Ideologi Gender dan Subjektivitas Perempuan

Sejauh mana ideologi gender mempengaruhi persepsi serta hubungan sosial kita? Bagaimana ideologi gender terbentuk, bertahan dan berubah? Bagaimana bisa terjadi variasi dalam ideologi….

Kalimat diatas merupakan kutipan yang diambil dari salah satu buku yang membahas mengenai peran dan bagaimana peran dan kedudukan perempuan dalam ranah teoretis dan praktik nya. Satu hal yang banyak memberikan sumbangan terhadap perempuan tidak terlepasd dari wacana laki-laki sebagai bagian dari sistem yang ada dan turut mewarnai selama akhir tahun-tahun ini.

Sistem nilai, norma, dan stereotipe tentang perempuan telah lama dilihat sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi posisi maupun hubungan permepuan dengan laki-laki atau dengan lingkungannya dalam struktur sosial yang ada. Beberapa pendapat banyak yang mengatakan argumennya mengenai nilai atau norma tentang perempuan dalam masyarakat tumbuh dan dilestarikan melalui konsesus dalam masyarakat itu sendiri yang dibawa secara turun-temurun dan dijadikan panutan setiap warganya. Ideologi gender memang banyak mempangaruhi tingkah laku perempuan dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Ini bisa terlihat dari asal ide dan gagasan mengenai pembagian perempaun dan laki-laki dan proses pelestarian pada konteks tertentu menjadi tradisi yang dominan.

Bentuk nilai dalam masyarakat, menurut pembagian kerja dan secara seksual didalamnya memuat pertanyaan yang cukup kompleks. Antara lain pada tingkah laku masih terdapat perbedaan pendapat mengenai bagaimana ideologi ini muncul, bagaimana bisa bertahan (dan melalui jalur apa), serta bagaiamana kaitannya dengan hubungan sosial yang turut memperkuat dalam praktik nya. Dalam bab ini mula-mula akan dibahas antara lain:

Nilai dan ideologi dalam masyarakat

Sistem nilai atau ideologi merupakan konsep yang amat sering dipakai dalam analisis dan penjelasan sosial di negara-negara Dunia ketiga, tetapi sifatnya kompleks dan sulit dicerna. Rumusan yang paling sederhananya ialah bahwa sistem nilai mengatur tingkah laku manusia. Kita sering kali melihat dalam literatur studi perempuan berbagai penjelasan mengenai partisipasi perempuan dalam mengisi lapangan kerja atau jenis pekerjaan tertentu. Ini merupakan indikator terhadap cerminan dari sistem nilai tradisional yang memandang buruk perempuan yang bekerja diluar rumah. Sebaliknya, partisipasi perempuan yang semakin aktif diinterpertasikan pula sebagai cerminan telah berubahnya sistem nilai tradisional. Dalam beberapa contoh kasus yang menggambarkan tentang kedudukan perempuan dalam masyarakat, beserta pandangan-pandangan tersebut yang memberi batasan-batasan mengenai apa yang bisa dan seharusnya dilakukan perempuan dan apa yang tidak?

Untuk sementara, bisa dikatakan bahwa sistem ide atau nilai yang mendasari pembagian kerja seksual mempunyai bentuk-bentuk yang kerap berbeda: ditingkat interaksi yang berbeda (di tingkat yang sangat umum dan tingkat individu), dalam arena sosial yang berbeda (dirumah, ditempat kerja, atau di pertemuan sosial), serta dalam satu masyarakat lainnya. Ahli antropologi, Alice Schlgel, menggunakan istilah gender meaning (pengartian gender) yang mempunyai arti yang serupa dengan ideologi gender. Dia membagi nya dalam arti yang lebih spesifik, antara lain pengartian umum dan pengartian khusus. Apabila kita adakan pembedaan antara ideologi gender umum dan spesifik. Beberapa contoh dari bentuk-bentuk ideologi umum bisa dilihat diberbagai negara di Asia, yaitu:


Nilai pemingitan (seclusion), nilai yang banyak ditemui di masyarakat Asia selatan maupun negara-negara Timur Tengah yang dipengaruhi secara kuat oleh agama Islam, membatasi kebebasan gerak kaum perempuan di daerah atau kota tempat mereka tinggal. Selain itu, nilai ini juga secara ketat menentukan bagaimana mereka harus bertingkah laku. Dasar dari norma dan nilai ini ialah usaha untuk mencegah interaksi mereka dengan kaum laki-laki walaupun tidak dengan semua laki-laki dan tidak dalam semua konteks sosial.


