Antropolog, Mau ke Mana ?

Antropolog, mau ke mana ? Mungkin demikian pertanyaan singkat bagi para lulusan antropologi yang baru saja melewati sidang skripsi, yang biasanya sekaligus menjadi pertanda kelulusan sang kerabat. Terlebih bagi mereka yang baru saja diwisuda, tentu akan kian membawa sejuta tanda tanya.

Sebaliknya, akan terasa beruntung bagi mereka yang sudah bekerja sesaat sebelum dinyatakan lulus oleh lembaga pendidikan formil. Lembaga tempat dimana kerabat muda harus menimba ilmu dari tangan antropolog senior yang berkiprah sebagai pengajar di kampus.

Jika ditilik, saat ini – kalau saya tidak salah taksir – setidaknya ada 600 lebih kerabat Antropologi Unair yang sudah bergelar alumnus dan sibuk bergaul dengan apa yang biasa disebut sebagai ¨the real world.¨ Karenanya, tentu sudah banyak bidang kerja atau profesi yang terisi – atau bahkan tercipta – oleh kehadiran para antropolog tersebut.

Sudah menjadi perbincangan umum, bahwa apa yang diperoleh semasa kuliah, acapkali masih berada di awang-awang, dan akan menjadi sedikit rikuh ketika coba dipraktekkan ke dalam dunia kerja. Mayoritas, beberapa alumnus terpaksa menerapkan strategi adaptasi tertentu sebagai jurus yang hendak ia tancapkan di lapangan. Ini bukan berarti bahwa jalur pendidikan formil tidaklah penting bagi seorang antropolog, namun juga harus diakui bahwa proses pembelajaran di luar bangku kuliah, malah kerap memberikan pencerahan yang cukup membumi.

Siapa sangka presiden baru Amrik, si Obama yang begitu fenomenal itu, ternyata juga memperoleh pendidikan informil berbasis antropologi ? Ayahnya, berasal dari kultur Afrika yang kental. Ibunya, membawa darah kultur Cherokee, Inggris, Irlandia, dan Jerman. Belum lagi ketika Obama kecil harus menghirup udara Jawa yang cukup dominan di Indonesia. Lebih detil, ternyata ibu Obama juga seorang antropolog. Ann Dunham adalah seorang doktor Antropologi lulusan University of Hawai yang mengambil disertasi berjudul Peasant Blacksmithing in Indonesia: Surviving and Thriving Against All Odds, pada sebuah pusat kerajinan di Yogyakarta.

Ada yang Butuh Jawaban

Kembali pada pertanyaan di atas; Antropolog mau ke mana ? Ada baiknya jika jawaban tersebut, sudah diberikan saat para mahasiswa masih hangat duduk di bangku kuliah. Dampak yang diharapkan, tentu saja agar pertanyaan serupa tak lagi keluar dari mulut para lulusan pendidikan (formil) antropologi.

Jangan tergesa-gesa, jika mungkin langkah ini hanya sengaja ditujukan untuk merubah kurikulum kampus. Kita tahu, untuk merubahnya, butuh analisis tersendiri. Setidaknya, jika pertanyaan sederhana itu berhasil dijawab, ´takkan ada lagi mahasiswa baru antropologi yang buru-buru bermigrasi ke Prodi/Minat studi lain, hanya karena ia belum sempat mengenal keantropologian. Belum sempat mendapat transformasi, tentang apa dan bagaimana sejatinya seorang antropolog itu berkiprah.

Bangun Career Day

So, what ? Untuk mencari jawaban, ada baiknya kita menyimak tentang apa yang biasa dilakukan oleh Departemen Antropologi dari University of Copenhagen. Konon di sono (karena saya sendiri belum pernah ke sana, he he), mereka biasa menggelar semacam career day.

Career day yang dimaksud, bukanlah kegiatan pameran seperti halnya bursa kerja di sini. Melainkan sebuah ajang sharing yang mengajak para alumnus untuk kembali ke kampus. Skemanya, cukup dengan mengundang tiga sampai delapan alumnus yang dipandang kenyang kiprah di dunia kerja. Jika kesulitan, satu hingga tiga alumnus pun, akan cukup bagus untuk sebuah permulaan.

