Antropologi yang Bermutu !

Dari dulu sampai sekarang, hanya sedikit universitas di Indonesia yang “berani” membuka departermen/jurusan Antropologi. Itupun semuanya adalah universitas negeri. Padahal di Amerika dan Inggris, semua universitas besar tentu mempunyai departemen antropologi. Mengapa di Inggris dan Amerika, ilmu antropologi lebih laku daripada di Indonesia, padahal di Indonesia ada begitu banyak masalah sosialkultural dan kesuku-bangsaan dibandingkan dengan kedua negara tersebut ?

Di bawah ini adalah daftar nama universitas di Indonesia yang mempunyai departemen antropologi :

1. Universitas Airlangga (UNAIR). 2. Universitas Gadjah Mada (UGM).

3. Universitas Padjadjaran (UNPAD). 4. Universitas Udayana (UNUD).

5. Universitas Indonesia (UI). 6. Universitas Sam Ratulangie (UNSRAT).

7. Universitas Cenderawasih (UNCEN). 8. Universitas Hasanudin (UNHAS).

9. Universitas Sumaterr Utara (USU). 10. Universitas Andalas (UNAND).

11. Universitas Tanjung Pura. 12. Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM).

13. Universitas Malikus Saleh (Lhok Seumawe).

Dari semua departemen antropologi di atas, pada masa kini, sebagian hidup seperti kerakap di atas batu. Hidup segan, mati tak mau. Terakhir terdengar khabar bahwa departemen antropologi USU dan UNSRAT sudah mulai megap-megap, karena kekurangan intake mahasiswa. Secara umum, dalam bahasa populer, dapat dikatakan bahwa departemen antropologi di Indonesia adalah sebuah departemen yang “tidak punya daya jual.”

Kebanyakan calon mahasiswa yang mengikuti UMPTN menempatkan departemen antropologi sebagai pilihan kedua atau ketiga. Melihat keadaan yang demikian, maka tidak merigherankan kalau berbagai universitas, khususnya universitas swasta, eriggan membuka departemen antropologi. Berdasarkan khabar yang datanya belum dapat disediakan, dimana-mana perguruan tinggi di Indonesia, departemen antropologi selalu menduduki posisi kelas 3 diantara berbagai departemen dalam perguruan tinggi tersebut.

Jika hendak tahu persis kedudukan departemen ini, lihatlah peringkat kompetitif departemen tersebut, berapa jumlah calon mahasiswa yang mendaftar dan berapa yang diterima? Berapa nilai rata-rata hasil UMPTN calon mahasiswa antropologi? Berapa jumlah dosen yang doktor dan yang profesor pada departemen antropologi tersebut? (Marzali, 2006). Berdasarkan, tingkat kompetitif , nilai rerata hasil UMPTN calon mahasiswa, atau latar pendidikan dosen, ternyata antropologi masih dinilai lemah.

Mengapa departemen antropologi “tidak punya daya dijual?” Mengapa departemen antropologi hanya menjadi pilihan kedua atau ketiga? Apakah hal ini terjadi karena kesalahan pemerintah atau Depdiknas yang kurang promosi? Apakah hal ini terjadi karena kinerja departemen yang kurang baik?

Mari kita lihat gejala ini dari sudut pandang lain, yaitu cara pandang kewirausahaan, khususnya dunia industri. Tadi kita sudah mulai menggunakan satu frasa kewirausahaan, yaitu “tidak punya daya jual.” Mari kita gunakan frasa ini sebagai titik tolak pembicaraan. Mengapa departemen antropologi tidak punya daya jual?

Jawabnya mudah saja. Karena, barang yang ditawarkannya tidak bermutu. Siapa yang mau membeli barang yang tidak bermutu? Jadi kata kunci dalam usaha meningkatkan departemen antropologi terletak pada peningkatan mutu produknya. Apakah mutu? Apa produk departemen antropologi? Siapa pelanggan departemen antropologi? Kita memerlukan persepsi yang sama terhadap ketiga hal ini. Setelah itu baru kita meningkat bsrbicara tentang hal yang lain.