Nilai pengucilan dari bidang-bidang tertentu (exclusion), nilai ini menutup kemungkinan bagi perempuan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu, dan sering kali diperkuat atau dilestarikan dengan berbagai macam pantangan.


Nilai feminitas perempuan, nilai yang memandang dalam bentuknya yang ideal merupakan penilaian terhadap perempaun, disebut dengan feminitas. Gambaran soal kerendahatian dan ketaatan kaum perempuan.


  1. Masalah ideologi gender dalam analisa sosial

Berikut ini dipaparkan cara beberapa pendekatan melihat: Munculnya sistem nilai/ ideologi tertentu, faktor-faktor yang membuatnya dapat bertahan, kaitannya dengan hubungan sosial dan kehidupan sehari-hari.


Ideologi gender sebagai konsesus bersama


Pandangan ini terutama dianut oleh kaum fungsionalis yang mengatakan bahwa suatu masyarakat hanya bisa bertahan apabila anggotanya menjalankan peran-peran sosial sesuai dengan harapan peranan (role expectation) yang ada dalam masyarakat. Harapan peranan antar anggota masyarakat ini diambil dari sistem budaya yang dianut masyarakat. Proses yang diperhatikan dalam hal ini ialah institusional (masuknya nilai-nilai kedalam kerangka buadaya masyarakat) dan internalisasi (masuknya nilai-nilai ke dalam kerangka budaya yang dianut seorang individu). Pendekatan ini mengasumsikan bahwa antara antara hubungan pribadi dengan sistem nilai ada satu hubungan timbal balik yang tak dilematis. Pendekatan ini justru karena berdasarkan anggapan bahwa nilai-nilai tersebut tumbuh atas dasar kesepakatan bersama dan kesadaran semua pihak demi berfungsi dan berjalannya sistem tersebut. Akan tetapi pada perkembangan di masyarakat, kita juga tidak melupakan bahwasannya adanya proses negoisasi antara kelompok-kelompok dalam pencapaian nilai-nilai yang ideal.


Ideologi gender sebagai ideologi dominan

Dalam penerapannnya, ideologi gender sebagai ideologi yang dominan dapat kita maksudkan sebagai bagian dari proses dialektis antar sistem-sistem yang berada pada masyarakat satu dengan yang lainnya. Ini artinya sesuatu ideologi yang disebut sebagai bagian dari alat atau mekanisme yang dominan dapat masuk dalam segala aspek masyarakat. Pandangan ini beranggapan bahwa sebetulnya jarang ada aturan yang secara murni merupakan konsesus bersama. Kepentingan-kepentingan yang berbeda yang dimiliki oleh masing-masing kelompok tidak begitu saja dapat disesuaikan. Karena itu, kelompok yang kuat dalam hal ini memegang perenan yang penting. Kelompok inilah yang mempunyai dan memiliki sarana atau sumber daya tertentu yang tidak dimiliki oleh kelompok lainnya. Ideologi ini yang terwujud dalam bentuk nilai-nilai dan aturan-aturan yang sengaja dibentuk agar mengurangi kontrakdiksi antara sistem yang bersesuaian dalam kesinambungan sistem yang ada.


Ideologi gender sebagai sistem pengklasifikasian Universal

Pendekatan strukturalisme terutama berlandaskan pada prinsip oposisi biner, yaitu sistem pengklasifikasian dimana satu kategori dianggap mempunyai ciri yang berlawanan dengan kategori lainnya. Dalam hal ini penglasifikasian terwjud adannya hubungan antar elemen yang saling berelasi satu dengan laingnya, wujud dari sistem ini dapat kita lihat dari setiap masyarakat secara universal.


Ideologi gender sebagai arena pertentangan

Ide yang dikemukakan dalam pendukung ideologi dominan ialah pertentangan antara yang “kuat” dan “menang” dalam suatu sistem di masyarakat. Hal inilah yang dipandang sebagai hubungan yang statis antar elemen pendukung keberadaan nilai-nilai dalam membentuk sistem yang dominan. Perlu dikoreksi juga disini bahwasannya pandangan tersebut mendapat kritik, yang tidak menyebut aktor dan arena sosial dalampertimbangan dalam mewarnai masing-masing nilai-nilai dan aturan dalam masyarakat. Konsekuensi dari pendapat diatas, sehubungan dengan kedudukan perempuan selalu didudukan sebagai the second sex.


