Meretas Kebisuan Antropologi Terhadap Kekinian Indonesia

Dunia antropologi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama mendiang Prof. Dr. Koentjaraningrat, M.A. Lelaki kelahiran Yogyakarta 15 Juni 1923 ini memang sudah sangat identik dengan dunia antropologi kita. Padahal kalau ditilik, awalnya almarhum lebih tertarik pada bidang sastra. Ia alumnus Sastra Indonesia dari Universitas Indonesia pada 1952. Tapi minatnya berbelok ke bidang budaya, sehingga sukses menyabet gelar MA pada Yale University, AS, dan pada 19585 dibawah bimbingan Prof. Dr. Elisabeth Allard. Anak Tunggal R.M. Emawan Brotokoesoemo ini menjadi doktor antropologi UI dengan judul disertasi ”Beberapa Methode Antropologi dalam Penyelidikan Masyarakat dan Kebudayaan Indonesia”.

Koen, demikian nama panggilannya, Putera pegawai pamong praja Pakualaman, Yogyakarta ini dikirim ke sekolah khusus yang hanya menerima anak-anak Belanda. Setelah itu ke MULO, lantas ke AMS. Tetapi, ketika ayahnya pindah ke Purwokerto, Koen tetap di Yogyakarta dan berkesempatan meneruskan mempelajari kebudayaan Jawa.

Baru setahun Koen kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, terjadi Revolusi Kemerdekaan. Ia menggabungkan diri dalam Korps Mahasiswa Universitas Gajah Mada. Ia ditugaskan menjadi guru para prajurit yang sedang bertempur mengajar bahasa Inggris dan sejarah. Ia ditempatkan di Brigade 29, Kediri. Setelah perjanjian Renville, 1948, ia kembali kuliah di Universitas Gajah Mada. ”Untung, seandainya saya masih di Kediri, saya nggak hidup lagi”, katanya. Seperti diketahui, Brigade 29 memihak kaum komunis dalam Peristiwa Madiun (1948), yang kemudian dihancurkan oleh pasukan Siliwangi. Koen menikah dengan Kustiani yang dikenalnya sejak di UI, ayah tiga anak yang juga berjasa dalam mendirikan LP3ES.

Koen tertarik pada antropologi sejak menjadi asisten Prof. G.J. Held, guru besar antropologi di Universitas Indonesia yang mengadakan penelitian lapangan di Sumbawa. Tak mau memendam ilmu yang diperolehnya, Koentjaraningrat terus memperkenalkan dan mengembangkan antropologi yang saat itu merupakan ilmu pengetahuan baru di Indonesia. Ia mendirikan Jurusan Antropologi dan mengajar di sana. Ia juga mendirikan jurusan antropologi di berbagai universitas di berbagai daerah Indonesia.

Sembilan tahun sudah doktor antropologi Indonesia pertama itu meninggal dunia. Ia mewariskan pemikirannya dalam berbagai buku dan tulisan yang tak kurang dari 200 judul yang diterbitkan dari majalah-majalah ilmiah di dalam maupun di luar negeri, 22 buah buku dan beberapa buah karangan ilmiah populer untuk surat kabar. Rata-rata buku tersebut menjadi buku pegangan mahasiswa antropologi selama bertahun-tahun, di antaranya Pengantar Antropologi, Keseragaman Aneka Warna Masyarakat Irian Barat (1970), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (1971), Petani Buah-buahan di Selatan Jakarta (1973), Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan (1974), Pengantar Ilmu Antropologi (1979), Masyarakat Desa di Indonesia (1984), Kebudayaan Jawa (1984), Irian Jaya, Membangun Masyarakat Majemuk (1992).

Kepiawaiannya di bidang antropologi seolah belum ada pesaing di eranya. Oleh karena itu, Koentjaraningrat “langganan” menjadi guru besar di banyak kampus, selain Deputi Ketua LIPI. Ia pernah menjadi Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia, kemudian menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Universitas Gadjah Mada, dan juga Guru Besar di Akademi Hukum Militer di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.

Ia juga pernah diundang sebagai guru besar tamu di Universitas Utrecht, Belanda, Universitas Columbia, Universitas Illinois, Universitas Ohio, Universitas Wisconsin, Universitas Malaya, Ecole des Hautes, Etudes en Sciences Sociales di Paris dan Center for South East dan Asian Studies di Kyoto. Ia juga meraih penghargaan ilmiah gelar doctor honoris causa dari Universitas Utrecht, 1976 dan Fukuoka Asian Cultural Price pada tahun 1995. Salah satu mahasiswa bimbingan Prof.Dr. Koentjaraningrat adalah Dr. Nico L. Kana (Alumni UKSW/Mantan Ketua GMKI Cabang Salatiga/Mantan Dosen UKSW, kini Ketua Yayasan Percik-Salatiga).

