Selayang Pandang Jum’atan, edisi tgl. 18 Mei 2012 *

Salam Kerabat,

Alhamdulillah, agenda Jum’atan edisi tgl. 18 Mei 2012 akhirnya terlaksana. Sebab sebelumnya sempat ada keraguan Jum’atan bulan Mei bakalan batal atau sepi. Mengingat Jum’atan Mei ini bersamaan dengan libur panjang plus cuti bersama peringatan Kenaikan Yesus Kristus.

Saya pribadi salut, karena semangat Kekerabatan kita semua masih tetap terjaga. Bagaimana tidak ? Saya datang ke kampus sekitar pukul 21:00 (saya menuju Galeri, karena pagar Museum Etnografi di gembok dan di galeri ada ‘tanda-tanda kehidupan’ hehehe…). Setiba di galeri saya hanya mendapati 2 orang kerabat, kerabat Zakky ’08 dan Icol ’10 (salam kenal dulur hehehe….) yang sibuk dengan komputer jinjingnya masing-masing. Kobaran semangat kekerabatan ini juga di bawa oleh kerabat Ayak ’01, yang sempat datang ke Museum, tapi berhubung pagernya di gembok, ybs memutuskan untuk pulang (untung kerabat Ayak ’01 tdk memutuskan untuk menjebol pagar museum, karena bagi ybs menjebol pagar semudah merobohkan tenda barak hahahahaha…..piss Yak). Yang bikin saya salut dulur, bebepara menit setelah saya ndeprok di galeri, kerabat Ayak ’01 ini sms saya dan bilang kalo ybs mau ke kampus (lagi) atas inisiatifnya sendiri. Bener-bener istimewa energi kerabat yang satu ini. Tidak mengherankan, kalo kerabat Ayak ’01 ini mendapat kepercayaan sebagai kapten timnas tarik tambang Antropologi selama 4 tahun berturut-turut dan memakan korban satu buah tambang putus, hihihihi…..

Kalo ngomong semangat dari Kerabat Antropologi Unair gak bakal ada habisnya, gak ada matinyeee. Untuk itu saya dedikasikan 4 jempol saya untuk KERABAT Antropologi Unair, sekali lagi…..hanya untuk KERABAT Antropologi Unair, bukan yang lain. Grazie…

******

– BAGIAN 1 –

Pada agenda Jum’atan, edisi tgl. 18 Mei 2012 ini memang tidak ada tema spesifik untuk di diskusikan. Tapi bukan berarti tidak ada yang di diskusikan. Pasti ada SESUATU (yang bisa di diskusikan) ☺☺☺…… Diskusi kecil akhirnya terjadi antara saya, Ayak ’01, Zakky ’08 dan Ichy ’09. Peniup peluitnya adalah Ichy ’09. Wacana yang disajikan oleh Ichy ’09 adalah Bubble Brand Culture. Berdasarkan artikel hasil googling yang dibaca Ichy ’09, bubble brand culture ini adalah perkembangan dari fenomena Tribal Culture Cloth. Tribal Culture Cloth menurut artikel hasil googling yang dibaca Ichy ’09 adalah ukuran kenyamanan seseorang dalam mengenakan baju, pakaian atau busana. Kenyamanan ini biasanya dapat diukur dari bahan kain, ukuran baju, harga yang ditawarkan. Masyarakat pendukung tribal culture cloth ini sepertinya mengembalikan lagi fungsi pakaian sebagai kebutuhan primer.

