Antropologi, Gelisah atau Gagal ?

Suatu ketika, seorang dosen dari Perguruan Tinggi ternama bertanya kepadaku,”Mas, apa sih Antropologi itu ?” Saat itu, langsung saja kujawab dengan pertanyaan serupa,”Lho Pak, menurut anda Antropologi itu apa ?”

Sekilas ia tersenyum dan akhirnya terpaksa menjawab dengan cepat,“Ya itu…!”

“Itu apa pak ?”, langsung saja kupotong pikirannya yang terlihad masih loading. “Ya itu…, fosil,” ucapnya pasti.

“Terus ?”, sahutku, sembari berharap ada jawaban lain yang keluar dari mulutnya. “Itu candi-candi ya ?”, imbuh sang dosen dengan mantap.

Aku membalasnya dengan senyum sembari berujar,”Bapak tidak salah kok, tapi Bapak juga mestinya perlu tahu lebih banyak ! Dan ternyata, antropologi itu tak hanya berisi seperti yang disebutkan tadi lho Pak…? Meski bukan apa-apa, dan belum bisa menjawab apa-apa. Tapi setidaknya, antropologi sudah bisa melakukan apa saja !”

Sebenarnya, yang seperti ini, bukan “barang baru” bagiku. Di masyarakat, memang masih dipenuhi aneka kebutaan tentang antropologi. Karena seorang dokter sekalipun, pernah memberi persepsi yang dangkal tentang apa itu antropologi. Pernah juga, seorang guru besar, nampak tergelincir, ketika terpaksa harus memberikan persepsinya tentang sosok lulusan Antro sepertiku.

Padahal, dalam top universities guide,  Antropologi jelas-jelas diakui sebagai salah satu studi yang menempel pada setiap top world universities. Jadi mestinya, para mahasiswa tak perlu gusar untuk melanjutkan studi di ranah antropologi. Belajar antropologi, bukanlah unclassified !!! Di mata dunia, antropologi diletakkan sejajar dengan minat lain yang dianggap lebih matang dan “membanggakan” di Indonesia, seperti halnya Medical Sciences (arek kedokteran coy…), Legal Studies (kuliah nang hukum), Economics (arek ekonomi), Dentistry (iso nambani untu), Architecture (arsitek rek, iso mbangun omah…), Pharmaceutical Sciences (pakar obat), Computer Sciences (pinter komputer), atau Mechanical Engineering (fwuiiih, arek mesin…).

Mengapa ini perlu diungkap ? Berdasar pengalaman, sebagian besar mahasiswa baru antropologi, ternyata masih memiliki keinginan besar untuk mengikuti tes UMPTN/SPMB/SNMPTN lagi, di tahun berikutnya, meski sekedar hanya untuk mencoba peruntungannya🙂 Hasilnya beberapa mahasiswa potensial pun, berhasil melakukan migrasi ke minat studi lain, non antropologi. Sudah berapa banyak mahasiswa antropologi yang kini “tenang” untuk melanjutkan studi di tempat lain. Sebut saja ilmu Hukum, Farmasi, Ekonomi, beberapa minat Teknik, atau yang lain🙂

Kembali pada obrolan santai yang dikemukakan di atas, setelahnya, diskusi menjadi kian menarik. Ternyata, sang dosen tampak begitu antusias, dan terus bertanya-tanya tentang keantropologian kepadaku. Deru nafasnya seakan tak bisa menutupi rasa penasarannya tentang apa itu Antropologi ?! ”Wah, Bapak ini terlalu tertarik ! Aku saja, jujur, belum tentu sudah memahami dengan baik, tentang apa dan bagaimana itu antropologi !?” demikian gumamku dalam hati.

Namun, karena tak ingin mengecewakannya, dan karena sang dosen juga terlanjur tahu bahwa aku lulusan antropologi, maka kuterima saja alur diskusi yang kembali ia sodorkan. Antusiasme yang ia tunjukkan, serupa dengan antusiasme para reporter Media Nasional, yang ternyata langsung jatuh cinta pada antropologi, ketika ia bertugas di tanah Papua. Kala itu, kebetulan, ia ditemani oleh antropolog lokal yang justru kemudian banyak memberinya ”pengenalan pembuka” tentang apa itu antropologi ?!

Di setiap gelombang pembicaraan, ‘ku terpaksa tak menyentuh terlalu dalam tentang konsep-konsep antropologi “baku”. Karena selain takut lawan bicara jadi gak bakalan nyambung nantinya, aku ingin diskusi kali ini jauh dari kesan membosankan. Maklum saja, teman diskusi kali ini adalah seorang dosen teknik. Disamping itu, dari dulu aku memang lebih suka menyodorkan analogi, sinonim atau sedikit semburan filosofis dari suatu yang kumaksud, melalui kenyataan kasus, berbau riil, hingga memiliki kedekatan lingkungan. Atau bisa juga, disisipi gambaran yang berbau majas, namun tetap masih bisa diraih oleh geliat akal.

Ia tampak manggut-manggut, tersenyum tiada henti, ketika aku terus menyinggung beberapa contoh kasus di negeri ini, yang semestinya bisa ”diselesaikan” oleh potensi antropologi. Lantas, mengapa antropologi masih saja seakan menjadi ”bualan” yang terpinggirkan ?