Mereka ini (alumni), kemudian dipertemukan dengan mahasiswa – khususnya mahasiswa baru – untuk menceritakan tentang bagaimana kehidupan di luar kampus. Bertutur tentang bagaimana mempergunakan ilmu antropologi-nya di luar kampus. Menceritakan tentang apa dan bagaimana itu ¨the real world¨, atau bahkan sekaligus membangun transfer of knowledge dari perspektif yang berbeda.

Mungkin hal ini dapat pula dijadikan sebagai salah satu solusi untuk mengeratkan ¨arus¨ komunikasi antara alumni dan kampus. Bahkan bisa juga dijadikan sebagai siasat, agar alumni merasa benar-benar dibutuhkan oleh kampus.

Nantinya, kampus tak hanya terlihat merindukan donasi rupiah alumninya saja, namun pemikiran mereka pun juga akan sangat dinanti curahannya. Diharapkan, karenanya, mahasiswa juga akan turut antusias untuk mendengar mutiara pengetahuan dari para alumnus yang banyak tersebar di luar kampus. Bertemu kerabat, sekaligus berdiskusi akrab tentang the real world.

Dicari; Sebenarnya Kampus itu Butuh Apa ?

Lantas, apa yang dibutuhkan para mahasiswa ? Diantaranya, tentu saja tentang bagaimana caranya – ketika kelak mereka lulus – dapat memberikan keahlian antropologi yang diperoleh di kampus, kepada dunia luar. Dunia yang bisa jadi, kini masih memiliki secuil pemahaman tentang apa itu antropologi.

Dalam mediasi tersebut, alumni bisa berbagi kisah dan pengetahuan mereka tentang bagaimana antropolog berperan di dunia nyata. Misalnya, seorang alumnus bernama Inger Merete Hansen yang mengaku mulai kuliah di University of Copenhagen pada tahun 1966. Di hadapan adik-adik kelas, ia lantas menuturkan pengalamannya bekerja sebagai seorang guru dan konsultan bidang multikultural.

Ada pula alumnus lain, seorang lulusan 1974 mengaku pada masa awal keluar kampus, ia hanya sanggup menemukan lowongan kerja di sebuah museum dengan gaji yang terbilang rendah. Guna membiayai hidup, ia lantas menyambi untuk ngajar di SD yang justeru pada akhirnya sanggup membuatnya jatuh cinta dengan pekerjaannya itu. Dalam karirnya, kemudian ia menyadari bahwa bekal antropologi, memberinya cukup metode dan pandangan yang ternyata vital bagi pekerjaanya. Khususnya saat ia harus berhadapan dengan masalah rasis di sekolah, atau ketika ia harus memikirkan suatu cara untuk menyelamatkan siswa baru (anak pendatang) agar mereka bisa berintegrasi dengan penduduk lokal.

Pada akhirnya, melalui career day, akan terlalu banyak pengalaman alumnus yang bisa dipungut oleh kampus. Misalnya, kampus akan memperoleh pengetahuan dari mereka yang telah bekerja sebagai public relation, produser pada medical supplies, konsultan kualitatif pada agen media, staf HRD, guru, atau aneka profesi lain, yang mungkin akan cukup berkenan di telinga mahasiswa antropologi. Bahkan, jika ada, seorang alumnus yang bekerja sebagai seorang sopir sekalipun, tentu masih dapat menerapkan ilmu antropologinya pada the real world. Kesemua contoh profesi bagi antropolog yang terekspose, kemudian akan dapat disinergikan dengan pengetahuan mahasiswa yang diperoleh selama mereka duduk di bangku kuliah.

Diharapkan, dari sini kemudian akan mulai ada jawaban. Tentang ke mana akan larinya para antropolog muda, ketika mereka lulus nanti.  Kini, setidaknya kita sudah mulai bisa menjawab pertanyaan semisal : Who are you ? What can you do ? What do you want ? What relevant work can you do for us ? dan What relevant work can you do for our customers ? Atau bahkan, jika ada yang bertanya tentang pemecahan sebuah masalah di kantor, seorang antropolog pun sejatinya bisa menjawab seperti ini, “I don’t know the answer to that question, but I do know how to find out.

Antropolog sebagai Pembaharu ?

Terinspirasi oleh kisah yang ditulis oleh Andreas Lloyd, alumnus Antropologi University of Copenhagen yang tesisnya mengulas tentang social software, saya pun sependapat bahwa antropolog, meski belum mendapat jatah kaplingan mewah (real estate), cukup pantas untuk disebut sebagai pembaharu. Microsoft misalnya, jelas-jelas mengakui bahwa antropologi merupakan inspirasi yang kini menjadi penopang penting bagi industri praktis.