Pada perkembangannya, pola pikir fungsional mengalami pergeseran. Pakaian atau baju yang awalnya berfungsi sebagai penutup tubuh, mengalami ‘penambahan’ fungsi. Saat ini pakaian juga memiliki fungsi sosial yaitu sebagai penanda status sosial (simbol status) dan pembentukan identitas personal maupun komunal. Menurut Zakky ’08, secara umum produsen akan memberikan ‘identitas’ khusus pada barang-barang buatannya, yang bertujuan semata-mata untuk memetakan pasar mereka. Zakky mencotohkan pada produk pembersih muka, Bi*re yang dibedakan berdasarkan gender, Bi*re For Men dan Bi*re For Women. Menurut Zakky, apakah konsumen tahu bahan-bahan yang digunakan pada produk tersebut apakah yang seseuai dengan kulit laki-laki dan kulit perempuan ? Kalo konsumen sudah tahu bahannya, apa efeknya jika Bi*re For Men dipakai perempuan dan sebaliknya ? Konsumen akan cenderung ‘percaya’ bahwa sebuah produk itu untuk mereka ketika sudah dilabeli simbol-simbol sosial. Sabun A untuk dewasa, sabun B untuk anak-anak. Shampo warna ungu untuk rambut rontok, yang warna hijau untuk masalah ketombe. Menurut kerabat Ayak ’01, yang merupakan pemerhati lifestyle and entertainment station, beberapa produsen hijab sengaja menahan peluncuran produknya hanya untuk memetakan selera pasar. Ayak ’01 menambahkan, produsen hijab tersebut terlebih dahulu mempopulerkan produknya dengan membentuk komunitas-komunitas penggemar hijab. Begitu komunitas-komunitas tersebut sudah mulai mapan, anggotanya bertambah dan sudah memiliki cabang di beberapa kota, barulah produsen tersebut memasarkan produknya secara massal. Ehhmmm, istimewa sekali ya dulurs…..

Zakky beranggapan, strategi pemetaan pasar tersebut tidak bisa lepas dari apa yang dinamakan politik identitas yang terjadi antara produsen dan konsumennya. Dari definisi asalnya, menurut Young dalam Komunikasi dan Politik, politik identitas diartikan sebagai mode pengorganisasian yang berkaitan erat dengan gagasan atau ide tentang terjadinya penindasan terhadap kelompok sosial yang berkaitan dengan identitas mereka (ras, etnis, gender, sesksualitas, kelas dll), namun karena banyaknya pilihan identitas yang tersedia, akhirnya menyebabkan seseorang yang memiliki multi-identitas menjadi lebih mudah bila melakukan politisasi. Legitimasi akan kelas politik penting sifatnya karena interpretasi hanya bisa dilakukan oleh pihak yang berkuasa atau memiliki otoritas (Ri2nae Lah: Politik Identitas dan Perang Gaya Baru, browsing).

Ok, kembali ke topik. Terlepas dari adanya pengaruh politik identitas atau tidak, Ichy ’09 berpendapat bahwa kemunculan bubble brand culture di pengaruhi oleh adanya arus globalisasi. Benang merah yang menghubungkan politik identitas dan globalisasi menurut saya adalah adanya krisis identitas global. Menurut Parekh, dalam A New Politics Of Identity: Political Principles For An Interdependent World (2008), globalisasi memang menantang identitas-identitas tradisional suku, budaya, agama atau bahkan identitas nasional. Tantangan itu terjadi karena globalisasi tampak menghapus batas-batas suku, budaya, agama, negara dan batas-batas sosial lain, seperti gender atau orientasi seksual. Di hadapan globalisasi, batas-batas tradisonal yang memisahkan antar suku, budaya, agama dan negara tampak menghilang. Menghadapi tantangan global seperti ini, suku, budaya, agama, negara serta batas sosial yang lain tidak ada pilihan lain kecuali beroperasi di dalam sebuah konteks historis yang baru, mengikuti semua perubahan dan mengambil langkah pemahaman baru termasuk pemahaman atas krisis identitas tradisional yang lama melekat dalam diri anggota masyarakat. Identitas merupakan tema sentral di hadapan globalisasi. Sentralnya tema ini bisa dipahami karena globalisasi membawa efek historis baru yang tak bisa dipungkiri yang sebuah masyarakat global atau lebih khusus lagi sebuah masyarakat multikultural (G. Faimau: Politik Identitas Yang Baru, browsing Google).

Untuk memahami wacana bubble brand culture, Ichy ’09 mencontohkan fenomena sosial yang terjadi yaitu pada pemilihan merek (brand) tertentu yang dilakukan oleh para sosialita di Surabaya. Menurut Ichy, para sosialita tersebut memiliki kecenderungan untuk memilih merek tertentu untuk produk pakaian wanita. Mereknya adalah Mini**l. Alasannya sederhana, merek tersebut memiliki harga yang sangat superrr sekaleee. Konon, yang paling murah harganya Rp 400.000. Dengan menggunakan merek tersebut, para sosialita akan merasakan peningkatan status sosial, meski menurut Ichy, koleksi merek Mini**l para sosialita tersebut bisa dihitung dengan jari. Praktis, merekapun harus menggunakan koleksi bajunya yang cuma beberapa helai itu berkali-kali, karena yang mereka pentingkan adalah sisi prestisnya, bukan kualitas apalagi fungsinya, seperti yang terjadi pada masyarakat pendukung tribal culture cloth.