Jujur saja, aku pun, ketika mendaftar UMPTN kala itu, sekenanya saja menjatuhkan pilihan pada antropologi. Aku yang kala itu sudah kuliah akuntansi di sebuah PTS, tampak begitu bodoh menentukan pilihan. Masih teringat, aku memilih psikologi di pilihan pertama, dan antropologi sebagai ”pelengkap blangko isian”, hanya karena di belakangnya, sama-sama ada kata : logi (logos). Aku selalu tertawa geli, ketika harus mengingat itu semua. Bahkan aku juga tak sempat bertanya, mengapa kok antropologi ? Mengapa, meski juga memiliki kata logi di belakangnya, aku lantas tak memilih sosiologi atau biologi ?

Padahal dalam perjalanannya, background sosiologi, nampak begitu banyak “merebut” asumsi masyarakat tentang ilmu yang menjadi lahan antropologi. Maksudnya, banyak masyarakat yang mengira, apa-apa yang dipelajari antropologi kini, sejatinya adalah sosiologi. Sementara Antropologi, memang lebih diasumsikan sebagai arkeologi. Aku sendiri, memandang, Antropologi justru memiliki kedekatan darah dengan Psikologi. Tepat, sesuai dengan gabungan pilihan yang kutulis di blangko UMPTN 10 tahun lalu🙂 Meski ini sebenarnya masih bisa diperdebatkan, setidaknya cukup memiliki alasan.

Di sisi lain, aku pernah membaca, seorang lulusan S2 Antropologi Terapan sebuah universitas terkenal di mancanegara, mengeluh, “Meski sudah lulus S2 Antropologi Pembangunan dari luar negeri, saya masih belum mengerti bagaimana menerapkan ilmu antropologi dalam pembangunan Indonesia. Bagaimana peranan saya sebagai seorang sarjana antropologi dalam proyek-proyek pembangunan, misalnya proyek pembangunan dam. Bagaimana saya dapat urun saran memecahkan masalah-masalah pembangunan di Indonesia?”

Sepengetahuanku, seorang mahasiswa antropologi yang ”pintar”, ia cenderung lebih banyak melahap materi disiplin ilmunya, dari dunia luar. Artinya, ia lebih banyak mengenyam nikmatnya ilmu Antropologi, bukan dari bangku perkuliahannya. Dampaknya, terkadang, penguasaan mahasiswa dan sarjana antropologi akan konsep-konsep dasar, cenderung minim, apalagi tentang teori ?! 

Banyak skripsi antropologi, termasuk skripsiku, yang terlihat dangkal dan memaksa sang pembaca kawakan, untuk berputar 360 derajad. Bahkan ada yang berkomentar, bahwa sang pembimbing ”terbiasa” membiarkan anak bimbingnya mengacau-balaukan pengertian konsep budaya Geertz dengan konsep budaya Levi Strauss, atau yang lain. Dan ini terjadi terus-menerus. Tak jarang, sebuah definisi atau konsep, diterjemahkan dengan ”salah”.

Dekan Fisip UI 2005, Gumilar R Somantri, mengatakan bahwa sekitar 60-70 persen tulisan antropologi, masih didominasi oleh para peneliti asing. Menurutnya, meski ini terkait dengan kultur Indonesia, namun sebagian besar data-data di lapangan, ternyata masih ada di tangan orang asing. Artinya, antropolog Indonesia, masih merasa puas untuk menjadi end user, yang tentunya belum merasa perlu menguasai database tertentu tentang kebudayaannya.

Harusnya, antropologi juga punya kitab anthropological science and power in Indonesia, yang memuat the role and development atas kajian dan terapan antropologi di Indonesia. Sehingga, selain lulusan antropologi menjadi kian meningkat secara kualitas, relasi dengan lapangan kerja pun, menjadi kian transparan.

Jadi, tidak akan kita jumpai lagi, sebuah lowongan pekerjaan, yang menyebut suatu kualifikasi tertentu sehubungan dengan lahan kerja antropologi, namun ternyata, justru “hanya” diperuntukkan bagi lulusan non antropologi. Lihat saja pada kualifikasi PNS tahun 2007 kemarin, terlihat, saudara muda antropologi di Fisip Unair misalnya, yakni ilmu komunikasi, langsung mendominasi urutan daftar yang disodorkan. Sementara Antropologi, harus puas menjadi pelengkap, mengisi segelintir posisi yang diperebutkan oleh banyak Antropolog se-Indonesia.

Padahal, salah seorang menteri di kabinet, adalah seorang Antropolog, yang tentunya sudah menyelam lebih dalam, tentang bagaimana seharusnya, Antropolog berkontribusi bagi kemajuan bangsanya. Akhirnya, ketika coba memandang gemerlapnya bintang, aku pun berkesimpulan, bahwa seorang lulusan antropologi, harusnya, tidak hanya ”diberi fasilitas” untuk bersaing pada kolom ”dicari bla bla bla : untuk semua jurusan”, yang kemudian berujung pada kegelisahan ilmiah.

Gelisah, karena harus berkarya dan mencangkul, di lahan milik tetangga. Sehingga berpotensi untuk merusak reputasi alumni antropologi dalam berkontribusi. Tak jarang, seorang lulusan Antropologi, tertolong dengan gelar S.Sos saat ia harus mencari pekerjaan. Ini dikarenakan, secara kebetulan, Antropologi tempatnya menuntut ilmu, masuk satu paket ke dalam kelompok ilmu-ilmu sosial di Fisip.

Rasanya, belum dapat dengan mudah kita temui di koran, sebuah iklan lowongan, yang dengan tegas menyebut : “Sangat dibutuhkan, SEGERA : S1 Antropologi…., bla bla bla..” Harusnya, kita bisa lebih dari itu kan ?🙂 Tetap semangat !!! :) 

* Ditulis oleh hook, kerabat antropologi unair 98, agamis yang relatif, gerah ketika harus memakai gamis.