Departemen Antropologi yang Bermutu

Di bawah ini kembali saya kemukakan di tempat lain (Marzali 2003). Konsep mutu mempunyai pengertian yang relatif. Lain ahli, lain pula bunyi definisinya. Pengertian mengenai mutu berbeda menurut lingkungan, berbeda dari waktu ke waktu, berbeda menurut orang per orang. Mutu berbeda menumt konteks di mana dia dibicarakan.

Mutu adalah sebuah konsep yang sangat kompleks. Kita tidak bisa bicara tentang ‘the quality/ tapi kita harus bicara tentang ‘qualities/ kata ahli manajemen mutu pendidikan tinggi dari Belanda (Vroeijenstijn 1995:14). Bagaimanapun relatifnya definisi dari mutu, namun untuk keperluan praktis kita perlu satu definisi kerja. ISO-9000 mendefinisikan mutu sebagai “… produksi jasa dan barang, yang memenuhi permintaan dan standar, yang telah sama disetujui (Quality is tlie production of services and products, which meet the demand and standards, agreed on)” (dalam Vroeijenstijn 2001:3-4).

Sementara ilu Ellis mengalakan bahwa “Mutu mengacu kepada standar yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan khusus dalam rangka kepuasan pelanggan (Quality refers to the standards tltat must be met to achieve specified purposes to tlie satisfaction of customers)” (Ellis 1993:4).

Dalam dua definisi terakhir ini. terdapat suatu persamaan unsur-unsur dari mutu. Bahwa barang atau jasa yang bermutu adalah yang memenuhi standar yang disetujui bersama, dan sekaligus juga memenuhi permintaan dan kepuasan para pelanggan. Namun demikian kita harus ingat bahwa semua definisi di atas adalah berasal dan berlaku di dunia industri. Tidak mudah untuk menerapkan definisi-definisi di atas ke dalam dunia pendidikan tinggi. Karena, apa yang diproduksi oleh industri adalah berbeda dari yang diproduksi oleh perguruan tinggi.

Apa yang diproduksi Perguruan Tinggi ? Pendidikan secara umum, atau pendidikan tinggi khususnya, adalah berbeda dari industri. Proses produksi dan produk mereka berbeda. Cara kerja mereka memproses sesuatu dari bahan mentah menjadi satu produk tertentu adalah berbeda. Tujuan institusional mereka berbeda. Pelanggan akhir mereka berbeda.

Lalu bagaimana kita harus mendefinisikan produk dalam bidang pendidikan tinggi? Sallis menganjurkan agar kita melihat perguruan tinggi sebagai sebuah institusi yang memproduksi jasa, bukan memproduksi barang. Perguruan tinggi adalah service provider, atau lebih khusus lagi, knowledge provider.

Ada pula orang yang menyebut perguruan tinggi sebagai noble industry. Secara ringkas, di departemen antropologi, yang diproduksi dan dijual adalah ilmu antropologi. Dalam beberapa hal, proses produksi ilmu pengetahuan adalah berbeda dari proses produksi barang. Di bawah ini, mengadaptasi pendapat Sallis, ditunjukkan beberapa perbedaan pokok antara produksi ilmu pengetahuan dan produksi barang.

Pertama, transfer ilmu pengetahuan biasanya adalah melibatkan kontak langsung antara provider dan end-users. Ilmu pengetahuan diberikan langsung dari orang ke orang. Ilmu antropologi langsung diberikan oleh dosen-dosen departemen antropologi kepada mahasiswa antropologi. Mahasiswa tidak membelinya di toko grosir atau di supermarket. Kompetensikompetensi yang mereka peroleh dari departemen antropologi pada gilirannnya akan mereka gunakan di tempat kerja mereka.

Kedua, ilmu pengetahuan hams dideliver tepat waktu. Interaksi personal yang dekat pada transfer ilmu pengetahuan memberi kemungkinan untuk mendapatkan umpanbalik dan evaluasi dari mahasiswa sebagai pelanggan utama. Dan ini memberikan peluang penting untuk mengetahui secara langsung apakah mahasiswa terpuaskan oleh pemberian ilmu pengetahuan tersebut.

