Selamatkan Permainan Anak Tradisional

Departemen Antropologi mendapatkan kesempatan mengisi acara “Thanks to Nature” yang diselenggarakan di Taman Flora Surabaya, (1/12) baru lalu. Kali ini, Antropologi Universitas Airlangga memilih tema stan “Permainan Anak Tradisional”. Tema ini sengaja diangkat oleh Himpunan Mahasiswa Antropologi, ketika melihat keadaan permainan anak tradisional, yang kini, terasa sudah tidak memiliki peminat, bahkan telah dilupakan.

Permainan tradisional atau biasa disebut folkgames ini, perlahan terasa mulai terpinggirkan. Bahkan melalui film kartun yang diproduksi oleh Negara tetangga, beberapa permainan anak tradisional terkesan bukan lagi menjadi milik bangsa Indonesia. Melalui tontonan tersebut, anak Indonesia mengenal permainan tersebut sebagai tuntunan yang justru disajikan oleh bangsa lain. Kini, semua anak mulai beralih memainkan gadget-gadget cangih.

Sejalan dengan itu, sebagai dukungan kepada pemerintah Kota Surabaya yang berupaya menjadikan Surabaya sebagai Kota Layak Anak (KLA), maka Departemen Antropologi UNAIR tergerak untuk berpartisipasi. Masyarakat didorong untuk memperkenalkan dan mewariskan permainan rakyatnya kepada anak-anak di lingkungan mereka masing-masing.

Istilah tak kenal, maka tak sayang, memang masih berlaku di sini. Jika kembali dicermati, sebenarnya permainan anak tradisional di Indonesia sangat beragam dan menarik. Contohnya; ada permainan dakon, egrang, yoyo, gasing, pistol-pistolan kayu, layang-layang, holahop, gelembung sabun dan masih banyak lagi. Ada juga beberapa permainan anak tradisional yang harus diakui juga memiliki banyak manfaat. Misalnya, karenanya anak pun menjadi lebih kreatif, berguna bagi pengembangan kecerdasan majemuk anak, hingga bisa digunakan untuk terapi pada anak. Dan yang terpenting, anak menjadi mudah bersosialisasi dengan teman sebaya, sekaligus bangga sebagai pewaris kekayaan budaya bangsanya.

Dibukanya “Permainan Anak Tradisional” oleh Antropologi UNAIR ternyata cukup berhasil menarik animo. Stan itu pun sangat ramai dikunjungi oleh anak-anak yang ternyata juga penasaran dengan keberadaan permainan yang ditampilkan. Bahkan banyak dari mereka yang ternyata tidak mengenal nama-nama permainan tradisional yang dipamerkan.

Mengetahui pengunjungnya mulai kebingungan, dengan sabar mahasiswa Antropologi menjelaskan serta mengajarkan cara permainan tersebut. “Ini begini cara mainnya, Dik”, ujar salah seorang mahasiswi.

Dalam kesempatan itu, panitia juga membagikan permainan secara cuma-cuma. “Iya, agar anak-anak bisa memainkannya di rumah,” tutur salah seorang pengurus Hima Antropologi UNAIR. Ekspresi yang jarang didapat ketika mereka hanya bermain game di depan komputer, terpancar manakala anak-anak mulai memainkan permainan yang diberikan. Tak ayal, saat itu tidak hanya anak-anak saja yang merasa terhibur, para orang tua pun banyak yang mengaku tertarik dan bahkan ada juga yang ikut bermain.

“Sekalian nostalgia,” celetuk para orang tua. Menurut mereka, acara semacam ini harusnya dapat digelar secara rutin. Selain untuk menjaga kebudayaan bangsa, acara semacam ini juga mereka yakini dapat memberikan kebahagiaan bagi keluarga.

Sumber : http://antro.fisip.unair.ac.id/berita.antro.php?tl=Selamatkan%20Permainan%20Anak%20Tradisional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s