62 responses to “Antropologi, Gelisah atau Gagal ?

  1. Bingung juga nyari kerja yang sesuai dengan ilmu antrop….
    sayang masa kul antrop kerja ga jelas apa hubungan nya ama atrop… iyakan
    di luar negeri atrop udah ada bidang kerjaan nya sendiri….
    gimana neh…….!!!

    • thank you for sharring pengertian antropologi di sini, sebenarnya saya sedang membaca-baca bahan untuk ujian masuk magister antropologi di salah satu PTN Jakarta, alasan saya minat melanjutkan studi dari sebelumnya sospol administrasi bisnis dikarenakan mengerjakan bagian resources development non HR Department, tanpa merugikan HR Department sendiri namun tetap helpful di departemen internal. Doakan saya supaya tetap bertahan dalam bidang pekerjaan ini, juga lulus test masuk nanti🙂

  2. yah, gimana lagi ? smua pada jalan ndiri-sndrii? Kuliah ilmunya jg gk nyambung ma dunia kerja

  3. lulusan antropologi jangan bingung cari kerja coy, sebenarnya banyak sekali ilmu antropologi bermanfaat bagi lulusan antro,kita bisa menganalisa potensi dalam diri dan potensi kebutuhan di masyarakat kita dengan pendekatan antropologi, dengan hal itu kita bisa membuat lapangan kerja sendiri, aku aja bisa jadi pengusaha dengan modal antropologi (meski sering gak kuliah hehe..). sebagai pengusaha aku bisa menghadapi konsumen, serta pekerja atau pangsa pasar dengan pendekatan antropologi, dengan begitu bisnis yang kita bangun bisa dinamis karena bisa menyesuaikan bisnis dengan budaya masyaraakat atau konsumen , ya mudah-mudahan kalian bisa merenunglah, manfaatkan ilmu kalian dan jangan sampai dimanfaatkan orang lain

  4. emang susah nyari kerja dengan berbekal ilmu antropologi, tapi pede aja kale jd sarjana antropologi…la wong sekarang orang kerja g harus sesuai dg bidang studi yg diambil waktu dbangku kuliah, segala sesuatu tergantung dari pribadi bagaimana pribadi kita menempatkan diri di dunia kerja…..

  5. seharus jng mengandalkan bekal antropologi saja, kalo bisa tambahin dng sgala ketrampilan yg ada pd diri kita, spt ikut kursus2 atau ikut diklat latihan kerja.

  6. Yaopo maneh, dari masa ke masa, lha cuman ngono tok, gak wani gawe terobosan

  7. Maaf banget kalau saya terlambat comment untuk tulisan Hook diatas..(btw, anakmu wis piro ru?)

    sebetulnya kita tidak perlu berkecil hati. menurut beberapa sumber, saat ini etnografi sedang digandrungi oleh sebagian marketers. Mereka menyebutnya Etnografi pemasaran atau marketing ethnography. Tujuan dari etnografi pemasaran adalah mencari sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya customer insights yang bisa membantu kita mengenali customer secara
    holistik/menyeluruh.
    Dalam studi etnografi, dilakukan juga pendekatan terhadap influencer atau orang-orang yang mempengaruhi terciptanya penjualan. Ini juga dilakukan dalam studi etnografi untuk consumer goods. Misalnya untuk mengerti bagaimana terciptanya pembelian produk snack anak-anak, yang diteliti bukan hanya perilaku anak dalam mengkonsumsi tetapi juga bagaimana para influencers di sekitar anak ikut menentukan proses terciptanya pilihan terhadap merek tertentu. Dalam B2B, menyelami influencer menjadi lebih kritikal, karena pada umumnya, keputusan penjualan tidak dilakukan oleh satu atau dua orang saja.

    Atau jika saya sedikit menyederhanakan, dalam dunia sales, impulse buying merupakan hal yang sangat sering terjadi. Walaupun (sepertinya) terlihat sederhana, tetapi etnografi pemasaran ini mulai banyak menyita perhatian para marketers, atau orang2 yang berkecimpung di dunia sales and marketing.

    Kebanyakan yang menggunakan research ini adalah orang2 dari consumer goods industry.

    saya akan berusaha mencari sumber tulisan tentang ini dan akan saya share di web ini.

    Carlo

  8. gilleeeeeee, mauT banget ulasanmu ‘Lo….
    wah saiq si carlo udah bener2 jadi ethnographer handal
    Manggon ng jkrta yo awakmu saiq ?
    sukses Lo, buat kamu…. 🙂
    seorang antropolog yg juga musisi, analis, salesman, dan marketer….., bener ya…. ? he he
    Qt tunggu artikelmu ya…?

  9. model-mu ru….???!!!!

    aku Pancet ae bos…sekarang hidup di satu kota kecil yang tenang..Jakarta???wah..udah lewat bro…sumpek..!!! piro anakmu hook??

  10. saya akan berusaha mencari sumber tulisan tentang ini dan akan saya share di web ini.

    Carlo<====
    Pro Carlo tulisan ini ada di majalah swa..aku lali terbitannya..aku punya fotocopynya tapi sekarang ngk tahu dimana.. :((

    kalo awakmu pengen baca tentang ini coba pesen aja ke majalah swa..