Tidak ada kesimpulan dalam diskusi ini. Yang bisa kita pelajari dari wacana Bubble Brand Culture ini adalah bagaimana sebuah pola pikir manusia berpengaruh pada cara manusia itu berpakaian. Bahkan dengan pakaian, seseorang maupun sekelompok masyarakat bisa mendapatkan status, nilai, penghargaan bahkan identitas sosial secara personal dan komunal.

Kepustakaan:

Young, Komunikasi dan Politik – – Ri2nae Lah: Politik Identitas dan Perang Gaya Baru, browsing Google, search: konsep+politik identitas

Parekh, Bhiku, 2008, A New Politics Of Identity: Political Principles For An Interdependent World – – G. Faimau: Politik Identitas Yang Baru, browsing Google, search: konsep+politik identitas

Sesuatu sekaliii…

BAGIAN 2 –

Obrolan ringan juga sempat melintas di arena Jum’atan. Kali ini melibatkan hampir semua peserta Jum’atan. Yang kami bicarakan adalah tentang Internal Audio (IA). Menurut informasi dari kerabat Ayak ’01, IA adalah salah satu badan semi otonom (BSO) yang ada di kampus FISIP, UNAIR. Menurut kerabat Ayak ’01, IA muncul pada tahun 1994. Salah satu penggagasnya adalah mas IGAK Satriya, mantan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi angkatan ’94 (?), yang saat ini juga tercatat sebagai staf pengajar di jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip, Unair. Pada prosesnya, IA mengalami berbagai dinamika. Dari yang saya tahu, IA sempat mati suri. Sebab, pada tahun 1998, saya tidak mendengar gaungnya IA. Saat itu IA kalah pamor dengan BSO lain, seperti KINE KLUB, untuk para penggemar film; PUSKA, salah satu BSO-nya teman-teman seniman teater; RETORIKA, BSO yang membidangi jurnalistik kampus; SKI & SKK, yang membidangi kerohanian dan satu lagi LIGA ANTROPOLOGI hehehe… Yang terakhir ini adalah mantan-calon BSO ☺. Disebut mantan-calon karena saat itu sempat ada wacana untuk menjadikan LIGA ANTROPOLOGI sebagai BSO. Tapi dikarenakan minimnya pembahasan, akhirnya keinginan untuk menjadikan LIGA ANTROPOLOGI sebagai satu-satunya BSO yang membidangi olahraga (rencananya bukan cuma sepak bola aja lhooo…) menjadi terlupakan, sampai sekarang (maafkan kami ya dulursss…). Sebenarnya jurusan Antropologi memiliki satu lagi aktivitas kreatif yang juga layak di-BSO-kan. Namanya PALAGA kependekan dari Pecinta ALAm Gaib Antropologi. Sesuai dengan namanya, PALAGA memfokuskan diri pada aktifitas alam dan aktivitas metafisika. Konon, para dukun Antropologi periode 1993 s/d 2003, yang membaiat kerabat baru di Inisiasi/KKA ‘lahir’ dari PALAGA ini. Tapi senasib dengan ‘adiknya’, PALAGA juga belum sempat di-BSO-kan. Bahkan sampai sekarangpun namanya sudah tidak terdengar lagi. Sayang sekali….. 😦

Jika ada kesempatan, kapan-kapan kita ngobrol tentang 2 ekstra kurikuler kebanggaan Antropologi Unair ini dulurs. Tentunya akan lebih mantabzzz lagi jika para pioner masing-masing ekskul juga bisa hadir, mengingat 2 ekstra kurikuler ini memiliki nilai sejarah tersendiri di jurusan ANTROPOLOGI, FISIP, UNAIR. Dan saya yakin adik-adik kerabat di kampus ingin tahu sejarah dan dinamika PALAGA dan LIGA ANTROPOLOGI.