Antropologi Koentjaraningrat: Antropologi dan Pembangunan di Indonesia

Salah satu diantara perhatian-perhatian khusus dalam antropologi adalah perubahan masyarakat dan kebudayaan dan salah satu diantara berbagai corak perubahan masyarakat dan kebudayaan yang menjadi perhatian antropologi adalah perubahan masyarakat dan kebudayaan yang direncakan melalui program pembangunan.

Pembangunan dapat didefinisikan sebagai serangkaian upaya yang direncanakan dan dilaksanakan oleh pemerintah, badan-badan atau lembagalembaga internasional, nasional atau lokal, yang terwujud dalam bentuk3 bentuk kebijaksanaan, program, atau proyek, yang secara terencana merubah cara-cara hidup atau kebudayaan dari sesuatu masyarakat sehingga warga masyarakat tersebut dapat hidup lebih baik atau lebih sejahtera daripada sebelum adanya pembangunan tersebut (Suparlan, 1995).

Program-program tersebut biasanya terwujud sebagai program-program pembangunan ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang mencakup program-program peningkatan kesejahteraan hidup atau mutu dalam bidangbidang sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, kehidupan keluarga dan kependudukan, pertanian, industri, pasar dan kewiraswastaan, hukum dan hak-hak untuk memperoleh keadilan, keteraturan sosial dan politik, komunikasi dan transportasi, hiburan dan pariwisata, pandangan hidup dan keyakinan keagamaan (ideologi). Koentjaraningrat telah mengidentifikasi masalahmasalah yang tercakup dalam pembangunan di Indonesia, yang dinamakannya Antropologi Terapan, yaitu masalah-masalah (1) penduduk; (2) struktur masyarakat desa; (3) migrasi, transmigrasi dan urbanisasi; (4) integrasi nasional; (5) pendidikan dan modernisasi.

Mengapa harus melibatkan Antropolog atau menggunakan Ilmu Antropologi dalam pembangunan di Indonesia? Antropologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan sosial, yang berbeda dari ilmu-ilmu humaniora (ilmu filsafat atau ilmu sejarah, misalnya) dan dari sains (fisika, kimia dan biologi misalnya), bercorak intelektual dan akademis serta berlandaskan pada metode ilmiah yang universal serta baku dan yang obyektif serta membumi (grounded) yang berpihak pada kemanusiaan.

Keberpihakan pada kemanusiaan yang ada dalam antropologi tidak berarti bahwa antropologi tidak bebas nilai, sebagaimana yang ada dan menjadi ciri dari humaniora seperti yang dikemukakan oleh tokoh sejahrawan Indonesia, Profesor Taufik Abdullah yang berulang kali mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas nilai. Antropologi, sebagai ilmu pengetahuan, terbebas dari nilai-nilai budaya maupun nilai-nilai pribadi yang dipunyai oleh ahli antropologi yang bersangkutan.

Antropologi, sebagai ilmu pengetahuan ytang berisikan konsep-konsep dan teori-teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan makna dari gejalagejala dan hakekat hubungan antara gejala-gejala yang ada dalam kehidupan masyarakat, secara sadar atau tidak sadar banyak ahli dari bidang-bidang ilmu pengetahuan lainnya telah menggunakan konsep-konsep dan teori-teori yang ada dalam antropologi untuk menjelaskan berbagai masalah sosial yang relevan, bahkan pejabat pemerintah dan orang awam juga menggunakannya (contoh: konsep rintangan-rintangan mental dan pembangunan dari Koentjaraningrat yang secara luas diacu dan digunakan dalam masyarakat Indonesia).

Apapun jabatannya dan seperti apa pun peranannya, para ahli antropologi yang bekerja di pemerintahan atau lembaga-lembaga pembangunan internasional atau nasional, yang dapat dinamakan sebagai ahli antropologi pembangunan, melakukan kegiatan-kegiatan kajiannya dengan berprinsip pada metode pengamatan terlibat atau partisipatori yang melakukan kajiannya dari 4 perspektif masyarakat yang dijadikan sasaran pembangunan (Green 1986:1-9; Rhoades 1986:36-66).

Walaupun demikian kajian-kajian antropologi pembangunan mempunyai corak yang berbeda dan kajian antropologi pada umumnya, karena etnografi yang dihasilkan oleh para ahli antropologi pembangunan menekankan pada tema-tema yang relevan dengan masalah utama dalam upaya penerapan teknologi modern (pertanian, kesehatan, pendidikan, politik dan administrasi pemerintahan atau bidang-bidang lainnya).

Beberapa contoh diantaranya, keberhasilan pembangunan pariwisata Bali sampai dengan akhir 1980-an, keberhasilan pembangunan di Wamena dengan pusat kegiatannya adalah pertanian sawah, model transmigrasi dan pemugaran desa (Kampung Development) di Timika dan masih banyak contoh lainnya.

