Selayang Pandang Jum’atan, edisi tgl. 18 Mei 2012 *

Salam Kerabat,

Alhamdulillah, agenda Jum’atan edisi tgl. 18 Mei 2012 akhirnya terlaksana. Sebab sebelumnya sempat ada keraguan Jum’atan bulan Mei bakalan batal atau sepi. Mengingat Jum’atan Mei ini bersamaan dengan libur panjang plus cuti bersama peringatan Kenaikan Yesus Kristus.

Saya pribadi salut, karena semangat Kekerabatan kita semua masih tetap terjaga. Bagaimana tidak ? Saya datang ke kampus sekitar pukul 21:00 (saya menuju Galeri, karena pagar Museum Etnografi di gembok dan di galeri ada ‘tanda-tanda kehidupan’ hehehe…). Setiba di galeri saya hanya mendapati 2 orang kerabat, kerabat Zakky ’08 dan Icol ’10 (salam kenal dulur hehehe….) yang sibuk dengan komputer jinjingnya masing-masing. Kobaran semangat kekerabatan ini juga di bawa oleh kerabat Ayak ’01, yang sempat datang ke Museum, tapi berhubung pagernya di gembok, ybs memutuskan untuk pulang (untung kerabat Ayak ’01 tdk memutuskan untuk menjebol pagar museum, karena bagi ybs menjebol pagar semudah merobohkan tenda barak hahahahaha…..piss Yak). Yang bikin saya salut dulur, bebepara menit setelah saya ndeprok di galeri, kerabat Ayak ’01 ini sms saya dan bilang kalo ybs mau ke kampus (lagi) atas inisiatifnya sendiri. Bener-bener istimewa energi kerabat yang satu ini. Tidak mengherankan, kalo kerabat Ayak ’01 ini mendapat kepercayaan sebagai kapten timnas tarik tambang Antropologi selama 4 tahun berturut-turut dan memakan korban satu buah tambang putus, hihihihi…..

Kalo ngomong semangat dari Kerabat Antropologi Unair gak bakal ada habisnya, gak ada matinyeee. Untuk itu saya dedikasikan 4 jempol saya untuk KERABAT Antropologi Unair, sekali lagi…..hanya untuk KERABAT Antropologi Unair, bukan yang lain. Grazie…

******

– BAGIAN 1 –

Pada agenda Jum’atan, edisi tgl. 18 Mei 2012 ini memang tidak ada tema spesifik untuk di diskusikan. Tapi bukan berarti tidak ada yang di diskusikan. Pasti ada SESUATU (yang bisa di diskusikan) ☺☺☺…… Diskusi kecil akhirnya terjadi antara saya, Ayak ’01, Zakky ’08 dan Ichy ’09. Peniup peluitnya adalah Ichy ’09. Wacana yang disajikan oleh Ichy ’09 adalah Bubble Brand Culture. Berdasarkan artikel hasil googling yang dibaca Ichy ’09, bubble brand culture ini adalah perkembangan dari fenomena Tribal Culture Cloth. Tribal Culture Cloth menurut artikel hasil googling yang dibaca Ichy ’09 adalah ukuran kenyamanan seseorang dalam mengenakan baju, pakaian atau busana. Kenyamanan ini biasanya dapat diukur dari bahan kain, ukuran baju, harga yang ditawarkan. Masyarakat pendukung tribal culture cloth ini sepertinya mengembalikan lagi fungsi pakaian sebagai kebutuhan primer.