Ilmu antropologi langsung diberikan oleh dosen-dosen departemen antropologi kepada mahasiswa di kelas, ruang seminar, atau di lapangan penelitian. Setelah kuliah, mahasiswa langsung dapat menilai apakah “ilmu yang dibelinya” memang berguna, sudah memenuhi standar, dan memuaskan. Ketiga, tidak seperti produk barang, sebuah ilmu pengetahuan tidak bisa diserpis atau diubah. Ilmu pengetahuan tidak bisa direparasi.

Ilmu yang dijual dosen antropologi adalah apa yang mereka berikan langsurjg. Kalau ilmu itu “murahan” atau sudah kedaluwarsa, tidak bisa dibetulkan lagi. Itulah dia apa adanya. Karena itu standar ilmu pengetahan harus ditentukan begitu dia diberikan. Keempat, ilmu pengetahuan adalah nir-benda dan nir-bentuk. Ilmu pengetahuan adalah tentang proses, bukan tentang benda. Ilmu antropologi ada pada apa yang diucapkan dalam seminar atau di ruang kelas, apa yang ditulis dalam buku, dan apa yang dipraktekkan para ahli dan lulusannya. Kelima, ilmu pengetahuan biasanya diberikan langsung oleh lini terdepan (dosen dan asisten dosen) kepada mahasiswa. Para perencana program studi biasanya berada tersembunyi di belakang.

Keenam, terakhir, sukar untuk mengukur keberhasilan output dan produktivitas dari ilmu pengetahuan. Unsur yang paling befaili bagi kepuasan mahasiswa dan pasar tenaga kerja adalahindikator penampilan dan kinerja dosen (performance indicator). Siapa Pelanggan Perguruan Tinggi ? Jika mutu adalah suatu pencapaian untuk memenuhi standar dan permintaan pelanggan, siapakah pelanggan pendidikan tinggi?

Siapakah pelanggan departemen antropologi? Kepada siapakah ilmu antropologi itu dijual oleh departemen antropologi? Siapakah pengguna ilmu antropologi? Mungkin istilah pelanggan terlalu bernuansa industri. Sebagian orang lebih suka menggunakan istilah stakeholder. Terserah anda mau menggunakan istilah yang mana. Untuk keperluan praktis di sini digunakan istilah pelanggan. Pelanggan dari sebuah perguruan tinggi ada banyak.

Diperlihatkan, penggolongan semua pelanggan dari sebuah perguruan tinggi, tidak bersifat mutlak dan tergantung dari keperluannya. Misalnya, mahasiswa digolongkan sebagai pelanggan eksternal, namun dalam konteks keperluan lain ada ahli yang menggolongkan mahasiswa sebagai pelanggan internal.

Karena pelanggan adalah banyak dan bermacam-macam, dan setiap kelompok pelanggan memiliki standar, harapan dan kepuasan yang berbeda atas apa yang diproduksi dan dijual oleh departemen antropologi, maka mutu adalah satu masalah negosiasi antara berbagai kelompok pelanggan tersebut. Sebuah departemen antropologi yang baik harus berupaya untuk merekonsiliasikan permintaan semua golongan pelanggan tersebut.

Sedapat mungkin harapart para pelanggan tersebut harus dituangkan ke dalam visi, misi, tujuan, norma dan standar program studi sebuah departemen antropologi. Meskipun pelanggan sebuah departemen antropologi adalah bermacam-macam, namun kebijakan prioritas perlu ditetapkan. Prioritas harus diberikan terlebih dahulu kepada kepenongan pelanggan luar dibanding pelanggan dalam. Ini adalah hukum besi dalam dunia industri. Seterusnya, di antara pelanggan luar, pusat perhatian harus diberikan secara khusus kepada kepentingan dan keperluan mahasiswa.

Mahasiswa adalah pelanggan luar yang utama dari sebuah perguruan tinggi. Untuk kepentingan pendidikan mahasiswa-lah mengapa sebuah departemen antropologi dibuka. Ini perlu diingat betul-betul. Pada masa kini, di belakang mahasiswa ini berdiri pasar tenaga kerja. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa mahasiswa adalah mewakili permintaan pasar tenaga kerja terhadap sebuah departemen antropologi. Hal ini perlu diperhatikan oleh setiap pengelola departemen antropologi.

