Tragedi yg Menjadi Tradisi…

Judul catatan diatas merupakan ungkapan yang menarik dari seorang Suparto Wijoyo- pengamat hukum lingkungan Unair saat memberikan komentarnya pada sebuah radio swasta atas fenomena meluapnya sungai bengawan solo yang mengakibatkan tergenangnya beberapa kabupaten di wilayah Jatim.

Wawancara ini saya dengarkan sambil terkantuk-kantuk di dalam mobil jemputan di tengah perjalanan pulang kantor kemarin sore. Sambil berpikir, sedikit aq meng-amini pernyataan dari pak Suparto tsb, bahwa banjir yang terjadi akibat meluapnya sungai bengawan solo bukan hanya disebabkan oleh fenomena alam belaka namun telah terjadi kelalaiah secara terstruktur dari pihak pemda dalam mengantisipasi bahaya banjir tersebut.

Sungai bengawan solo bukan menjadi penyebab dari bencana banjir tsb, tetapi sebenarnyalah dia juga telah menjadi korban dari bencana banjir yang terjadi. Karena sungai tsb sudah mengalami sedimentasi akibat penggundulan hutan di sepanjang aliran sungainya. Dan , ironisnya pihak pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah menyadari sepenuhnya akan hal tsb.

Pihak pemerintah ataupun sebagian kalangan yang lain berdalih bahwa banjir bengawan solo merupakan siklus tahunan yang tidak bisa kita tolak kehadirannya. Ada fallacy dari pernyataan tsb, apabila banjir bengawan solo dianggap sebagai siklus tahunan logikanya pihak yang berwenang seharusnya sudah mengambil kebijakan atau tindakan untuk mengantisipasi bahaya banjir yang akan terjadi sehingga dapat meminimalisir dampak korban yang terjadi.

Harusnya pihak pemda melakukan tindakan misalnya, dengan melakukan pembuatan berbagai sudetan di sekitar aliran sungai utk mengurangi terjadinya proses pendangkalan sungai maupun pembuatan regulasi lain yg sekiranya mengurangi kemungkinan banjir yg akan datang.

Kecenderungan yang jamak terjadi pihak pemda akan responsif atas bencana tsb ketika sudah ada korban jiwa dengan mengeluarkan dana taktis dari APBD/N sebagai emergency response, belum lagi berbagai parpol serta para calegnya ikut “turba” melakukan aksi solidaritas untuk korban banjir dengan berbagai aktivitas yang pada ujungnya hanya mencari simpati korban utk mendulang suara dalam rangka pemilu mendatang dan bukan sebagai suatu bentuk rasa keprihatinan yang tulus ikhlas.

Ya, sebuah tragedi telah menjadi suatu tradisi..tradisi untuk menjadi korban, tradisi untuk berbuat lalai, tradisi untuk kemunafikan dan mencari popularitas, serta mungkin juga tradisi hanya untuk menarik budget dana taktis APBD/N setiap tahunnya.

Dan, kembali rakyat kecil kita yang terus menjadi obyek penderitanya.Tidak ada pretensi apapun dari saya pribadi atas fenomena banjir bengawan solo kepada siapapun.  Empati dan simpatiku hanya untuk para korban banjir di sekitar DAS bengawan solo yg setiap tahunnya selalu menjadi korban dari sebuah kelalaian struktur birokrasi….

* Ditulis oleh E. Probo, kerabat Antropologi Unair 1994

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s