Pada perkembangannya, pola pikir fungsional mengalami pergeseran. Pakaian atau baju yang awalnya berfungsi sebagai penutup tubuh, mengalami ‘penambahan’ fungsi. Saat ini pakaian juga memiliki fungsi sosial yaitu sebagai penanda status sosial (simbol status) dan pembentukan identitas personal maupun komunal. Menurut Zakky ’08, secara umum produsen akan memberikan ‘identitas’ khusus pada barang-barang buatannya, yang bertujuan semata-mata untuk memetakan pasar mereka. Zakky mencotohkan pada produk pembersih muka, Bi*re yang dibedakan berdasarkan gender, Bi*re For Men dan Bi*re For Women. Menurut Zakky, apakah konsumen tahu bahan-bahan yang digunakan pada produk tersebut apakah yang seseuai dengan kulit laki-laki dan kulit perempuan ? Kalo konsumen sudah tahu bahannya, apa efeknya jika Bi*re For Men dipakai perempuan dan sebaliknya ? Konsumen akan cenderung ‘percaya’ bahwa sebuah produk itu untuk mereka ketika sudah dilabeli simbol-simbol sosial. Sabun A untuk dewasa, sabun B untuk anak-anak. Shampo warna ungu untuk rambut rontok, yang warna hijau untuk masalah ketombe. Menurut kerabat Ayak ’01, yang merupakan pemerhati lifestyle and entertainment station, beberapa produsen hijab sengaja menahan peluncuran produknya hanya untuk memetakan selera pasar. Ayak ’01 menambahkan, produsen hijab tersebut terlebih dahulu mempopulerkan produknya dengan membentuk komunitas-komunitas penggemar hijab. Begitu komunitas-komunitas tersebut sudah mulai mapan, anggotanya bertambah dan sudah memiliki cabang di beberapa kota, barulah produsen tersebut memasarkan produknya secara massal. Ehhmmm, istimewa sekali ya dulurs…..

Zakky beranggapan, strategi pemetaan pasar tersebut tidak bisa lepas dari apa yang dinamakan politik identitas yang terjadi antara produsen dan konsumennya. Dari definisi asalnya, menurut Young dalam Komunikasi dan Politik, politik identitas diartikan sebagai mode pengorganisasian yang berkaitan erat dengan gagasan atau ide tentang terjadinya penindasan terhadap kelompok sosial yang berkaitan dengan identitas mereka (ras, etnis, gender, sesksualitas, kelas dll), namun karena banyaknya pilihan identitas yang tersedia, akhirnya menyebabkan seseorang yang memiliki multi-identitas menjadi lebih mudah bila melakukan politisasi. Legitimasi akan kelas politik penting sifatnya karena interpretasi hanya bisa dilakukan oleh pihak yang berkuasa atau memiliki otoritas (Ri2nae Lah: Politik Identitas dan Perang Gaya Baru, browsing).

Ok, kembali ke topik. Terlepas dari adanya pengaruh politik identitas atau tidak, Ichy ’09 berpendapat bahwa kemunculan bubble brand culture di pengaruhi oleh adanya arus globalisasi. Benang merah yang menghubungkan politik identitas dan globalisasi menurut saya adalah adanya krisis identitas global. Menurut Parekh, dalam A New Politics Of Identity: Political Principles For An Interdependent World (2008), globalisasi memang menantang identitas-identitas tradisional suku, budaya, agama atau bahkan identitas nasional. Tantangan itu terjadi karena globalisasi tampak menghapus batas-batas suku, budaya, agama, negara dan batas-batas sosial lain, seperti gender atau orientasi seksual. Di hadapan globalisasi, batas-batas tradisonal yang memisahkan antar suku, budaya, agama dan negara tampak menghilang. Menghadapi tantangan global seperti ini, suku, budaya, agama, negara serta batas sosial yang lain tidak ada pilihan lain kecuali beroperasi di dalam sebuah konteks historis yang baru, mengikuti semua perubahan dan mengambil langkah pemahaman baru termasuk pemahaman atas krisis identitas tradisional yang lama melekat dalam diri anggota masyarakat. Identitas merupakan tema sentral di hadapan globalisasi. Sentralnya tema ini bisa dipahami karena globalisasi membawa efek historis baru yang tak bisa dipungkiri yang sebuah masyarakat global atau lebih khusus lagi sebuah masyarakat multikultural (G. Faimau: Politik Identitas Yang Baru, browsing Google).

Untuk memahami wacana bubble brand culture, Ichy ’09 mencontohkan fenomena sosial yang terjadi yaitu pada pemilihan merek (brand) tertentu yang dilakukan oleh para sosialita di Surabaya. Menurut Ichy, para sosialita tersebut memiliki kecenderungan untuk memilih merek tertentu untuk produk pakaian wanita. Mereknya adalah Mini**l. Alasannya sederhana, merek tersebut memiliki harga yang sangat superrr sekaleee. