universitas Airlangga.

“Ini untuk pertama kalinya saya ikut Jumatan, ternyata nggak seperti yang saya bayangkan,” demikian ujar Achmad Muzakky, salah seorang mahasiswa yang hadir dalam Jumatan kemarin. Kesan sederhana dan rileks, tampak mewarnai diskusi kecil malam itu. Bahkan, mahasiswa lain merasa langsung tune in ketika bertemu dengan alumni yang berasal dari angkatan “tua”. Kala itu, hadir Cak Triharso dan Cak Welly dari angkatan 1985, serta beberapa alumnus dari angkatan 1992, 1994, 1995, 1996 dan 2000.

Menurut Endro Probo, alumnus dari angkatan 1994, aktivitas Jumatan, pada dasarnya hanya berperan sebagai alternatif media pembelajaran informal bagi stakeholder Antropologi UNAIR. Bahkan pada awalnya, acara ini sekedar digunakan sebagai momentum bagi alumni yang merasa rindu dengan kampusnya. Terlebih, beberapa alumnus juga mengaku memerlukan sentuhan iklim akademik dari kampus, guna melakukan upgrade keilmuan. “Biasanya sekembali dari kampus, alumnus memperoleh beberapa penyegaran yang langsung dapat diterapkan dalam pekerjaannya,” imbuh Endro.

Ditambahkan oleh Arif Gunawan, alumnus angkatan 1995, bahwa kegiatan Jumatan ini diyakini juga akan mampu memberi peningkatan soft skill bagi mahasiswa. Sementara menurut Edwin Fiatiano, soft skill tersebut merupakan bekal berharga bagi mahasiswa ketika mereka lulus nanti. “Apabila mahasiswa jeli melihatnya, Jumatan ini tidak hanya sekedar ngobrol dan saling berkenalan dengan para alumninya saja,” tandas alumnus Antropologi dari angkatan 1992 yang juga bekerja sebagai staf pengajar UNAIR.

Ke depan, pasca diakuisisi sebagai salah satu program kerja alumni (KELUARGA, red.), Jumatan diharapkan benar-benar mampu memberi nilai lebih bagi stakeholder Antropologi. Menurut Endro, ada banyak hal yang dapat dipelajari bersama dalam agenda Jumatan yang sedianya akan digelar sebulan sekali ini.

Bagi mahasiswa, mereka akan dapat belajar merekam situasi pertemuan tersebut, meski Jumatan itu sendiri berlangsung informal. “Bisa melakukan observasi atmosfer. Melalui minute of meeting yang disusun nanti, mereka akan belajar bagaimana membuat orang yang tidak bisa hadir Jumatan, bisa mengikuti, hingga seolah-olah hadir dalam Jumatan itu. Ini juga sesuai bagi mereka yang mengambil mata kuliah Metode Penelitian Antropologi (MPA),” tutur Endro, salah seorang penggerak bidang dalam kepengurusan KELUARGA.

Ditegaskan oleh Edwin, mahasiswa juga akan dapat membiasakan diri untuk menarik kesimpulan atas sebuah pendapat atau argumentasi. Tentunya itu akan disampaikan dengan berbagai cara dan gaya bahasa. “Dalam etnografi, hal tersebut menjadi penting,” tukas Edwin.

Bagi alumni, Jumatan juga akan mendorong alumnus untuk selalu berpikiran obyektif dan logis. Para alumnus juga diberi kesempatan untuk menyampaikan sesuatu yang diperolehnya dari luar, sebagai seorang praktisi.

Ke depan, tak menutup kemungkinan, Jumatan juga akan mengundang nara sumber atau praktisi lain dari luar. “Beberapa alumnus sudah menyatakan sanggup untuk mengundang koleganya yang kebetulan mampir ke Surabaya, agar bisa menjadi nara sumber dalam ajang Jumatan ini,” demikian pungkas Endro Probo.

[http://antro.fisip.unair.ac.id/berita.antro.php?tl=Jumatan,%20Sebuah%20Dialektika%20%22Khas%22%20Antropologi ]

Aku Ingin Menjadi Staf Redaksi Antropologi UNAIR

Salam Antro ! Jika Anda :

  1. Mahasiswa Antropologi UNAIR,
  2. Memiliki integritas dan loyalitas terhadap Antropologi UNAIR,
  3. Memiliki ketertarikan dalam bidang jurnalistik,
  4. Memiliki keterampilan menulis,
  5. Memiliki keterampilan berkomunikasi,
  6. Inovatif, tangguh, antusias, suka tantangan, dan sanggup bekerja cepat;

Departemen Antropologi UNAIR mengajak untuk bergabung mengembangkan minat & soft skill bersama Redaksi Web Departemen Antropologi UNAIR dan buletin Media Antropologi.

Jika Anda merasa terpanggil dan memenuhi seluruh kualifikasi, kami menunggu kesungguhan Anda dengan menyertakan permohonan yang dilengkapi : NAMA, NIM, Nomor HP yang mudah dihubungi, dan Contoh Tulisan yang dilaporkan sebagai attachment file, dengan ketentuan sebagai berikut.

  • Laporan berupa hasil Reportase Investigasi tentang Kebakaran Kantin FISIP UNAIR. Guna memperkuat hasil laporan, Anda dipersilakan melakukan kegiatan pengujian, penggunaan informan, hingga penelusuran riset (jika diperlukan).
  • Ditulis dan disimpan dalam format ekstensi doc, Font Calibri 11, Page Size A5
  • Tulisan yang dilaporkan harus memuat petikan langsung hasil interview
  • Panjang tulisan maksimal 2 halaman

Tulisan dapat dikirim melalui email ke alamat : unairantro@yahoo.com dengan Subject : Aku Ingin Menjadi Staf Redaksi Antro. Proses seleksi akan ditutup, sesaat setelah Dewan Redaksi memperoleh kandidat yang diharapkan. Dewan Redaksi hanya memanggil peminat yang memenuhi kualifikasi.

Departemen Antropologi UNAIR