Juga disebutkan, bahwa dunia ternyata tak hanya bisa hidup dengan bantuan teknologi. Padahal, saat ini dunia pun seakan sudah menjadikan teknologi sebagai agama baru. Tampaknya banyak kalangan yang mulai sadar, bahwa jika ingin berhasil (menjadi pemenang) di pasar global, mereka juga perlu untuk mempelajari perilaku sosial yang menempel pada para konsumen. Artinya, dunia bisnis mulai merasa perlu untuk segera merangkul antropolog, guna memahami ¨wajah¨ people yang akan mereka bidik. Memahami segala tindakan, pola perilaku, keseharian, atau bahkan ketidakkonsekwenan konsumen mereka.

Diakui, keberhasilan industri-bisnis, pada akhirnya tak hanya akan bergantung pada teknologi. Mereka pun, tampak mulai terdorong untuk memakai analisa dan pengetahuan antropologis. Wawancara ala etnografi misalnya, kini suda banyak digunakan untuk mengumpulkan data penting bagi perusahaan. Para antropolog, dipandang mampu untuk mengintegrasikan perspektif semacam ini guna membantu kalangan industri-bisnis.

Disiplin kualitatif seperti ini kemudian telah dipandang vital, dan antropolog tampaknya harus siap tampil guna mengisi kekosongan tersebut. Mungkin tulisan ini masih terlalu dangkal, namun akan cukup melegakan jika diminum saat kerongkongan mulai kering.
Nah, selamat berjuang…..!! Semoga sukses🙂

* Diilustrasikan oleh kerabat hook 98 untuk mencari jawaban

14 responses to “Antropolog, Mau ke Mana ?

  1. Bravo !! ditengah kecemasan menghadapi “the real world” bisa menghadirkan solusi bagaimana kecemasan mahasiswa antropologi bisa diminimalisir.
    Menurutku, salah satu hal yang juga penting adalah memotivasi para kerabat antro agar punya jiwa enterpreneur. Bekerja sangat tidak identik dengan menjadi pegawai. Mencari kerja juga sama sekali tidak berarti berbondong-bondong melamar kerja di sebuah kantor/ instansi/ perusahaan. Bekerja adalah memanfaatkan segala kekuatan dan potensi yang kita miliki untuk berbuat sesuatu yang memberi manfaat bagi diri kita, keluarga maupun orang lain di lapangan usaha manapun. Dari apa yang kita lakukan itulah kita akan mendapat bayaran dan rejeki, apakah itu berupa uang, status sosial, fasilitas, atau bentuk-bentuk lainnya. Kadang bayaran itu kita peroleh seketika itu, kadang juga butuh waktu (yang bisa kita anggap sebagai salah satu bentuk investasi kita).
    Hanya saja kadang banyak dari kita yang masih terhalang pandangannya oleh gengsi, paradigma yang salah tentang konsep kerja, dan budaya. Janganlah berharap dari antropologi atau apapun saja yang melatarbelakangi kita dan membentuk kita. Semua itu tidak lebih dari sekedar tinta yang memberi warna. Hasil akhir dari lukisan sepenuhnya berada di tangan kita.
    “Berbuat dan bekerjalah, apa saja, maka Tuhan akan menurunkan rejekinya, dan orang-orangpun akan membayar sesuai harga, sekarang atau nanti. Percayalah”

  2. ANTROPOLOG, MAU KEMANA?

    Sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik, namun memang perlu ditanyakan dan mendapat jawaban, sebuah kepastian.

    Yang utama harus dipahami bahwa antropologi memang bukan ilmu praktis seperti ekonomi: manajemen maupun akuntansi, bukan pula seperti psikologi maupun hukum dan seterusnya.

    Antropologi berdiri pada ruang yang berbeda, jauh dari dunia kerja (baca: industri), bahkan bisa dikatakan berada di-awang-awang.
    Namun demikian, kadang kita perlu memiliki dan mengembangkan kemampuan intelektualitas secara luas, bahkan lulusan magister manajemen pun bisa angkat tangan.

    Jadi yang terpenting adalah intelektualitas dan tim work multidisiplin.

    Saya mencoba memberi sedikit gambaran.

    Antropologi pada bidang pekerjaan jasa konsultansi bisnis dan manajemen.