  1. Pembentukan dan Pelestarian Ideologi Dominan

Dalam uraian tentang ideologi dominan diatas, disebutkan bahwa berbagai pranata/ institusi berfungsi membentuk, mengarahkan, dan melestarikan ideologi dominan tertentu meskipun pada waktu bersamaan bisa pula terdapat berbagai ideologi lain yang berlaku sekaligus yang mungkin berlawanan dengan dan bahkan kadang-kadang merupakan tandingan terhadap ideologi dominan tersebut. Negara memegang peranan yang penting dalam mengarahkan dan mengendalikan bentuk perdebatan atau wacana yang muncul. Di lain pihak, ada pandangan bahwa negara mewakili kepentingan tertentu baik sebagai arena pertentangan di antara beberapa kepentingan, seperti kepentingan modal, ideologi agama atau kelas sosial yang berkuasa atau sebagai wadah yang menciptakan kelas tersendiri yang mengatur atau mengendalikan konflik-konflik yang terjadi di antara beberapa kelompok kepentingan tersebut.

Kemampuan negara untuk mengatur lalu lintas perdebatan atau diskusi ideologis dari berbagai pranata atau kelompok sosial ini tergantung pada kekuatan-kekuatan yang ada dan setiap negara menunjukan model yang berlainan/ kadang kala dalam pranata yang berbeda derajat intervensi negara pun tidaklah sama. Beberapa contoh akan di kemukakan disini:


Agama, setiap agama baik dalam bentuk dalil keagamaan, operasionalisasi aturan-aturan keagamaan maupun organisasi keagamaan mempunyai nilai-nilai tentang pandangan atau tindakan yang diperbolehkan atau bisa ditolerir, dan yang tak bisa ditolerir. Nilai-nilai ini dikodifikasikan melalui aturan-aturan tertulis yang ada di dalil-dalil dan praktik nya membawa sanksi bagi siapa yang melanggar. Dalam membahas pengaruh agama terhadap anggota masyarakat yang mendukungnya perlu dilihat secara analitis. Hal ini merupakan sesuatu yang hakiki sifatnya, dan penerapan aturan tersebut multi tafsir untuk medapatkan kebenaran dalam setiap ajaran nya, tergantung konteksnya.

Pendidikan, merupakan prioritas utama setelah agama. Kedudukannya dapat dikatakan sebagai wadah dalam membentuk dan mencetak manusia yang mempunyai keterampilan yang produktif. Dalam dunia pendidikan relevansi terhadap kedudukan perempuan dan laki-laki juga patut untuk dipertanyakan, karena hal ini kalau kita lihat kembali lagi pada filsafat pendidikan yang mengajarkan disiplin terhadap otoritas, bukan kreativitas, kebebasan maupun kepekaan terhadap lingkungan sekitar.


Film, merupakan bentuk media berbagai arena ideologi dan kepentingan, dalam hal ini bisa disebut sebagai arena sosial. Film memainkan peran yang dominan dalam memberikan pengaruh terhadap aturan dan nilai-nilai dalam masyarakat. Peran negara dalam hal ini juga turut serta dalam menentukan mana yang lebih baik sebagai bentuk kekuasaan yang mempunyai otoritas dalam menentukan yang berhak di konsumsi oleh masyarakat.

Kesusastraan, juga mempunyai pengaruh yang besar dalam melestarikan atau membentuk ideologi-ideologi tentang feminitas dan maskulinitas.

Keluarga, secara ideologis merupakan wadah yang lembut dalam menerapkan praktik nilai-nilai feminitas sekaligus maskulinitas mempunyai kedudukan yang lebih dibanding kedudukan perempuan dan feminitas nya, yang seharusnya sudah mulai di berikan pada lingkungan keluarga. Keluarga sebagai instrumen yang kecil skala nya akan tetapi utama dalam membentuk dan mempengaruhi bentuk nilai-nilai melalui proses sosialisasi terhadap lingkungan keluarga.

* Ditulis dan dipublikasikan oleh PUNDI rOck N roll , lahir dalam kegelisahan seminoritas kecil teman Antro yang mulai muak dengan hari-hari yang itu-itu saja (?!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s