Antropologi punya Museum

Untuk pertama kalinya Universitas Airlangga memiliki museum. Atau bahkan mungkin, menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Indonesia yang punya koleksi etnografi di dalam kampus. Pada Sabtu (24/9) 2005 lalu, dilakukan peresmian Museum dan Kajian Etnografi Unair. Tepatnya, berada di depan gedung Fisip, kampus B, Unair. Hal ini merupakan rentetan perjalanan panjang ekspresi ide ke dalam bentuk material. Beruntung, di masa lalu, Unair pernah memiliki orang seperti Prof. Snell dan Dr. Adi Sukadana. Mereka benar-benar memahami arti museum untuk sebuah lembaga pendidikan.

Mahasiswa yang mendapat kuliah tentang kebudayaan, akan menjadi lebih bagus jika belajar dari lapangan. Namun tidak mungkin membawa mereka semua untuk keliling Indonesia, apalagi sampai ke seluruh benua. Maka dari itu, budaya dari suku yang beragam itu, sebisa mungkin dapat difasilitasi melalui keberadaan museum, khususnya museum etnografi. “Museum di Vatikan memiliki gedung lebih besar dari Fisip Unair. Tidak cukup sehari untuk melihat seluruhnya, padahal itu hanya seperempat dari koleksi. Sisanya disimpan di gudang, dan merupakan tempat studi para ahli. Untuk itu saya berharap, mahasiswa menunjukkan semangatnya. Museum ini masih terlalu kecil untuk memuat koleksi Prof. Snell dan Dr. Adi Sukadana,” papar Prof. Glinka SVD.

Sementara itu dalam sambutannya, Dekan Fisip kala itu, Prof. Dr. Hotman Siahaan, lebih banyak berharap agar jurusan Antropologi Fisip Unair mampu mengelola museum dengan baik. “Saya melihat Fisip dahulu pernah jaya, dan dengan museum ini kita akan bisa lebih dikenal. Dengan SDM yang ada sekarang ini, saya yakin Fisip dapat lebih berkembang. Meneruskan apa-apa yang telah diperjuangkan oleh Dr. Adi Sukadana,” terang Prof. Hotman. Menurutnya, museum ini dapat menjadi pusat kajian yang baik bagi Antropologi. “Beberapa dari jurusan Antropologi juga sudah mulai memetakan beberapa temuan yang bisa dimanfaatkan untuk kajian. Hingga kelak juga dapat menambah koleksi museum,” imbuh Dekan Fisip.

Rektor Unair kala itu, Prof. Puruhito, yang meresmikan secara langsung keberadaan museum, terlihat sangat antusias. “Saya senang bahwa museum ini akhirnya bisa terealisir. Dan saya inginkan agar museum ini dibuka untuk umum, merupakan aset bersama. Pihak luar atau turis yang ingin mengunjungi, bisa dibawa ke sini. Lebih jauh, Unair mengharap ada kerjasama dengan pihak pemerintah kota ataupun lembaga museum yang lain. Saya harap kurator dari Antropologi bisa mengatur dengan baik akan hal ini,” ujar Prof. Puruhito. Ke depan, Rektor juga berharap museum ini terisi dengan beberapa peninggalan Prabu Airlangga. Sebagai lambang kebanggan Unair, momentum atas karya bangsa yang telah dirintis oleh Prabu Airlangga.

Penyajian benda-benda di museum seharusnya juga tidak hanya dikemas dengan suatu perspektif tertentu, tetapi juga dari sudut pandang lain. Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat akhir perjalanan benda masa lalu. Tetapi juga sebagai tempat dimana informasi tentang benda itu harus disampaikan. Dan disebarkan kepada masyarakat luas dengan baik.

seum3.jpg

Usai membuka dan menandatangani plakat, Rektor mempersilahkan isteri dari Almarhum Dr. Adi Sukadana untuk menggunting pita, sebagai tanda dibukanya Museum dan Kajian Etnografi Unair untuk umum. “Saya rasa perempuan lebih luwes dalam menggunting pita. Untuk itu, dengan hormat saya persilahkan Ibu Adi Sukadana untuk melakukannya,” pinta Rektor.

* Diunduh dari http://warta.unair.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s