Wacana Refleksi Agama Menuju Postmodernisme : Kasus Sekte Pondok Nabi

Dalam diferensiasi dan heterogenitas budaya Indonesia yang terjadi sekarang ini yaitu adanya banyak sekte (aliran suatu agama), boleh jadi memaksa para aktor sosial dan kelompok-kelompok sosial masuk ke dalam kesadaran refleksi diri yang lebih besar dan penyelidikan kritis kebhinekaan dan masalah-masalah sistem keyakinan mereka sendiri.

Turisme, variasi budaya, multikulturalisme dan erosi kedaulatan negara-bangsa semuanya membawa kelompok-kelompok sosial dalam proses globalisasi ke dalam kesadaran diri atas relativitas sistem-sistem keyakinan mereka sendiri. Agar dapat memahami bagaimana berfungsinya sebuah ideologi dominan, kita perlu menguji bagaimana beroperasinya keyakinan dan perspektif ideologis mengenai segala aktivitas keyakinan terhadap kehidupannya sehari-hari. Lebih jauh, keyakinan sosial suatu agama atau jenis politik ditopang ketika dunia sehari-hari mempunyai konvergensi dengan sistem spekulasi abstrak.

Oleh karenanya bahwa erosi keyakinan melalui postmodernisasi budaya harus dipahami sehubungan dengan bagaimana keberagaman komoditi dan watak globalnya mentransformasikan, dalam model yang tertutup dan tak langsung terhadap keyakinan sehari-hari massa penduduk. Karena alasan inilah dapat berargumen melalui sosiologi pengetahuan, bahwa kehadiran bentuk-bentuk konsumerisme dan hedonisme mempunyai dampak yang jauh lebih serius terhadap sifat keyakinan agama tradisional, di tingkat desa misalnya, ketimbang keyakinan intelektul para pemimpin agama dan kaum elite intelektual lainnya di Gereja atau di Masjid.

Namun demikian, pada agama-agama yang lebih mistis dan beberapa sekte Kristiani yang ekstrim seperti yang terjadi baru-baru saja ini yang menamakan diri sebagai Sekte Pondok Nabi di Bandung yang dipimpin oleh Pendeta Mangapin Sibuea yang mengatakan bahwa pada tanggal 10 November 2003 akan terjadi hari Kiamat. Pernyataan tersebut punya arti penting yang lebih besar berupa pengalaman keagamaan daripada prakteknya. Pada Kristen modern nampaknya memberikan lebih sedikit penekanan pada pengalaman keagamaan dan lebih banyak pada pengetahuan keagamaan.

Sehingga jika kita perhatikan agama-agama di dunia, nyata bahwa pembahasan terinci tentang ekspresi agama sangat bervariasi, agama-agama yang berbeda diasumsikan memiliki perbedaan pula dalam kepenganutannya. Misalnya dalam hal kecil, penganut Katolik diharapkan ikut serta secara teratur dalam sakramen Katolik dan Persekutuan Suci, tetapi bagi pemeluk agama Islam hal itu terasa asing. Demikian pula kewajiban setiap Muslim untuk pergi ke Mekkah, paling tidak sekali dalan hidupnya, juga asing bagi penganut agama lain.

Orang Hindu pantang makan daging sapi, penganut agama Islam dan Yahudi mengharamkan daging babi, Protestan berpantang alkohol dan hingga sekarang penganut Katolik tidak makan daging sapi pada hari Jum’at. Nampak bahwa variasi-variasi ini bersifat mendasar dan dapat pula dikatakan bahwa variasi itu malahan amat terinci.
Di luar perbedaan-perbedaan yang bersifat khusus dalam keyakinan dan praktek tersebut, nampaknya terdapat konsensus umum dalam semua agama dimana keberagamaan itu diungkapkan.

Adapun menurut Stark dan Glock, bahwa konsensus umum ini menciptakan seperangkat dimensi berupa 5 dimensi inti dari keberagamaan itu, diantaranya: (1) Dimensi Keyakinan. Dimensi ini berisikan pengharapan-pengharapan dimana orang yang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dengan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Walaupun demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu bervariasi tidak hanya diantara agama-agama tetapi seringkali juga diantara tradisi-tradisi dalam agama yang sama. (2) Dimensi praktek agama. Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukan komitmen terhadap agama yang dianutnya, terdiri dari ritual yang pada seperangkat ritus berupa tindakan keagamaan formal dan praktek-praktek suci yang semua agama mengharapkan para penganutnya melaksanakannya, contohnya kebaktian di Gereja, persekutuan suci, pembaptisan dan perkawinan dan ketaatan yang bisa berupa sembahyang/sholat, membaca Injil atau Al-Qur’an dan menyanyi himne bersama-sama. (3) Dimensi pengalaman.

Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subyektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir (mendapat kontak dengan perantara supernatural). (4) Dimensi pengetahuan agama. Dimensi ini mengacu pada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. (5) Dimensi konsekuensi.

Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktek, pengalaman dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Dan konsekuensi ini di tiap komitmen agama berlainan. Maka dari itu, kita perlu suatu ketegasan secara komunal yang dapat diambil dari salah satu hukum agama yang tertulis yang terdapat di dalam kitab agama masing-masing, untuk mengantisipasi hal-hal yang dapat menjerumuskan kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu, aspek-aspek prinsipil dari kehidupan bermasyarakat yang kolektif ini dapat bekerja apabila dilihat dari aspek kehidupan keagamaan, jelas bahwa kehidupan agama adalah bentuk yang menonjol dan merupakan ungkapan sentral dari keseluruhan kehidupan kolektif. Apabila agama telah melahirkan banyak unsur yang esensial dalam masyarakat, maka agama adalah kesatuan lembaga dan praktek yang menjelmakan atau memfokuskan respon-respon pribadi kepada Tuhan, dan agama juga sebagai pemujaan sosial yang membungkus kesalehan.

Pembungkusan ini bersifat parsial dan variabel, bahwa kesalehan para wakil yang kebetulan termasuk komunitas agama itu mungkin cukup beragam. Demikian pula, kesalehan tak bias direduksi ke etika atau ke “penerimaan yang bersemangat atas mite dan ritual”. Kesalehan, kesadaran individu dan respon pribadi kepada Tuhan, ini ada dengan “banyak cara tapi bagian kecil dari agama”, tetap inilah intinya.

Kesalehan kemudian dibahas sebagai inti agama yang kreatif dan pada akhirnya tidak bisa direduksi. Agama adalah kesunyian zahir yang kesalehan dan kesadaran inti dan batinnya tidak bisa diterangkan secara sosiologis. Implikasi skema ini bahwa semakin dekat orang menyeret ke lingkaran batin kepercayaan, maka semakin jauhlah ia menarik diri dari kekuatan-kekuatan sosiologis. Pada akhirnya semua kepercayaan bersifat perorangan .…”Kita adalah terutama makhluk manusia dan hanya secara sekunder berpartisipasi dalam tradisi ini dan itu”.

Sehingga kesalehan, kepercayaan dan kesadaran bersifat perorangan yang memiliki integritas yang tidak di kotori oleh faktor-faktor sosiologis. Ide bahwa perilaku moral harus berdasarkan wahyu Tuhan itu bisa dianggap umum pada seluruh agama, khususnya Islam dan Kristiani. Tapi dibalik unsur-unsur dangkal umum ini terletak perbedaan-perbedaan yang amat besar dalam teologi, yang berhubungan dengan tantangan moral Al Qur’an dan sifat penebusan dosa Kristiani sebagai komunitas sakramental.

Kristiani dan Islam harus dibahas sebagai struktur-struktur independen dan sampai tingkat tertentu tak terdamaikan yang memberi tekanan berbeda pada jarak unsur-unsur agama di dalamnya. Menurut Hodgson, kesalehan secara harfiah merupakan cahaya batin yang menghidupkan bentuk-bentuk zahir agama. Sehingga dia memberikan penafsiran atas hubungan antara kepercayaan-agama dan individu-masyarakat. Hal ini karena roh masyarakat adalah agama. Sebab kekuatan agama adalah kekuatan manusia berupa kekuatan moral.

Selain itu dari semua agama yang ada dapat dikatakan bahwa teologi atau kepercayaan keagamaan adalah jantungnya keyakinan. Teologi terdapat di dalam seperangkat kepercayaan mengenai kenyataan Hari Akhir (Kiamat), mengenai alam dan kehendak-kehendak supernatural sehingga aspek-aspek lain dalam agama menjadi koheren.

Seperti yang diungkapkan oleh Emile Durkheim bahwa, memang benar oleh karena adanya sentimen kolektif dapat mendorong kesadaran warga masyarakat dengan cara mendekatkan diri mereka pada obyek di luar diri mereka yakni kekuatan-kekuatan keagamaan yang tidak bisa terbentuk tanpa mengadopsi beberapa dari karakteristik dari hal-hal yang lain. Kekuatan agama bahkan dapat menjelma menjadi semacam unsur fisik, dalam hal ini agama akan berpadu dengan kehidupan material, kemudian dianggap mempunyai kemampuan menjelaskan apa yang terjadi. Dalam kenyataan unsur-unsur esensial yang membentuk sentimen kolektif ini di peroleh melalui pemahaman. Biasanya nampak bahwa kekuatan-kekuatan agama itu hanya memiliki karakter manusia apabila kekuatan-kekuatan itu di mengerti dari segi manusianya. Hanya dengan melihat agama dari segi ini kita bisa melihat maknanya yang nyata.