  11. menk anakmu piro saiki,kabare momon yok opo nag jekerte ake lamuke ya

  12. wahhhh… paaak,, bener bgt kuwi…
    saya thn ini ikut snmptn,
    pilihan pertama psikologi,,plhn kedua bwt ngisi2 kekosongan antropologi budaya dg tanpa pikir panjang..,
    bedanya saya tertarik dg kata budaya yg nyembul dibelakangnya..,
    alhasilnya saya diterima diantropologi..
    cukup bersyukur,,karena mnjd salah seorang dari tiga org (daya tampung bwt jalur snmptn) yg diterima,,n beruntung,,
    dg ckup kalang kabut mikir jg sih,, ambil atw cari lain,, atw ambil ntar ikut ujian peruntungan taun berikutnya…, ugh,🙂
    alhasil nyari2 tw kira2 ap itu antropolgi…
    alhasil ttp gg ngerti2 jg,,maklum,,di sma pelajaran antropolgi ud diilangin,,
    mw diilangin gg diilangin kyana bkal ttp gg ngerti sie..,,
    alhasil jgh saya jd bingung..
    alhasil kepikiran apa juntrungan atw ujungnya nanti..
    alhasil muncul pertanyaan “itu”,,
    “mw jd ap?” itu pertanyaan bnyk org termsuk saya ndiri,yg terasa n trdengar menyebalkhan..
    alhasil bis dikatakn ju2r sdikit brpasrah..
    saya rasa antropologi keren kok..
    no matter wat happen..🙂
    alhasil dg kepedean tingkat tinggi n dorongan org2,, yg blg,, “bisa kok” “bisa jd ap aj”
    oke i take it…
    then i’ll fighting…!!

    wahai org2 sukses,, lu2sn antro bdy…
    beri saya semangat lebih…
    ceritakan kisah muw..
    hyahahahah..
    trmksh…
    ;D

    (sedikit bnyk curhat)

  13. ok mia
    smg bentar lagi ada pencerahan dari kerabat antro yg lain
    yg penting ttp fokus & semangat🙂

  14. tahun ini sy ambil master di antropologi, baca tulisan bapak tidak kepikir bahwa ada banyak yang kebingungan mau ngapain dengan ilmu antro yang dia dapat, sy malah punya mimpi banyak, dengan belajar antropologi sy akan bisa meningkatkan kualitas kerja saya mendampingi masyarakat, pikir saya antro akan membantu mengasah pisau analisa sy ketika harus berhadapan dengan dinamika pembangunan di masyarakat..membantu sy bisa memilih pendekatan yang lebih tepat disuatu wilayah dengan setting budaya yang berbeda..begitu ng ya?

    yang jelas sy semangat sekali ambil s2 antro..semoga teman2 juga semangat belajar antro, apa saja lah yang kita pelajari tinggal kita pandai2 tarik ke konteks kerja dan hidup kita sehari2, karena hidup ya belajar…

    tetap semangat dan hidup sehat!!
    ciao..

  15. Fajar Antro Unpad

    Kalo ga ada antrop di dunia ini, kita gak akan pernah ,mengerti apa arti pentingnya menjadi seorang manusia!!

  16. Ufff…. memang susah mengenyam bangku pendidikan di Antrop……..Tapi,,, kayaknya tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang dapat menampung……..
    Awal masuk antrop sy juga pernah berfikir,,,, mow Jadi apa setelah bergelar sarjana antrop………..
    tapiiii,,,,, harus diyakini,,, Lewat antrop kita jadi bisa belajar banyak menghargai hidup seorang manusia…. lewat antrop,,, Indonesia tidak akan hancur………..

    Yah,,, suatu saat,,indonesia pasti akan sadar,,,betapa pentingnya antrop dalam kehidupan………………..

  17. hmm…antropologi? saya rasa banyak orang yang mulai tertarik dengan ilmu ini….:)

    jangan takut-lah..jadi apa kita besok bukan hanya tergantung disiplin yang kita bawa, tetapi juga skill kita di bidang lain yang harus kita bawa.

    Antropologi buat saya telah mengajarkan banyak hal..!! yakinilah bahwa lulusan antropologi tidak kalah dengan lulusan jurusan lain..

  18. Aku gk setuju seh kalo antropologi dibilang gagal. Tapi bagaimana mungkin lulusan SMA disuruh utk tak takut masuk antro, tapi org antro indonesia sendiri seakan gak mau unjuk gigi ? jadi, sbenernya, gagal gak siiiihh..?!