    Antropologi bila dikawinkan dengan ilmu manajemen akan melahirkan sebuah disiplin ilmu baru, yaitu Manajemen Lintas Budaya (Intercultural Management). Sebuah cara pandang terhadap sebuah organisasi bisnis atau industri, melekat dalam tugas seorang Konsultan Manajemen.
    Hal ini berlaku pula untuk bidang pemasaran, riset pasar dan pemasaran internasional.

    Pada bidang Jasa Penyusunan Studi Kelayakan Proyek atau Bisnis, yang merupakan sebuah kajian awal terhadap kelayakan dan profitabilitas rencana pengembangan bisnis bagi sebuah perusahaan: salah satu metodenya adalah mengidentifikasi potensi suatu lokasi dimana proyek itu akan dibangun atau didirikan melalui survei lapangan dan wawancara partisipasi, termasuk studi literatur.
    Dalam hal ini, seorang antropolog bisa masuk, namun perlu memahami disiplin ilmu lain yaitu keuangan, budjeting dan sedikit akuntansi.

    Tarif minimal untuk jasa ini berkisar Rp.30 – 50 juta perorangan, perusahaan konsultan sekitar Rp. 200 – 300 juta.

    Bidang jasa konsultansi lain adalah manajemen strategi. Pahami banyak buku-buku manajemen ditulis oleh antropolog, akses web harvad business school.

    Masih banyak lagi bidang-bidang lain, saya sendiri telah berjalan melewati berbagai sektor industri : perbankan, sekuritas, manajemen aset, penerbangan, bank dunia sampai menjadi konsultan. Dari antropolog menjadi pekerja menjadi wakil pialang, sekretaris perusahaan sampai menjadi direktur pemasaran dan pengembangan bisnis, bahkan ke bank dunia.

    Tetapi yang paling bermakna adalah menjadi entreprenuer: menciptakan sebuah karya dan lapangan kerja. Bukan menjadi pekerja atau pegawai bergaji bulanan.

    Prinsipnya, bangunlah sebuah komitmen pribadi ciptakan sesuatu. Bila tinggal di desa gandenglah BUMDES (Badan Usaha Milik Desa), bila di kota bangunlah tim work multi disiplin ciptakan proyek-proyek berbasis pemmberdayaan masyarakat: banyak dana APBD tidak terserap.

    Selamat berkiprah di dunia nyata: ingat mantan ketua umum partai demokrat adalah antropolog, dan menteri pemberdayaam perempuan juga seorang antropolog.

    Antro’85 tinggal di BSD, Tangerang Selatan

  3. Sekedar masukan, aja.

    Pemisahan diri dan menjadi Fakultas tersendiri. Mengapa Tidak ?

    Hampir seperempat abad program studi ini lahir dan bertumbuh, tahun 1985 – 2009, namun tetap melekat di FISIP dan masih dengan orientasi studi hanya ke bidang-bidang tradisional.

    Ini tentu bukan sekedar stagnasi tetapi lebih merupakan tragedi.

    Oleh karena itu, membuka diri dan mengadaptasi dengan perubahan dunia dan kebutuhan dunia harus menjadi rencana kerja dan sasaran.

    Multak. Harus dilakukan perubahan paradigma dan orientasi, tanpa meningalkan kekhasan keilmuan.

    Ke depan, dalam jangka pendek, perlu dipikirkan (baca: diupayakan) menjadi Fakultas tersendiri dengan mengembangkan program-program studi beorientasi pada dunia usaha dan kajian wilayah, misal:

    1. Antropologi Ekonomi, dengan program kekhususan:
    1.1. Antropologi Manajemen Lintas Budaya
    1.2. Antropologi Bisnis dan Industri
    1.3. Antropologi Korporasi … dst
    2. Kajian Wilayah, dengan program kekhususan:
    2.1. Kajian Wilayah China
    2.2. Kajian Wilayah Jepang
    2.3. Kajian Wilayah Anerika … dll
    3. Dan beberapa program kekhususan lain dalam bidang hukum, politik dan publik.

    Agar tepat sasaran, layak dan diterima di dunia usaha bisa diawali dengan membangun dan mengembangkan “Lembaga Kajian Antropologi Ekonomi” melalui kerjasama dengan Fakultas Ekonomi, kelompok asosiasi (Kadin dll) dan perusahaan-perusahaan yang berada di wilayah Jawa Timur, contoh: Ngoro Industrial Park Pasuruan.

    Kemudian ditindaklanjuti dengan menggarap proyek-proyek komersial, seperti: riset pasar, pengembangan bisnis, produktivitas organisasi dan pekerjaannya … dst.

    Semua ini, harus menjadi tugas para akademisi dan mahasiswa untuk mendorong pengembangan perubahan orientasi program studi ini dengan membuat kajian komprehensif untuk membedah kebutuhan dunia usaha dalam berbagai bidang, antara lain: organisasi perusahaannya, human capitalnya, pemasarannya, pengembangan bisnisnya, hubungan publiknya dsb … dsb.

    Demikian, semoga bermanfaat. Insya allah bisa !

    Chan Ant’85, BSD Citi, Tgr

  4. Gagasan itu aku respect sekali…
    namun sebetulnya itu gagasan sudah lama kalau nggak boleh dibilang Uzur…dan (setahuku) belum pernah terpecahkan,
    karena apa…problematika itu sudah bergulir beberapa tahun yang lalu, dan sekarang tetep aja masih jadi gagasan n muncul di web…

    Kalau gagasan itu sudah terealisasi…nggak perlu muluk-muluk cari contoh dari luar negoro…cukup kondisi kerabat Antro Fisip Unair yang terhormat ini..nasibnya bagaimana dalam mengadaptasikan Ilmu Antropologinya di “the real world” disekitar calon-calon korbannya (baca : kerabat mahasiswa) Antropologi FISIP UNAIR.

    Mas Endro Probo…dengan rajinnya mengirim beberapa peluang pekerjaan melalui email…tapi koq masih ada wacana seperti ini…

    Makanya…akan lebih bermanfaat lagi kalo wacana ini tidak cuma nangkring di web aja..artinya direalisasi..
    dan diagendakan dan dikomunikasikan secara jelas dan terencana…toh media komunikasi (IT) sekarang sangat canggih…kita tinggal pencet keypad atau keyboard…kita bisa terhubung dengan semua alumni (asal data alumninya sahih)…sekarang… mereka lagi gandrung nongkrong di Facebook, Friendster, dll…ini bisa dimanfaatin, kal0 milistnya lagi mati suri..

    Udahlah…go ahead aja…negara ini tidak bisa hanya dibangun dengan gagasan dan wacana saja tanpa ada tindakan yang nyata…

    “Jangan takut belajar antropologi atau menjadi antropolog”…kalimat itu masih terngiang ditelinga saya sampai sekarang, semenjak saya menginjakkan kaki di FISIP UNAIR tahun 1985 dan keluar tahun 1990.

    Salam kerabat antro…
    “NOS” (dukun Antro ’85)

  5. salam antropologi…………
    sebgai seorang kerabat antropologi alumni Antropologi UNHAS, sy sungguh salut dan angkat topi dengan kerabat antopologi UNAIR yg telah berusaha dan terus mberusaha mencari terobosan demi masa depan alumni antropologi…. pertanyaan di atas antropologi mau kemana atau lebih fokus ALUMNI ANTROPOLOGI MAU KEMANA tentunya mengundang 1001 jawaban dan komentar, tapi yang pasti alumni antropologi ataupun para antropologi tetap punya ruang dan kesempatan yg sama dengan alumni jurusan laiinnya……. hanya saja memang sadar atao tdk sadar dibutuhkan kerja keras dan komitmen untuk mengasah kemampuan dalam rangka kompetisi dalam mencari kerja. Sy amat setuju dengan adanya salah satu alternatif solusi yg ditawarkan pada tulisan di atas yakni membangun komitmen dan solidaritas sekaligus soliditas dg sesama kerabat antropologi yg lebih duluan berkontribusi di luar kampus. Melalui komunikasi yg intens antar kerabat antropolog tentunya akan memberi peluang yg besar bagi adik-adik di kampus yg masih menggeluti dunia antropologi. sy sebagai alumni antropologi tetap yakin dan percaya bahwa ilmu antropologi kapan dan dimanapun tetap dibutuhkan…….

    La Maill
    Konsultan Pemberdayaan Masyarakat
    tinggal di Jakarta
    Alumni Universitas Hasanuddin th 96

  6. saya setuju dgn usul dari tulisan ini…. nggak jadul kok…yg penting ada niatan bersama utk menjadi lebih baek

  7. siapppp….antropolog!!!!

