“Sekilas” Jumatan kemarin

Gerimis yang mengguyur kampus Unair dan sekitarnya sejak siang hari tidak menghalangi kehadiran 10 kerabat dalam Jumatan kali ini. Maklumlah, sudah hampir dua bulan Jumatan tidak berlangsung dikarenakan kesibukan dari masing-masing komunitasnya terutama mereka yang biasa organize acara ini. Seperti biasa, tidak ada kata pembuka formal sebagai penanda mulainya sebuah acara. Jumatan adalah fórum informal sebagaimana cangkrukan dan kata pembuka acara tergantung pada siapa yang melempar isu, selanjutnya diskusi mengalir begitu saja.

Topik diskusi yang pertama berawal dari perkenalan seorang teman dari Jurusan Ilmu Politik [bener yo Rul?] yang ikut hadir dalam Jumatan. Seorang teman tersebut berasal dari kota Ponorogo, yang kemudian mengalirlah pembicaraan terkait Kabupaten Ponorogo mulai dari situasi politik saat ini, kemiskinan hingga pada fenomena social budaya yang terdapat di kota tersebut seperti sejarah kerajaan Wengker yang menjadi cikal bakal kota Ponorogo, fenomena konflik antar perguruan silat, keberadaan reog&warok Ponorogo, banyaknya pondok pesantren di wilayah timur Ponorogo hingga pada cerita tertangkapnya Musso –Tokoh pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 di daerah wilayah barat Ponorogo.
Apabila diamati secara seksama ada yang menarik dalam topic diskusi ini yakni titik singgung antara kaum santri dan abangan [jikalau kita menggunakan tipologi masyarakat Jawa menurut Geertz] di Ponorogo. Kaum santri disimbolkan dengan banyaknya keberadaan Pondok Pesantren dan salah satu yang terbesar adalah Gontor yang terletak di wilayah timur kota Ponorogo. Sedangkan komunitas Abangan digambarkan dalam fenomena reog&warok, perguruan silat dan tertangkapnya tokoh PKI di wilayah barat kota Ponorogo. Bagi yang pernah berkunjung ke Ponorogo, akan menemui sebuah sungai bernama Sekayu yang membelah kota Ponorogo menjadi dua wilayah, yaitu timur dan barat, masyarakat Ponorogo lebih sering menyebutnya wetan kali dan kulon kali. sungai Sekayu ternyata tidak hanya memisahkan kota Ponorogo secara geografis namun juga secara social budaya. Penyebutan wetan kali & kulon kali memiliki konsekuensi cultural juga, stereotype yang dimunculkan oleh masyarakat Ponorogo di wetan kali digambarkan sebagai masyarakat yang halus dalam berperilaku sedangkan kulon kali digambarkan sebagai masyarakat yang brangasan [kasar].

Pembicaraan diskusi berikutnya berkaitan dengan cerita dari kerabat Irul 00 yang baru saja menjadi narasumber dalam diskusi Membedah Potensi Migas di Jawa Timur di LPPM UNAIR beberapa saat yag lalu. Irul mengatakan bahwa dia memiliki data lengkap wilayah kerja eksplorasi & exploitasi Kontraktor Karya Kerja Sementara [KKKS] hulu migas Jawa Timur. Data tersebut didapatkannya dari salah satu lembaga geologi yang terdapat di Jakarta. Menurut Irul, banyaknya potensi Migas yang terdapat di wilayah Jawa Timur harusnya memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Sebelum berlakunya UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di Indonesia adalah didasarkan pada Kontrak Bagi Hasil (PSC-Production Sharing Contract). Pada masa itu, berdasarkan UU No 8 Tahun 1971, tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara, Pertamina ditunjuk oleh Pemerintah untuk mewakilinya dalam melakukan kontrak dengan pengusaha migas, yang pada umumnya merupakan perusahaan asing. Artinya, untuk dan atas nama pemerintah, Pertamina melakukan kontrak dengan perusahaan asing dan sekaligus mengawasi pelaksanaan kontrak tersebut. UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi merubah PSC menjadi Kontrak Kerjasama (KKKS). Undang-Undang ini sekaligus mengalihkan pengelolaan kontrak dengan perusahaan pertambangan dari Pertamina kepada Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2002, BPMIGAS merupakan aparat pemerintah. Dalam PSC, Pemerintah (c.q. Pertamina) membagi hasil produksi bersih menurut suatu persentase tertentu. Hasil produksi bersih merupakan selisih antara hasil penjualan produksi migas (lifting) dengan biaya pokok atau biaya operasinya. Nilai produksi bersih yang akan dibagi oleh pemerintah dengan kontraktor migas disebut sebagai Equity to be Split (ETBS). Perhitungan bagi hasil antara pemerintah dengan perusahaan migas itu dilakukan setiap tahun. Pada hakikatnya, biaya operasi yang timbul dalam pelaksanaan kontrak PSC adalah diganti atau ditanggung oleh pemerintah. Kontraktor membayar terlebih dahulu (menalangi) nilai pengeluaran untuk biaya operasi tersebut. Selain menyediakan dana, kontraktor wajib menyediakan teknologi, peralatan dan keahlian yang diperlukan bagi eksplorasi dan eksploitasi migas tersebut dan menanggung semua risiko yang timbul daripadanya. Penggantian biaya operasi oleh Pemerintah tersebut dalam perhitungan bagi hasil disebut sebagai Cost Recovery.