Kok jadi melebar kemana-mana yak ? Sori-sori, saya lagi semangat beromantika nech hehehe…. Kembali ke IA. Sedikit cerita tentang IA, versi saya. Kira-kira tahun 2000, salah satu kerabat kita, almarhum Janardhana Barata, angkatan ’99 (semoga beristirahat dalam damai dulur…), bergabung di kepengurusan IA. Rasa ketertarikan Janar ’99 terhadap dunia broadcasting ternyata dapat menghidupkan kembali ‘urat nadi’ Internal Audio, satu-satunya radio internal di Universitas Airlangga saat itu. Bersama kawan-kawannya di IA, Janar ’99 mengupayakan supaya IA dapat menjadi media komunikasi dan hiburan bagi ‘warga’ Fisip Unair, bukan hanya bagi mahasiswa, tapi juga staf, dosen, pemilik dan penjaga kantin di kampus Fisip Unair.

Pada masa kepengurusan Janar dkk, IA sempat memiliki beberapa penyiar, yang di dominasi kaum hawa. Saya ingat penyiar-penyiar IA ini sambil membawa beberapa kertas kecil dan pulpen, berjalan di sepanjang koridor kantin, mendatangi tempat nongkrong mahasiswa Fisip, temasuk mampir di Goanya kerabat Antropologi hanya untuk menanyakan kita mau request lagu apa, nitip salam kesiapa, salamnya apa ? ”Mas, namanya siapa, mau request lagu apa, kalo lagunya gak ada diganti gak pa-pa ya” atau ”mas, mau nitip salam ke siapa, tulis aja di sini, sekalian tulisin salamnya apa ? ”. Begitu kira-kira aktivitas teman-teman IA dari divisi penyiaran.

Tapi begitu masuk jam 1 siang, saat semua mahasiswa kembali ke kelas untuk kuliah atau sebagian sudah ada yang meninggalkan kampus, sedulur-sedulur Antropologi silih berganti masuk ke studio. Niatnya cuma satu, ngelist lagu kesukaannya sendiri-sendiri. Biasanya yang di list lagu-lagu rock, yeahhh \m/. Kalo lagu-lagunya sudah di list, kerabat Antropologi kembali ke Goa, leyeh-leyeh di kursi panjang dan badugan sambil menikmati sebatang rokok dan tentunya di temani lagu-lagu rock. Aktivitas leyeh-leyeh ini berlangsung sampai menjelang Maghrib dan hampir setiap hari dulurs. Sampai-sampai pak Slamet, penjaga kampus dan pak Agung, bagian perlengkapan sering mengingatkan kami, kalo hari sudah menjelang petang dan kampus harus segera di kunci. ” Gak buyar ta rek ? ” tanya pak Slamet. Atau, ” gak mulih…mulih arek-arek iki ? ” ujar pak Agung saat itu. Wajar jika bapak-bapak tersebut mengingatkan, karena sampai hampir jam 5 sore, cuma kamilah mahasiswa yang masih bertahan di dalam kampus dalam kondisi kolar-koler gak jelas hahaha…..

Kalo tidak salah, sekitar tahun 2002, kerabat Janar ’99 berpulang. Benar dulur, beliau meninggal dunia. Menurut informasi, Janar di diagnosa menderita demam berdarah. ‘Sepeninggal’ kerabat Janar, IA kehilangan semangat untuk tetap eksis. Memang faktanya, Janar dan kawan-kawanlah yang membuat IA kembali dipertimbangkan sebagai salah satu BSO yang potensial untuk menampung minat dan bakat mahasiswa Fisip di dunia broadcasting. Tapi dulurs jangan lupa, Janar adalah salah satu Kerabat Antropologi Unair. Janar tidak akan meninggalkan sesuatu yang dibangunnya tanpa ‘ahli waris’. Tanpa gembar-gembor yang berlebihan, tongkat estafet kepengurusan IA diserahkan kepada kerabatnya sendiri, yaitu Bachtiar Rahman Edi atau yang akrab di panggil Ayak, angkatan 2001.

Sama halnya dengan almarhum Janar, Ayak dkk meneruskan eksistensi IA, bukan hanya sebagai media hiburan (entertainment) saja. Tapi lebih dari itu, Ayak ’01 juga memberikan sentuhan gaya hidup (lifestyle) bagi mahasiswa Fisip melalui media Internal Audio (IA). Tidak mengherankan apabila Ayak sedikit emosi, ketika adik-adik kerabatnya, seperti Zakky ’08, Ichy ’09, Ryan ’10 menginformasikan bahwa saat ini IA gosipnya akan dijadikan sebagai salah satu program hima oleh salah satu jurusan di Fisip. ”Gak iso iku. IA iku BSO. Gak oleh diklaim karo jurusan, opo maneh dadi programe himane. Nek perlu aku tak melok ngomong (sambil mesam-mesem, hehehe)”. Begitulah reaksi Ayak saat itu. Wajar jika Ayak bereaksi seperti itu, karena Ayak adalah salah satu orang di Fisip yang memiliki andil dalam upaya menyelamatkan IA dari mati suri untuk yang kedua kalinya. ”Arek-arek iku gak ngerti sorone ngusungi ampli teko omahku nang kampus. Gak ngerti sorone masang sound system nang kampus”, cetus Ayak masih dengan nada emosi, tapi tetap lucu hehehe…..