  8. boleh donk ikutan numpang,
    antropolog , mau kemana?

    ada beberapa hal perlu kita perhatikan dari pertanyaan tersebut.
    1, antropolog sebagai ilmuan, yg tentunya ia terjun di bidang ilmu antropologi baik di bidang pendidikan atau di bidang lain.
    2, antropolog sebagai alumni, ia ditunjang oleh kemampuan pribadi sebagai seorang sarjana yg mempunyai berbagai pengalaman secara pribadi dibidang organisasi,
    * saya lebih cenderung pilihan yg ke 2, bahwa seorang sarjana atau calon sarjana itu tentunya harus mempunyai kemampuan pribadi di luar bidang yg di pelajarinya, bila ia adalah seorang aktifis di organisasi apapun organisasinya, ia tidak akan terlintas mau kemana setelah lulus?, atau saya harus bekerja di mana? apakah kesarjanaan saya terpakai?, hal ini disebabkan oleh persoalan2 yg sering dihadapainya semasa menjadi aktifis, ia akan memanfaatkan kemampuannya dalam rangka menghadapi masa depannya, dan saya cenderung lebih setuju yg di ungkapkan oleh teman ipung ’86, singkatnya mulailah dari sekarang wahai mahasiswa antropologi untuk aktif di organisasi sebagai sarana untuk belajar menghadapi realitas yg ada, Organisasi Politik, Lembaga Sosial Masyarakat, Lembaga Pendidikan, Kepemudaan, dlll. banyak2lah bersilaturrahmi dengan teman- teman SD sampai PT,
    Trimakasih mudah2an pendapat saya tidak mubadlir, dan bisa bermanfaat. kurang lebihnya mohon maaf.
    chilmi, dari partai HANURA,

  9. tidak ada mubadzirnya jadi lulusan antropologi.. walaupun tidak jadi antropolog maupun dosen antropologi.. bagi alumni perempuannya,jadi ibu rumahtangga juga hebat lho.. apalagi dapat suami tajir.. he..he..he , begini lho.. walaupun tidak ada kesempatan untuk bekerja sesuai keilmuan kita tapi kalau kita mempunyai kemauan untuk menerapkan ilmu kita dalam kehidupan masyarakat di sekeliling kita itu lebih nyata manfaat ilmu yang kita peroleh di bangku kuliah.. tenan to chilmi..

  10. Hi, MIMIK KU SAYANG HEHEHEHEH
    Apa kabar? piro anak-e, sekarang di mana ?

    Betul sebagai ibu rumah tanggapun tidak pernah lepas dari disiplin ilmu antropologi, Mimik Lestari alumni antropologi 86 telah membuktikan bahwa benar-benar ia bisa menjadi ibu rumah tangga. itupun ditunjang oleh aktifnya beliau di organisasi saat masih duduk di bangu SMP s/d Perguruan Tinggi, ya ngaka Mik.
    Ok smoga ini menjadi suatu inspirasi bagi teman mahasiswa dan para alumni.
    Chilmi,

  11. chil, aku pangling awakmu gundul nek dadi anggota legislatif ojo gundul yo..engkuk dikiro preman dpr.. nek takok aku nang sekti ae.. viva antropologi unair..jaya semua alumnine..

  12. salam kekerabatan…………..
    sebagai kerabat antropologi UNHAS saya salut dengan tulisan dari kerabat antropologi UNAIR untuk memberikan gambaran kehidupan akan datang seorang antropolog, tetapi saya yakin pada masa akan datang para antropolog akan berjaya dan tidak akan lagi mengalami kebimbangan “mau ke mana”

  13. salam kekerabatan,
    trims utk atensi yg diberikan oleh kerabat Unhas ataupun kerabat lain yg mulai bergabung di site ini. Terlebih komentar2 yg sudah diberikan oleh kerabat antro unair, utk meramaikan site ini.
    Memang benar, kita semua harus yakin, bahwa di masa yg akan datang, sbgaimana yg dilontarkan oleh kerabat Unhas, bahwa antropolog yg menurut istilah Malaysia-nya, akan berJaya……!!! dan memang benar2 dapat berJaya, mampu menjadi pembaharu di jagad Indonesia, berkontribusi aktif bagi kemakmuran bangsanya….semoga

    salam sejahtera,
    ttp optimis….!!!

  14. kerabat,
    masa depan antro ada pada alumninya…tp yg bs bikin alumninya care ya mhswa n dosen2 d kmpus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s