Departemen antropologi perlu paham tentang karakter dunia kerja di daerah atau propinsi dimana departemen tersebut berada. Karakter dunia tenaga kerja di Bali adalah berbeda dengan yang di Sumatera Utara, berbeda lagi dengan yang di Jawa Timur, dst. Karakteristik dunia kerja di daerah ini perlu diperhitungkan ketika menyusun rencana pengembangan departemen antropologi di daerah tersebut. Setelah itu baru perhatian diberikan kepada pelanggan dalam.

Pelanggan dalam yang utama adalah dosen, khususnya kelompok dosen yang terlibat dalam proses produksi dan pengembangan ilmu antropologi, yang secara institusional terorganisasi dalam sebuah departemen atau program studi. Mereka adalah provider utama dari ilmu antropologi yang dijual kepada mahasiswa, dan masyarakat secara umum. Sebagai provider, produsen dan pengembang ilmu antropologi, seberapa jauh mereka mampu mengadaptasikan pengembangan ilmu antropologi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja di daerah mereka? Seberapa jauh mereka memantau dan mengikuti perkembangan ilmu antropologi di tempat-tempat lain, khususnya di pusat-pusat perkembangan ilmu antropologi di Eropa dan Amerika ? Ini adalah tantangan utama bagi para dosen antropologi tersebut.

Mutu dan Pelanggan Antropologi

Sekarang mari kita lihat kembali beberapa butir inti kesimpulan dari uraian di atas.
1) Departemen antropologi adalah sebuah institusi pendidikan yang memproduksi dan menjual jasa/ yaitu ilmu antropologi.
2) Ilmu antropologi yang bermutu adalah ilmu yang memenuhi permintaan, kepuasan dan standar para pelanggan.
3) Mahasiswa adalah pelanggan luar yang utama dari sebuah departemen antropologi. Di belakang mahasiswa berdiri pasar/tenaga kerja.
4) Pelanggan dalam yang utama adalah kelompok

Dosen yang terlibat dalam proses produksi dan pengembangan ilmu antropologi, yang terorganisasi di dalam sebuah departemen. Berdasarkan atas butir-butir kesimpulan di atas dapat ditarik satu garis umum tentang departemen antropologi yang bermutu.

Departemen antropologi yang bermutu adalah departemen yang meniproduksi dan menjual ilmu antropologi sesuai dengan permintaan, kepuasan dan standar kelompok mahasiswa (pasar tenaga kerja) dan kelompok dosen departemen tersebut. Kedua kelompok pelanggan inilah yang terutama berkepentingan dengan mutu ilmu antropologi yang diproduksi dan dijual oleh sebuah departemen antropologi.

Kelompok mahasiswa terutama berkepentingan untuk memperoleh kompetensi yang berguna bagi pencerahan pemikiran dan pengembangan karir pekerjaan. Kelompok dosen terutama berkepentingan untuk mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu antropologi.

Kedua kepentingan ini harus dijembatani dalam satu rumusan kebijakan yang arif dan operasional. Kepentingan kelompok yang satu tidak boleh mengorbankan kepentingan kelompok yang lain. Namun demikian, sebagaimana sudah diperlihatkan di atas, kedua kelompok pelanggan ini tidaklah steril pada dirinya sendiri. Mahasiswa dapat dikatakan sebagai wakil dari pasar tenaga kerja. Kemudian, masih ada kelompok-kelompok pelanggan penting lain yang perlu diperhitungkan dalam rangka mencapai mutu pendidikan tinggi, seperti institusi pergiiruan tinggi itu sendiri (yang diwakili oleh Pimpinan Eksekutif, Senat Akademik Universitas, dan Majelis Wali Amanah), orang tua dan pemerintah sebagai pemikul dana utama pendidikan.

Kelompok alumni diperlukan urtuk mendatkan umpan baiik tentang kegunaan ilmu antropologi di masyarakat dan tentang kepuasan masyarakat terhadap ilmu antropologi. Setiap kelompok pelanggan ini mempunyai standar, permintaan, dan kepuasan tersendiri atas ilmu antropologi yang diproduksi dan dijual oleh sebuah departemen antropologi. Jika sebuah departemen antropologi memperhatikan dan memenuhi permintaan, kepuasan, dan standar kelompok-kelompok pelanggan ini, maka departemen tersebut dapat dikatakan sudah bermutu.