Kebisuan Antropologi

Bagi orang awam, mungkin ilmu Antropologi hanyalah berkutat pada romantisme tradisionalis semata yang menaruh minat pada kearifan nilai luhur. Dan mirisnya, kini sudah tak sesuai pada konteks perkembangan Indonesia ke depan. Sebab secara historis, antropologis sepertinya mempunyai stereotipe sebagai the study of Europeans on non-Europeans, seperti yang diucapkan Jonathan Benthall dalam bukunya yang berjudul Ahmed & Shore yang diterbitkan 1995 lalu.

Paradigma ini seharusnya bisa dipahami. Karena kebanyakan pelaku penelitian antropologi saat itu adalah orang-orang Eropa yang mulai melakukan aneksasi terhadap banyak kepulauan lain di dunia. Paham itu kemudian lanjut berkembang saat kolonialisme merasuki kepulauan nusantara. Objek studi kebanyakan orang Belanda waktu itu kebanyakan adalah mengenai kehidupan suku bangsa di Indonesia. Yang semuanya tentulah terkumpul dalam definisi ”suku-suku primitif” dari sudut pandang Eropa.

Studi S.E. Hartthoorn mengenai kesengsaraan orang Jawa primitif dan Islam bila dibandingkan oleh mereka yang sudah memeluk Nasrani, bisa dijadikan contoh disini. Selain beberapa contoh lain seperti studi mengenai orang Batak yang kanibal oleh Burton dan Friedman, tentang Minahasa oleh Wilken, tentang Toraja oleh Kruyt dan Adriani, tentang Aceh dan Gayo oleh Snouk Hurgronje, tentang Minangkabau oleh de Josselin de Jong, tentang hukum adat oleh van Vollenhoven, tentang Orang Rote oleh James J. Fox, tentang Perempuan Wehali di Atambua-Belu oleh Tom Therik, tentang Dunia Orang Sawu oleh Nico L. Kana, tentang Civil Society di Aras Lokal di Klaten oleh Kutut Suwondo, tentang Kebatinan Jawa oleh Semuel Patty dan banyak lagi yang lainnya. Namun semua itu adalah gambaran pragmatis mengenai kekinian ilmu antropologi milik kita. Sebuah ilmu yang berlatar belakang dari perbedaan antara si Eropa dan bukan. Antara negara maju dan terbelakang.

Sebuah konteks keilmuan yang tak memiliki relevansi dengan semangat nasionalisme kita, yang pada ujungnya kalau terus-terusan diterapkan, malah 5 akan makin memperuncing perbedaan, dan menimbulkan kekecewaankekecewaan, seperti juga yang dialami Bapak antropologi Indonesia, Koentjoroningrat saat bertemu dengan salah seorang peneliti bernama Prof. T.S.G. Moelia, yang masih menganggap ilmu antropologi sebagai ilmu bangsa kolonial tentang ”bangsa-bangsa primitif” yang tak berguna bagi masyarakat Indonesia yang sedang bergerak maju.

Padahal bagi Koen, antropologi adalah sebuah ilmu yang menjanjikan bagi Indonesia. Baik dalam rangka mempelajari masyarakat suku tersebut secara ilmiah, maupun untuk membangun masyarakat Indonesia yang bersatu dan maju.

Catatan Penutup: Relevansi

Ketidakrelevanan terhadap kekinian Indonesia, itulah kata-kata langsung yang bisa menggambarkan masalah antropologi saat ini. Kebisuan ahli-ahli antropologi pada kejadian kerusuhan era 1997-2008. Atau banyak diamnya ahli antropologi kita terhadap fenomena sosial yang ada dimasyarakat saat ini, merupakan bukti-bukti bahwa masih adanya hal–hal tak beres pada ilmu antropologi seperti yang diungkap.

Pertama, menumbuhkan nilai manfaat atau utility yang bisa didapatkan orang terhadap ilmu tersebut. Kemengertian umum terhadap kegunaan ilmu ini akhirnya akan menimbulkan kekuatan atau explanatory terhadap ilmu antropologi.

Kedua, Tolok ukur ini akan terlihat dari parameter seberapa besar sumbangan teori, konsep dan metodologi yang sudah diberikan antropologi dalam menemukan dan memecahkan masalah-masalah sosial baik di Indonesia maupun di dunia umumnya.

Ketiga, yang patut diperhatikan adalah mengenai moral significance yang dimiliki ilmu ini. ”Etika ilmu ini harus dikembalikan ke tujuan awalnya. Untuk kemajuan bangsa”.

*) ditulis oleh Wilson M.A. Therik, mahasiswa Program Doktor Studi Pembangunan UKSW Salatiga, disampaikan dalam Diskusi yang diselenggarakan oleh Kelompok Diskusi Bawah Tangga (BANGGA) – Senat Mahasiswa Fakultas Teologi UKSW, tanggal 21-4-2008.

Diunduh dari scribd.com/doc/6965021/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s