  19. Salam,
    tuk smua kerabat…..!
    sya pribadi juga ikut gelisah ketika membaca tulisan kerabat Hook 98, mungkin kita belum pernah ktemu dikampus, karne 98 sya sudah ikut WWF di Kaltim-pasca lulus dari prodi tercinta Atro,,,,mungkin hal yang sama kita rasakan ketika masuk di antro masa-awal!!gelisah, apalagi waktu ditahun-tahun pertama kuliah!Sya ingat betul kata-kata dosen, waktu itu bu Retno”bilang lulusan antro itu harus kayak lumut bsa tumbuh dimanapun!” trus dikomentari satu kawan anggkatan 93 jadi bsa di-got,dicomberan?artinya kerja yang asal2an orang jawa bilang timun wungkuk jogo imbuh! nah dari stu saya bertekat lebih giat lagi untuk tidak jadi lumut yang tumbuh dicomberan tadi!beruntung saya punya dosen yang bsa jadi sahabat Mr Yusuf Ernawan, yang mengajarkan pada saya tentang banyak hal; tentang penulisan ilmiah belajar metode penelitian, ketika saya menulis skripsi! dan bu Pinki yang mengajari saya awal untuk tertarik pada penelitian awal mesti cuma jadi pewawancara, tapi itu awal saya belajar dan paham yang namanya manfaat ilmu secara praktis, serta pak Budi yang mengajari saya menggunakan dasar filsafat, dan itu menjadikan saya tertarik pada dunia antropologi budaya…..saya ingat betul pak Budi bilang hanya ada dua pilihan bagi mahasiswa Antro menjadi Idealis atau Utopis, dan sampai hari ini saya sakin pada pilihan saya!bahwa ilmu punya segi praktisnya, dan itu yang harus kita ambil!Saya tambah semangat lagi ketika kerja-kerja awal saya sebagai pialang kultural di WWF,dan sampai saat ini pun ketika menjadi koordinator program WSSLIC 3 (water sanitasi bagi masyarakat miskin) hal itu masih saya yakini. Ilmu bagi saya praktisi tidak obyektif lagi seperti diajarkan pada bangku kuliah, Ilmu harus subyektif punya keberpihakan, pada siapa?jelas pada masyarakat yang membutuhkan pada masyarakat yang terpinggirkan, termarginalkan serta miskin!Hal ini penting untuk kita para Antrolog tidak mengulagi dosa besar para antropolog sebelum perang dunia ke 2 ketika dimanfaatkan para kolonialis!Saya pikir kita harus lebih menatap tajam kedepan tentang masa depan antrologi kita, banyak hal bisa kita perbuat; masalah passing grage departemen antropologi, tidak diminatinya prodi antropologi perlu kita pikirkan tapi satu hal jangan menghabiskan energi kita, sehingga kita lupa berbuat yang lebih pada masyarakat! Kesadaran kita mungkin harus lebih kritis (meminjam terminologinya Frerre) saya yakin kita di Antropologi Unair punya banyak daya dukung; mahasiswa walau secara kwantitas kecil tapi secara kwalitas bsa kita tinggkatkan; para staf pengajar yang yakin masih memiliki sense pada kemajuan departemen antropologi kita,mesti kecil dukungan support system dari kampus; para alumni yang tidak usah diragukan lagi komitmennya untuk menjadi daya dukung; reseningnya tinggal bagaimana kita manfaatkan daya dukung itu untuk mengatasi segala tantangan untuk kemajuan departemen Antropologi kita biar lebih hidup bermakna!kedepan harus ada forum moral untuk menyatukan visi kita!!!

    Wassalam!!!!
    terakhir!!
    Sungguh orang yang paling mulia adalah orang yang selalu berproduksi, dan dalam prosesnya dia tidak mendapat tekanan dari pihak manapun,….sehingga ia tidak memaksa dirinya menjual diri layaknya barang daganggan (Che Guevara)

  20. Menurut saya seorang antopologi itu gak susah cari kerja. Buktinya saya belum tamat dari anrtopologi tapi sudah bekerja di sebuah ritel. Tergantung kepada kita sendiri bagaimana mengaplikasikan ilmu antropologi tersebut.
    buat kerabat-kerabat yang ada di seluruh Indonesia jangan takut untuk ngnggur………
    jadilah yG terbaik untuk Indonesia……maju terus Antropologi……..

  21. utk mas Santo, tenang saja mas, saya tidak segelisah itu kok…he he he
    Memang benar qt blum pernah bertemu langsung, tp melalui media ini, qt trnyata langsung bisa akrab ya…?! Trims utk pencerahannya…
    Utk Darwin USU, bagus itu jika anda sudah bekerja justru sebelum lulus Antro. Yg seperti ini memang patut diapresiasi. Nah, apalagi jika nanti anda benar2 sudah lulus. Wow…, pasti akan kian terbuka gerbang kesuksesan bagi anda. Dan saya harap, kerabat antro se Indonesia bisa ngikutin jejak bang Darwin Tambunan ini….
    Tetap semangat ya….
    Qt akan dan selalu optimis….🙂

  22. haha… bentul!!!
    aku ajah dr antropologi UGM migrasi administrasi UB..

    qiqiqiqi

  23. Sejauh ini saya tidak pernah merasa gelisah tuh jadi antropolog.. sudah 10 tahun saya kerjadi divisi qualitative research, perusahaan marketing riset di Jakarta, dan ilmu saya justru banyak terpakai untuk Ethnography on Marketing, banyak klien yang menggunakan jasa saya.. Bayangkan saja, sekali klien saya order riset menggunakan metodologi ini, mesti siap kocek minimal 500 juta.. Jadi kita gak perlu optimis tuh…

  24. sorry.. jangan pesimis maksudnya…

  25. Trims banget ya mbk Nastiti, smg pengalaman mbk ini bisa membakar semangat bakal calon antropolog se Indonesia🙂
    Oh iya, jika mbak bersedia, mbak bisa share pengalaman mbk dlm ethnography on marketing, yg nantinya akan kamu publish di sini….kirim saja ke: unairantro@yahoo.com
    Ttp semangat !!!

  26. Aku calon antropolog di Dephut, dengan bekal antropologiku, ngerasa keren aja sih bisa nimbrung di semua aspek penelitian dari hukum adat, etnobotani, etnoekologi, ngikut di konservasi alam n lingkungan sampai ke evaluasi hutan lestari….Jadi semangat aja gitu loh…

  27. kia_antro FISIP USU

    mmg bnr jurusan kita msh dipndng sebelah mata, tapi dgn rasa sperti itu hrs mnjadi motivasi kita agr bisa sukses! Saya msh kuliah di USU antrop ’04, tetapi sekarang saya bekerja sbg pegawai LION AIR di Bandara Polonia MDN! Buat kerabat antrop se Indonesia jgn berkecil hati sebab itu dpt membuat kita kecil di mata org!! Tetap smmgt…………..

    Hidup Antrop……….

    Salam kerabat dari tmn2 USU, buat kerabat antrop se Indonesia!