Namun demikian, ini baru penjelasan pada tahap pertama, sekedar membuat persoalan menjadi jelas. Pertanyaan yang langsung menunggu setelah ini adalah: bagaimana caranya agar sebuah departemen antropologi dapat memenuhi permintaan, kepuasan, dan standar para kelompok pelanggan tersebut? Ini bukanlah satu tugas yang mudah.

Namun, jika anda semua memang sudah meletakkan komitmen pada departemen antropologi, maka tugas ini mau tidak mau harus anda tanggulangi bersama. Saya tidak akan pergi terlalu jauh. Saya hanya ingin mengatakan bahwa tugas pertama setelah ini adaiah penyusunan sebuah kajian evaluasi diri terhadap depertemen antropologi anda. Kenali departemen anda. Kenali diri anda. Lakukan kajian SWOT (analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamanancaman) yang dipunyai departemen anda. Setelah itu, barulah disusun perencanaan untuk departemen: rencana jangka panjang, jangka menengah, dan pendek. Dalam perencanaan, tentu saja sudah dirumuskan tujuan, norma, dan standar.

Untuk memudahkan pekerjaan di atas, dan agar pekerjaan di atas dapat dilakukan secara benar dan sistematik, saya menganjurkan agar setiap departemen antropologi di Indonesia mengikuti prosedur akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN-PT) secara benar, jujur, dan patuh. Sekali lagi saya ulangi, ikutilah prosedur ini secara benar, jujur, dan patuh. Ikutilah prosedur yang telah ditetapkan oleh BAN-PT dengan sabar, meski untuk itu anda harus bekerja keras, dan kadang-kadang penuh frustrasi. Karena, ketentuan-ketentuan yang telah digariskan BAN-PT adalah standar minimal dari sebuah departemen/ program studi yang bermutu di Indonesia. Makin anda mudah mengikuti prosedur akreditasi BAN-PT secara benar, jujur, dan patuh, maka makin anda mendekati kondisi standar minimal dari sebuah departemen/program studi yang bermutu. Makin anda susah mengikutinya, makin ketahuan jauhnya kondisi departemen antropologi yang bermutu dari diri anda.

Selanjutnya, sebaiknya proses akreditasi ini diikuti dengan tujuan bukan sekedar untuk memperoleh akreditasi saja, yaitu tujuan yang bersifat semasa. Tapi diikuti dengan tekad untuk selamalamanya memenuhi prosedur yang digariskan oleh BAN-PT. Prosedur tersebut sebaiknya dijadikan bagian dari kinerja sehafi-hari organisasi departemen antropologi.

Dengan kepatuhan yang seperti ini maka mutu yang dicapai akan dapat bersifat lestari, atau sustainable. Satu paradigma mutu yang benar pada masa kini adalah apa yang disebut sebagai continuous quality improvement, yaitu penyempurnaan mutu akademik secara berkesinambungan.

Untuk mengetahui apakah suatu departemen antropologi sudah bermutu dan menjalankan manajemen mutu ssecara berkesinambungan, maka departemen tersebut dapat mengajufcan diri untuk ikut berlomba dalam Program Hibah Kompetisi (PHK) dari Dikti, khususnya program tipe A dan B. Apabila satu departemen berhasil mendapatkan salah satu dari PHK tersebut, maka departemen tersebut boleh berbangga diri tentang pencapaian mutu akademiknya.

* Ditulis oleh Amri Marzali, seorang Profesor Antropologi

Diunduh dari http://www.fisip.ui.ac.id/

2 responses to “Antropologi yang Bermutu !

  1. ASS……

    PROF…..BISA NG CANTUMKAN PENGERTIAN ANTROPOLOGI……

    DI JAWAB IYAH PROF…

    KALAU BISA 10 DEFINISIX SEKALIAN DENGAN PARA AHLIX …

    MAKASIH……………..MAHASISWA…..UNTAD

  2. ehhh…..

    satu lagi nich prof….

    ada ng yang melatar belakangi di lakukan penelitian
    antropologi…..

    kalau bisa jawabannya…dikirin ke em@il saia ajha prof…….

    makasih banyak…..di rungguh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s