Lebanon, Kadisha, dan Kahlil Gibran

Sebuah biara di tepi bukit di lembah kadisha. Lembah Kadisha, Lebanon. Di kawasan ini penyair dan filsuf Kahlil Gibran dilahirkan. Di jalan menuju perbukitan dan lembah Kadisha, Lebanon Utara, tepatnya di tikungan kota kecil Hadchit, suatu siang, kami seperti tiba di dunia lain. Puncak Gunung Mar Elias dan Gunung el Mekmel di bentangan Pegunungan Lebanon, berkilauan tertutup salju. Meski demikian, kaki-kakinya masih diselimuti warna hijau pepohonan, dan coklat dinding-dinding batu alam.

Di tikungan lain, terbentang panorama lebih indah dengan bentangan pemandangan lebih luas. Ini membuat kami kagum sekaligus takut di tengah jalanan yang diapit tebing-tebing curam yang dalam. “Coba lihat ke sana,” kata seorang kawan menunjuk jari telunjuknya ke atas, sambil, tersenyum. Astaga! Permainan cahaya bak dari surga. Cahaya matahari menembus awan, jatuh ke permukaan bersalju, memantulkan pelangi yang jatuh ke lembah nan hijau, ke jurang, dan berhenti berkaca di beberapa kelokkan sungai yang tampak hanya selebar 10 cm. Kami berebut mengambil gambar dari balik mobil.

Kawasan Kadisha yang berada di ketinggian 2000 meter dari permukaan laut itu, sejak 1920 dikenal sebagai satu dari lima kawasan White Lebanon (kawasan bermain ski) disamping lima kawasan lain, Zaarour, Kferdebian, Laqlouq, Qanat Bakish, dan Faqra-Kferdebian (Lebanon, The Official Guide, Ministry of Tourism, Paravision). Tapi tampaknya Kadisha masih lebih molek dari kelima kawasan White Lebanon itu, karena memiliki hutan pohon cedar/aras. Hanya Kadisha yang memiliki hutan cedar nan luas. Itu sebabnya Lembah Kadisha juga disebut, Lembah Cedar.

Di musim dingin seperti awal Desember itu, salju tak mampu menutup kehijauan pepohonan cedar, yang dikenal sebagai pohon keabadian karena tetap menghijau di empat musim. Pohon yang bisa hidup ratusan tahun ini, sejak 1350 sebelum Masehi telah menjadi pohon kebanggaan orang-orang Phunisia (nenek moyang Bangsa Lebanon).

Selain kuat, dan berserat indah, kayunya juga menebar wangi, bak kayu cendana. Tak heran bila gelondongan kayu pohon cedar yang bisa memiliki diameter sampai tiga meter lebih itu, menjadi tiang-tiang andalan Istana Salomo, serta rumah-rumah orang kaya di kawasan Timur Tengah, sejak Kekaisaran Mesir . Orang Phunisia sendiri sejak sekitar abad 1100, mengandalkan kayu cedar sebagai kayu utama perahu-perahu mewah yang mereka buat. Alasannya, tahan usia dan cuaca (Illustrated History of The Lebanon, Nayla de Freige & Maria Saad, Messageries du Moyen-Orient).

Maronit

Sampai tepian jurang, kami melihat rumah-rumah penduduk desa dibangun berhimpitan sampai tepi jalan beraspal. Di sela-selanya, muncul menara-menara gedung gereja Katolik Maronit. Bukan cuma gedung gereja, tapi juga biara-biara dan pertapaan para rohaniawan Maronit. Bangunan itu dibuat terintegrasi dengan gua-gua di perut perbukitan.

Kawasan Kadisha memang dikenal sebagai salah satu wilayah umat Maronit di Lebanon. Menurut Patriarch Douaihy (The Maronites, History and Constants, Antoine Khoury Harb, The Maronite Heritage, English Edition 2001), Kaisar Theodosius (378-395) membangun biara, sekitar tahun 375, tahun sebelum Santo Abraham dari Cyrrhus dan para murid Santo Simon Stylites, menyebarkan agama Maronit di sana.

Karena dibangun terintegrasi, bangunan biara dan pertapaan terkesan menyatu dengan alam. Lorong-lorong guanya memberi kehangatan di tengah udara yang menggigil di luar. Beberapa biara di sana antara lain, Biara Santo Antonius dari Qouzhaiya, Biara Martir Lisha, serta Biara Santo Elysium. Sejak akhir abad ke-16, ibadah di biara-biara dan pertapaan itu menggunakan bahasa Suriah.

Ketakjuban kami pada Kadisha membuat kami nyaris lupa tujuan perjalanan kami, ke rumah dan makam merangkap museum Penyair, Filsuf, dan Pelukis Lebanon, Kahlil Gibran, di kota kecil Bsharre, Kadisha (Baca juga tulisan, ”Gibran, Dari Boston ke Bsharre”).

Usai ke rumah kumuh tempat Gibran dilahirkan, kami berlima langsung ke makamnya. Makam bekas bangunan biara para Rahib Karmelit yang dibangun sejak akhir abad ke-17 dan selesai tahun 1862 ini, terdiri dari 16 ruang di tiga lantai, dan berakhir di ruang peristirahatan terakhir Gibran. Masing-masing ruang dan lantai dihubungkan lorong-lorong gua dan tangga-tangga batu naik dan turun.

Ketika kami memasuki lorong ruang ke-III, museum Gibran baru terasa mulai berkisah. Di ruang ini ditempatkan perabot Gibran di studionya di New York dulu. Di ruang ke-IV, tergantung sembilan lukisan Gibran. Begitulah seterusnya ke ruang berikutnya, sampai kami tiba di ruang goa dimana terdapat ceruk, tempat peti jenazah Gibran diletakkan. Ceruk berada di samping sebuah ruang luas dimana ditempatkan perabot ruang tidur Gibran.

Karena cuaca gelap dan kabut tebal mulai mengepung, kami tergesa kembali ke Beirut. Tiga jam perjalanan. Sepanjang jalan, kami masih mempercakapkan keindahan panorama Kadisha, pohon cedar, serta berandai-andai tentang Gibran dan biara-biara tua Maronit.

Dikirim oleh kerabat irul umam 2000

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s