    OK bro

  28. Boleh nimbrung? Saya adalah alumni Antroplogi Unair. saya boleh bangga pernah kuliah di Antropologi. Sekarang ini saya bekerja di advertising agency worldwide dan bersama teman-teman mendirikan media consultant. Mungkin orang akan heran, dr antrologi kok kerjanya di bidang komunikasi.makanya anda harusnya bangga bisa kuliah di Antropologi karena ilmu yang diajarkan sangat kaya dan dapat mendukung di segala bidang pekerjaan. Contohnya pada saat saya jadi wartawan, saya udah terbiasa dengan penulisan indepth dan wawancara terasa ringan karena ilmu ini pernah saya pelajari saat kuliah. pada saat saya membuat copy atau stroryline iklan, saya udah terbiasa dengan mengadakan penelitian ke segmen yang kita tuju. Pokoknya ilmu ini terasa bergengsi buat saya. Viva antropologi!

  29. huaLLah ….
    pendtang bru ne …..
    lu2san antrop pluang krja.a kmna yak???
    ad yg bsa ksih inpo lbih lngkap.a????

  30. telat nimbrung ora opo-opo yo
    jadi lulusan antro kui mestine kudu bangga, soale iso bergaul,berkomunikasi karo siopo wae karena iso ngerti/mengenal berbagai suku bangsa terutama yang ada di Indonesia (ilmu kui seko materi berbagai etnografi Indonesia lho). Jadi uwong antropolog kui waduh apik tenan, contene kulu uwong Batak jadi ngerti siopo kui uwong Jawa,Sunda, Madura,Dayak,Toraja,Asmat, dll yo seko ilmu antro,plus iso jadi guru antro nang man Sampit sing iso memahami karakter anak didik dari berbagai latarbelakang suku bangsa, jadi transfer ilmu antropologi ke anak didik malah uenak tenan. Uwes yo semoga sukses kabeh uwong antropolog Indonesia.

  31. Telat gpp yo. Iki aq retno, angkatan 97. Eling Perenk club yo pasti eling angk 97 kan?
    Sakjane aq wis ngrungu milis iki wis suwi tapi gak sempat buka, soale baru terdampar di kota kecil yg listriknya mati 6x sehari, air PAM keluar seminggu 2x, walhasil akses internet pun susah didapat. Hehehe..
    Skrg aq bekerja di IOM sbg project assistant. Wis memper karo ilmu antropologi. Awalnya aq memulai karir sbg admin/finance. Bleset puol dr antropolgi. Tp yo itu td jgn putus asa.
    Anyway, Salut buat Milis ini!

  32. Maturnuwun kagem mbak Retno atas sharingnya….menarik🙂

  33. saya calon maba antro 2009..saya mau tanya apa prospek antropologi nantinya bs jd ahli forensik…?saya bingung nanti kerjanya jadi apa masuk antro..saya masuk antro krn ilmu itu langka buat saya..

  34. Terima kasih utk Prima atas atensinya…..
    utk jadi ahli forensik ? kenapa tidak ?
    Kebetulan Antro Unair jg memiliki ahli forensik ygs sdh bbrp kali menangani kasus penting…..Jadi, tggu apa lagi ? silakan masuk antro unair dgn langkah pasti🙂

  35. Buat Prima:
    dibawah ini adalah jawabanQ ketika mendapatkan pertanyaan yg sama dari seorang teman Antro, yg inti pertanyaannya mirip dengan pertanyaanmu;

    “Lembaga ato perusahaan asing biasanya tdk membutuhkan spesifikasi khusus dlm rekruitmennya, artinya semua disiplin ilmu bisa bersaing..cara berpikir yg mengkhususkan disiplin ilmu itulah yg sebenarnya mengkotak-kan Antropologi dalam dunia yg sempit, seolah-olah takut&minder dg disiplin ilmu yg lain. padahal ilmu Antropologi tidaklah demikian adanya..so ngapain hrs berpikir sempit spt itu..Go ahead aja..

    Ilmu Antropologi tidak mencetak seorang “tukang” yg perlu peng-khusus-an dalam bidang kerja kita, krn ilmu Antropologi adalah ilmu yg arogan krn semua bidang bisa tercover didalamnya..mungkin kamu bisa me-review kembali konsep belajar di Universitas, akademi ato sekolah tinggi..

    Di negara yg lebih mengutamakan konsep pertumbuhan ekonomi seperti Indonesia ini memang terjadi spesifikasi seperti demikian. itulah mengapa, banyak instansi di indonesia selalu mensyaratkan disiplin ilmu tertentu utk bidang yg khusus dlm proses rekruitmennya, tragisnya lg anggota masyarakat dan banyak juga mereka yg belajar ilmu2 tertentu tsb seolah-olah mendukung paradigma yg demikian..presepsi bahwa kuliah di ekonomi pasti kerjanya di Bank, kuliah di HI pasti diterima di Deplu, kuliah di Tehnik pasti kerja di perusahaan manufaktur, oil&gas company ataupun pertambangan dstnya. itulah yg aQ maksud bahwa Antropologi dikerdilkan sendiri oleh mereka yg belajar antro dlm ruang lingkup yg sempit..

    Mungkin kita ga terbayang ada alumni Antro yg kerja di industri migas asing yg notabene merupakan lahan orang2 tehnik perminyakan atau pertambangan..dan faktanya memang ada..so, ngapain hrs minder, rasa minder yg dimiliki mahasiswa antro saat ini yg sebenarnya membunuh potensi yg kalian miliki sendiri….sing penting awakmu saiki sinau-o ae..sinau iku ga hanya nang kampus lho, tp aktif nang berbagai kegiatan atau keorganisasian mahasiswa..ga perlu dijupuk doktrin ideologinE tp jupuk ae leadership atau manajemen organisasine..dgn kamu aktif diberbagai kegiatan sekaligus membuka akses networking terhadap berbagai stakeholder minimal yg ada di kampus lah..Welcome to the Club.”