Wacana yang berkembang, beberapa kerabat Antropologi sudah berusaha untuk menemui salah satu mahasiswa jurusan yang mengklaim IA sebagai program himanya, untuk membicarakan perihal diaktifkannya kembali Internal Audio (IA). Tindakan ini dilakukan karena kunci studio IA di bawa oleh mahasiswa yang melakukan klaim sepihak tersebut (lhoooo durung ngerti arek iku hihihihi….). Bahkan menurut informasi dari kerabat mahasiswa, perwakilan kerabat Antropologi sudah menemui institusi BEM Fisip untuk memediasi niat baik tersebut. Niat baik beberapa kerabat itu bukan untuk mengambil alih atau mengekspansi IA untuk kepentingan sendiri. Tapi lebih dari itu, untuk memberikan ruang bagi kerabat mahasiswa dan mahasiswa jurusan lain untuk ikut berpartisipasi dan berekspresi di IA.

Kerabat, kalo memang SESUATU itu bernama niat baik, maka tidak ada salahnya untuk diperjuangkan. Dalam prosesnya nanti yang mendapatkan manfaat bukan hanya kita saja, tapi manfaatnya juga bisa dinikmati orang lain. Internal Audio hanya salah satu dari banyak hal yang bisa kerabats optimalkan manfaatnya. Yang penting kita tidak (mudah) menyerah dan tetap mengusahakan yang terbaik untuk diri kita, lingkungan dan orang-orang terkasih……

* BAGIAN 2 ini di dedikasikan untuk (alm) Janardana Barata (1979-2002), Kerabat Antropologi Unair, angkatan 1999. Semoga semangatnya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Amin *

Kerabat, tulisan ini hanya sekedar apresiasi tanpa tendensi. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Mohon maaf juga jika ada kesalahan penulisan nama dan angkatan, juga kesalahan-kesalahan yang lain. Mohon koreksinya. Suwun.

– Damai Di Bumi, Damai Di Hati –

Daftar hadir Jum’atan, edisi tgl. 18 Mei 2012:

1. Iyok ’98
2. Ayak ’01
3. Roikan ’03
4. Kuro ’05
5. Djinggo ’06
6. Bundo ’07
7. Zakky ’08
8. Grandong ’08
9. Ichy ’09
10. Japrok ’09
11. Ryan ’10
12. Icol ’10/’11
13. Faktiawan ’11
14. …..

Ada beberapa muka baru yang saya kurang familiar. Ditambah saya juga (mohan maaf) tidak bisa menghafal nama-nama kerabat baru. Jadi, yang merasa hadir tapi namanya belum tercantum, kalo tidak keberatan absennya yang masih kosong mohon diisi ya….. Suwun maneh.

[Di copy dari FB Grup KELUARGA -Iyok Wic]

Iklan

5 responses to “Selayang Pandang Jum’atan, edisi tgl. 18 Mei 2012 *

  1. terima kasih ulasan tentang Janardana barata. hanya sekedar informasi, janardana berpulang november 2004, 4 november 2004, 14 hari sebelum ultahnya ke 25. jadi bukan tahun 2002. mohon dikoreksi ya tulisannya. thanks

    (Ninik Rofiani. alumni FISIP kom angkatan 98)

    • Satrio Wicaksono

      Trims untuk koreksinya =)

    • Betul dik rofi,sebelum ultahnya.Pukulan yang sangat berat u saya juga( sohib kentelnya) kemana mana berdua…bahkan sebelum masuk univ.airlangga, bahkan sebelum kuliah,kala sma…,semoga almarhum dan almarhumah ibunya mendapat tempat yang layak di sisiNya.amiin… (R. E….Widiyanto Tirtowiyono).

  2. teliti banget Mbak NinIk,, sampai ultahnya hapal ..:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s