Jika kita lihat dari penampilannya, ritual suatu agama seringkali memberi efek kerja yang sepenuhnya manual, seperti misalnya memberi minyak suci pada barang-barang yang dianggap keramat atau minum anggur pada perjamuan Hari Paskah pada agama Kristiani. Jadi dapat dipahami bahwa teknik-teknik agama nampaknya merupakan semacam mekanisme mistis. Tetapi manuver material ini hanya kulit luarnya saja, sedangkan didalamnya tersembunyi proses mental. Sebab ritual bukanlah tambahan pilihan yang bagaimanapun juga bisa digabungkan dengan kesadaran.

Tanpa ritual, sakramen, mite, komunitas dan hukum agama yang obyektif, kesalehan individu yang terasing bukan hanya akan lenyap melainkan juga tidak bisa eksis sama sekali. Agama-lah yang memelihara kesalehan, bukan sebaliknya sebab dua posisi itu sama validnya dan selaras.

Pokok upacara keagamaan ini memperlihatkan bahwa orang tidak bisa membedakan antara kesalehan dan agama atas dasar bahwa tidak bisa ada penjelasan sosiologis mengenai yang pertama. Pembahasan historis atau sosiologis mengenai “kesadaran” seperti itu bagaimanapun juga dalam beberapa cara meragukan validitasnya. Maka kesalehan adalah respon manusia pada kehadiran Tuhan, implikasinya bahwa kesalehan secara common sense jelas, seragam dan transkultural. Tak ada usaha yang dilakukan untuk memecahkan perbedaan antara gagasan agama apapun (Islam dan Kristiani) mengenai hal itu. Kesadaran sebenarnya konsep yang banyak seluk beluknya, yang menyatakan “pemikiran perorangan”, “pengaduan diri”, “kesadaran diri” dan pengetahuan kesadaran.

Dalam Kristiani, kesadaran telah dilembagakan dalam sakramen penebusan dosa, di kontrol dan di monopoli oleh elite gereja. Seperti telah diselidiki oleh Michael Gilsenan, bahwa pengakuan dosa tidak lazim dalam Islam dan dimana benar-benar tejadi, ia tetap bisa dibedakan dari penebusan dosa Kristen karena tak mempunyai tindak pembebasan atau pengampunan yang tergabungkan.

Tidak bisa disangkal lagi, agama mempunyai hubungan yang erat dengan moral. Dalam praktek hidup sehari-hari, motivasi kita yang terpenting dan terkuat bagi perilaku moral adalah agama. Setiap agama mengandung suatu ajaran moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya. Jika kita membandingkan berbagai agama, ajaran moralnya barangkali sedikit berbeda, tetapi secara menyeluruh perbedaannya tidak terlalu besar. Boleh di bilang, ajaran moral yang terkandung dalam suatu agama meliputi dua macam aturan.

Di satu pihak cukup banyak aturan berbicara yang terkadang dengan cara agak mendetail tentang makanan yang haram, puasa, ibadat dan sebagainya. Di lain pihak ada aturan etis lebih umum yang melampaui kepentingan salah satu agama saja, seperti jangan membunuh, jangan berdusta, jangan berzina, jangan mencuri dan sebagainya. Dan justru karena aturan-aturan etis yang penting itu diterima oleh semua agama, maka pandangan moral yang dianut agama-agama besar pada dasarnya sama. Supaya kewajiban-kewajiban moral sungguh-sungguh mengikat, bukankah perlu diterima adanya Tuhan Maha Adil yang mengganjar yang baik dan menghukum yang jahat? Bagi orang beragama, Tuhan adalah dasar dan jaminan untuk berlakunya tatanan moral. Atau sebagaimana adanya guyonan yang dilontarkan oleh seorang tokoh dalam novel yang ditulis pengarang Rusia termasyur, Dostoyevski:”Seandainya Allah tidak ada, semuanya diperbolehkan”.

Ini salah satu akibat dari gejala sekularisasi artinya gejala yang membuat semakin banyak orang mengerti dunia serta kehidupan mereka sendiri tanpa mengikutsertakan asas keagamaan apapun. Tapi tidak bisa disangkal, sekarang gejala ini semakin meluas. Ini dapat dinyatakan oleh Jean Paul Sartre yang merupakan salah seorang filsuf Ateis Prancis paling radikal, bahwa bagi orang yang tidak beragama semuanya diperbolehkan seperti yang diutarakan Dostoyevski, itu ditolaknya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam dunia yang ditandai pluralisme moral semakin mendesak kehadiran etika filosofis yang berusaha memecahkan masalah-masalah etis berdasar rasio saja.

Pada kenyataannya dalam diferensiasi dan pluralisme modern yang terjadi, khususnya di seluruh negara berkembang menandai zaman kita sebagian disebabkan karena adanya etika humanistis dan sekular yang tidak lagi mengikutsertakan acuan keagamaan.

* Penulis/Peneliti Lembaga Postdemokrasi Centre No Telepon: (031) 5324081 Hp: 08121623538

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s