  36. Thanx buat infonya…soalnya ortu saya taunya seh cuman jurusan ekonomi,tekhnik dll…dan jurusan2 seperti ini menurutnya hanya akan menambah segelintir para pengangguran di indonesia alias madesu..hahaha..but asumsi seperti itu saya tidak percaya…suskses atau gaknya orang kan gak tergantung sama disiplin ilmu yg kita bawa…terus saya mau tanya apakah ada prospek ke depan untuk jadi PNS di lembaga/departemen yg ada di indonesia….

  37. oh iya saya juga mau tanya..sebenernya antropologi ragawi itu apa…antro kan pelajaran IPS..kenapa mengaitkan dengan biologi…kesimpulan antro itu ilmu sains apa ilmu humaniora atau yg lain?

  38. Hmmmm….banyak jg ya pertanyaan prima ?
    Scr legal formil, mmg gelar yg diperoleh dari lulusan antro Unair adalah S.Sos, yg dikarenakan ijin pendiriannya masih mengusung “nama” Antropologi Sosial, dan bernaung di bawah Fakultas ISIP.
    Namun demikian, antropologi yg pada awal bangku SMA dikelompokkan IPS, trnyta jg memiliki domain antropologi fisik yg cukup kuat. Lebih jelasnya, anda dpt menanyakannya saat ambil kuliah pengantar antro🙂
    Di Unair, antro malah memiliki bbrapa staf pengajar ragawi yg sgt mumpuni, ada seorang Profesor, dua org doktor dan satu kandidat doktor, yg tentunya telah kenyang pengalaman.
    Soal peluang menjadi PNS. Why not ? Jika anda sdh kuliah, anda dpt ngobrol2 langsung dgn alumnus yg tentunya banyak yg jg telah menjadi PNS.
    Tetap optimis ya ??!!

  39. Hmm..jd kpgn bwt cpt2 kuliah antro:-)..tp sayangnya murid antro hanya 61 taun ini,lain dgn saudara2 antro di FISIP yg muridnya hampir 100..:'(

  40. Ok, smg anda ttp bs terus mempertahankan semangat ini sampai lulus nanti😉
    Kemungkinan thun ini ada 65 anak antro baru, yg tentunya tdk terlalu berdampak thdp kualitas anda jika dibandingkan dgn banyaknya teman seangkatan.
    Pada masa sebelumnya, satu angkatan malah hanya ada sekitar 30an anak saja. Dan menurut kami, itu malah akan lebih menguntungkan, krn anda akan serasa berada di dalam kelas privat dgn tenaga pengajar yg tak kalah kualitasnya dgn Departemen lain.
    Pada mata kuliah umum, anda pun masih bs punya bnyk teman, dan bergaul sekelas dgn mhs Departemen lain di Fisip Unair.
    Yg penting, anda bs mempertahankan semangat dan rasa haus ilmu itu hingga lulus, dan itu tdk mudah !!!
    welcome to the jungle🙂

  41. Hmm…lalu apa perbedaan antropologi dgn arkeologi..?saya hrp antrounair tdk bosan mnjawab pertanyaan saya:-)..saya hny pny prinsip”saya akan brush smaximal mgkn appun kuliahnya”…dan skrg saya sdh dterima di antro unair,hrus konsekuen dgn prinsip saya sebelumnya

  42. Ok…..semua pertanyaanmu akan segera terjawab setibanya anda menjadi warga kampus😉
    Jika dijawab semua di sini, nanti gk jadi kuliah dunk ?! hehehe
    Jadi, tunggu saja tgl mainnya y ?
    Ttp semangat !!!

  43. thanks buat kerabat antrounair, dan endro, dan kerabat2 baik alumni maupun dari antro universitas lain yang sudah nimbrung di diskusi ini. Banyak menjawab pertanyaan seputar apa itu antrop, dan bgmn prospek stlh lulus. Antropologi memang top. Itu juga yg membuat saya tertarik dengan antropologi sejak SMA. Buat Prima, .. semoga tetap semangat buat belajar. Itu yg penting, karena dalam hidup ini kita mestinya tidak pernah berhenti belajar. Kalau tertarik dengan antropologi ragawi; Pak Glinka, bu Toetik, Bu Lucy, dan saya nanti akan siap membimbing.

  44. Terima kasih kpd smua kerabat antro unair dan bu mirth,saya mendengar kehebatan2 dosen ragawi termasuk anda dr presentasi dosen2 saat ospek..luar biasa..saya smakin trtarik dgn ilmu ragawai (meskipun biologi di sma sering dapat 6 :-)) tp itu tidak masalah….maju terus antro

  45. Prima, gak masalah kalau biologi dulu sering dapat 6. Yang sudah berlalu biarkan saja, yg penting semangat hidup yg membentang di depan kita tetap terjaga, dan semangat belajar terus menyala. Mengenai antro ragawi, bahkan yg tidak pernah belajar biologi pun bisa mempelajarinya. OK? sip lah!

  46. Trima kasih atas pencerahannya..saya mungkin beruntung masuk antro dan bertemu dosen hebat seperti anda,j glinka dll yg tentunya sudah banyak ahli dibidangnya

  47. aduuh, jadi malu…. sebenernya…, sejujurnya… saya nggak ngerasa hebat. cuma… sudah belajar lebih dulu dari yang lain (mahasiswa). Yang sudah belajar duluan ya sharing sama yg belum tau. Kalau mahasiswa sudah mbaca duluan, juga boleh kok, sharing sama dosennya. Dosen gak boleh malu kalau belum tau sesuatu. Ilmu itu bukan milik pribadi-pribadi, tapi milik kita bersama.

