Pencurian Jenazah Bayi, Berorientasi pada Pola Pikir Kosmos

Awal bulan lalu,  sumber berita nasional disibukkan  dengan pemberitaan seputar pencurian jenazah bayi  pada tiga tempat pemakaman umum (TPU) di Sidoarjo, Jawa Timur. Kasus yang muncul di sekitar wilayah Sedati ini, kemudian memaksa Polres Sidoarjo untuk membentuk tim khusus, guna menguak kasus pencurian jasad bayi ini.

Pada akhirnya, tim gabungan Polsek Sedati, Lab. Forensik Polda Jatim dan Tim Identifikasi Polres Sidoarjo, setidaknya telah membongkar lima makam di Dusun Bonosari. Seperti yang telah disampaikan oleh situs resmi Kepolisian Resor Sidoarjo, tulang belulang pada keempat makam, sudah tidak ditemukan lagi di liang lahat. Sedangkan satu makam bayi, jasadnya ditemukan masih utuh. Kapolsek Sedati, AKP Dodon Priyambodo menduga, pelaku tidak mencari keuntungan ekonomi. Namun diduga kuat karena berkaitan dengan praktek ritual ilmu hitam.

Sementara menurut Djoko Adi Prasetyo, drs., M.Si., pengajar Kebudayaan Klasik dan Islam Indonesia pada Departemen Antropologi UNAIR, motif dari kasus ini belum jelas. Namun kemungkinan besar bisa dikatakan, bahwa ada penganut ilmu hitam yang bisa ditengarai menggunakan tulang-tulang bayi tersebut untuk kekebalan tubuh.

Dalam perilaku masyarakat, setidaknya ada dua alasan mengapa melakukan hal seperti ini. “Untuk menanggapi kasus ini harus dilakukan penelitian. Di sisi lain, secara irasional, memang ada beberapa hal yang sepertinya tidak bisa dijelaskan secara logika. Misalnya, tentang motif dari ilmu hitam tertentu,” terang Djoko Adi Prasetyo, M.Si.

Dari sisi akademik, hal ini merupakan kasus menarik yang bisa dibuat sebagai salah satu penelitian. Dengan digalinya makam bayi ini, kemudian bisa dicari dan dilihat sebab dari meninggalnya si mayat bayi ini. Bagi ahli forensik, hal itu bisa diketahui dari keberadaan tulang-tulang yang ditemukan di dalam kubur tersebut, meski sudah bercampur dengan tanah.

“Ada salah satu kultur yang berkembang di masyarakat, khususnya dalam budaya mistis yang menurut menurut Cornelis Anthonie Van Peursen, masih banyak pendukung serta penganutnya di masyarakat umum atau sekitar kejadian,” ujar pria yang juga mengajar Etnografi Jawa pada Departemen Antropologi UNAIR ini. Sebelum masuk tahapan teologis dan fungsional, alam pikiran manusia terlebih dahulu masuk pada tahapan mistis.

Dikatakan oleh Djoko Adi, pada tahap budaya mistis, para pendukungnya memang senang berorientasi dan berpola pikir kosmos yang terkadang menunjukkan suatu hal di luar rasional. “Hal ini yang mungkin terjadi pada kasus pembongkaran jenazah bayi ini,” imbuh mantan Wakil Dekan II, FISIP UNAIR ini.

Contoh nyata-nya, bisa dilihat dengan mendapatkan salah satu bagian tulang bayi atau mungkin kain kafan dari jenazah bayi tersebut. Menurut mereka, itu bisa dianggap mampu menambah kekuatan supranatural yang kelak bisa dimiliki oleh si pelaku pembongkaran jasad bayi. (tys)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s