“..Terus kaitanne karo Antro opo?!..” Pertanyaan ini dengan cerdas dilontarkan oleh kerabat Sokran96 dalam merespons tema diskusi diatas. Pertanyaan tersebut terjawab dengan maraknya kasus unjuk rasa di berbagai tempat wilayah kerja explorasi maupun exploitasi hulu Migas di Jatim yang menunjukkan kurangnya sosialisasi dari negara dalam hal ini Badan Pengelola Hulu Migas [BPMigas] atas penerapan UU no. 22 Tahun 2001 tentang Minyak&Gas Bumi yang kemudian dijelaskan dalam PP No. 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Dalam PP tersebut dikatakan bahwa seluruh perusahaan MIGAS baik lokal maupun asing yang beroperasi di wilayah Indonesia merupakan operator kontrak kerja sama yang sepenuhnya dikelola oleh negara melalui BPmigas. Sehingga terkait tuntutan kompensasi ataupun ganti rugi masyarakat yang dirugikan tidak bisa sepenuhnya menuntut kepada pihak perusahaan secara langsung namun melalui mekanisme Cost Recovery yang telah diatur dalam Undang-undang. Dalam bahasa sederhana jawaban atas pertanyaan kerabat Sokran diatas adalah Antropologi memiliki posisi yang strategis dalam mengelola ekspektasi lokal terhadap keberadaan Industri migas. Dengan pemahamannya atas local context & content, Antropologi mampu menjamin social security keberlangsungan operasional suatu perusahaan.

Pembicaraan diskusi membedah potensi migas di Jatim terhenti dengan datangnya konsumsi yang di ”sponsori” oleh kerabat Iyok 98. Seraya makan bersama obrolan dilanjutkan berdasarkan cerita dari kerabat Rombenk 00 atas kesibukannya dalam melakukan pendampingan social mapping masyarakat kawasan pesisir mangrove di Wonorejo Surabaya dalam program Coastal Management [Pengelolaan Kawasan Pesisir]. Menurut Rombenk, Program Coastal Management tersebut secara skema proyek sangat ideal namun sayangnya kurang terintegasi dengan baik antar stakeholder yang melakukan intervensi di wilayah tersebut. Sehingga objective goal yang ingin dicapai dalam program tersebut menjadi jauh dari harapan akibat adanya ego sektoral dari berbagai stakeholder yang terlibat.

Cerita Rombeng tersebut selanjutnya diulas oleh kerabat Tole 96 & Willy 95 sebagai model bias pembangunan sebagaimana yang dijelaskan oleh Robert Chambers. Ada enam bias atau prasangka yang disebut oleh Chambers [1987] sebagai penyebab mengapa kemiskinan di pedesaan menjadi terlupakan: (1) prasangka spasial, (2) prasangka proyek, (3) prasangka kelompok sasaran, (4) prasangka musim kemarau, (5) prasangka diplomatis, dan (6) prasangka profesional. Prasangka-prasangka itu dapat diartikan sebagai metode bagaimana informasi tentang orang miskin itu diperoleh baik para peneliti pedesaan maupun para perencana dan pelaksana pembangunan.

Kemiskinan pedesaan atau orang miskin di desa tidak terlihat di tepi jalan aspal yang mulus dekat kota. Juga tidak akan ditemui pada jalan besar desa atau di pojok desa tempat orang bertemu. Kemiskinan dan orang miskin di desa berada jauh dari jalan-jalan aspal atau jalan utama desa yang tak terlihat oleh peneliti maupun perencana serta pelaksana pembangunan. Karena pengumpulan data tentang desa biasanya berhenti di tempat sepanjang lalan utama desa itu.

Orang-orang yang dihubungi dan didatangi oleh para peneliti dan perencana pembangunan pedesaan adalah bukan miskin di suatu desa. Yang didatangi adalah kepala desa, petani maju, dan lain-lain — tetapi bukan orang miskin. Informasi dari orang-orang ini yang sering dianggap “data” yang penting dalam persiapan bentuk merencanakan suatu proses pembangunan desa.

Logis apabila program pembangunan kemudian “melupakan” si miskin. Di samping adanya prasangka-prasangka tersebut, persepsi “orang luar” (atau para peneliti dan perencana pembangunan) yang keliru terhadap orang miskin menyebabkan persoalan kemiskinan di wilayah terpinggirkan menjadi lebih unperceived. Orang luar selalu melihat bahwa orang miskin itu miskin karena mereka bodoh dan malas. Tetapi data empirik membuktikan, tak mungkin orang miskin itu bodoh dan malas sebab untuk survive justru mereka harus cerdik dan ulet. Chambers memberikan alternatif untuk membuat pembangunan pedesaan lebih berorientasi pada aspirasi kelompok miskin. Alternatif itu adalah mengajak kelompok miskin dalam proses perencanaan.

Topik diskusi terkait pembangunan dan kemiskinan sebagaimana tersebut diatas selanjutnya menjadi semacam refleksi bagi kerabat yang hadir pada acara Jumatan kali ini untuk memberikan semacam masukan kritis kepada pihak Jurusan Antropologi Unair agar semakin inovatif dalam memberikan materi perkuliahan bagi mahasiswa Antropologi Unair ke depannya. Dan akhirnya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 2.00 acara Jumatan malam itu sepakat untuk diakhiri.

Terima kasih untuk kerabat Willy95, Thole96, Sokran96, Iyok98, Irul00, Rombenk00, Amir01 dan Dony03 dan seorang teman lain dari Jurusan Ilmu Politik yang menyempatkan hadir dan sepertinya selalu hadir setiap kali acara Jumatan diselenggarakan meskipun pada Jumatan kali ini diwarnai oleh gerimis hujan..Sampai bertemu pada acara Jumatan berikutnya

*) diunduh dari facebook antropologi airlangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s