  48. Saya sudah beli buku antropologi dental karya ibu,isinya sip buangettt..

  49. Oh iya saya dipilih teman2 buat jd komting antro angkatan 09..saya minta bantuan semua kerabatantro mohon saran dan informasi terbaru mengenai antro..

  50. Menarik juga dengar info ada buku Antropologi Dental. Bgm caranya saya bisa peroleh. Saya perlu tambahan info untuk mengajar di pascsarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat USU.
    Sbg tambahan saya ingin katakan bahwa banyak yang bisa dikerjakan oleh antropolog. Yang penting kreatif dan tangkaplah substansi pengetahuannya. Banyak sudah antropolog bekerja di lembaga2 internasional
    Tentang penerimaan PNS, itu mah….tergantung siapa pejabatnya. Kalau yang menjabat antropolog, tentu saja ia akan merekrut antropolog….. jadi sama sekali bukan soal disiplin ilmu.

  51. Sdr. Zuska, tau gitu saya bawakan ke Medan… saya baru pulang dari sana. Buku bisa pesan ke saya. Harganya Rp. 30.ooo saja. Tapi sayangnya perlu ongkos kirim. Coba saya tanyakan dulu berapa ongkos kirimnya. Semakin banyak yg dipesan, ongkos kirimnya semakin murah. Coba saja tanya teman2 di FKG dan FK, barangkali juga ada yg mau pesan. Trims atas minatnya.

  52. saya sedang mencari info lowongan kerja untuk lulusan antropologi , usia maksimal 35 tahun, ,..kalo ada info ya om,
    terima kasih

  53. Jangan cari tapi ciptakan kerja. Banyak yang bisa dilakukan seorang antropolog

  54. salam kerabat,saya irfan dari antrop usu ‘012
    antropologi itu tidak kalah dengan jurusan yang lain,,untuk peluang kerja tergantung kita mau menjadi apa di antropologi itu, bagi kerabat antopologi jangan GALAU dan RISAU karna antropologi itu asik kalau menurut saya jika ditekuni dan diminati..

  55. Setelah membaca koment2 semua ny,,saya menjadi PD untuk mengambil jurusan antropologi-USU!!🙂

  56. Bang !!
    Saya masih SMA kelas 3, barusan ini sih, di sekolah saya ada jurasan Bahasa yang didalam mata pelajaran khasnya antropologi.
    Uhm,,, agak ragu masuk Antro, mungkin karena saya termasuk golongan semi awam, yang gak terlalu banyak tahu dan juga cukup tahu tentang antropologi, Masih dalam pertanyaan yang sama, MAU JADI APA? Ya jawaban pastinya adalah ANTROPOLOG. KERJANYA APA? nah itu, dia abang abang,

    menurut saya, antropologi diibaratkan jembatan, didalam jembatan, didalam jebatannya lagi, yang tidak terhingga. karena antropologi adalah jembatan yang mencari jembatannya sendiri. untuk menghubungkan ilmu ilmu lain. terlihat gila?? iya lah,…

    Bang, minta pencerahannya dong, kalo ambil jurusan Anropologi. Plus minusnya diutarakan ya. Karena di dunia ini, apa lagi pemikiran manusia. Semua nya ada bener dan ada salah nya, sama halnya ada positif dan negatifnya. kenapa? karena kita juga keduanya, sama sama ada dua sisi. kalau kita hanya punya satu sisi, TUHAN kita namanya abang abang. Oke, itu komentar yang cukup pendek dari saya. terimaksih.. buanyak..

  57. Numpang tanya, saya sbnrnya kurang suka pljrn Seni Budaya, jd sy ingin bertanya apakh Antropologi mirip dg Seni Budaya? Dan, yg saya suka adalah mmpelajari negara-negara mulai dari Wilayahnya, Demografinya, Budayanya, Bahasa sampai Sejarahnya. Dan kalo anda tahu jurusan apa yg sesuai dgn yg saya sukai tsb? Apakah Antropologi sesuai dg apa yg saya bicarakan? Trimakasih

  58. Hesy Immaculata

    Menarik sekali pembahasan mengenai antropologi ini ya, sedikit mau share, dulu pas di SMK saya dapat pelajaran antropologi, dan buat saya jatuh cinta.. materi2 pembelajaran yang sangat menarik minat saya, saat ini saya sudah lulus S1 komunikasi dan bekerja menjadi produser di salah satu radio swasta dan sangat tertarik untuk ambil s2 antropologi (mengingat saya sampai sekarang masih tertarik dgn kajian antropologi karena waktu kecil salah satu cita2 terpendam saya ingin menjadi arkeolog, tp setelah tau antropologi jd lebih milih antropologi) buat saya, belajar mengenai sesuatu itu dasarnya bukan dr tujuan nyari pekerjaannya nanti, tp ya dari minat dan passion kita.. mencari ilmu itulah yg terpenting.. tetap semangat dan tetap berkarya..

  59. Antropologi tidak hanya bergantung pada satu ilmu. Antropologi bisa diagabungkan dengan berbagai disiplin ilmu seperti ilmu2 sosial. Saya sendiri berencana melanjutkan studi S2 antropologi, dari sebelumnya S1 komunikasi. Lakukan saja apa yang kamu yakini. Kuliah itu bukan sekedar kerja hehe!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s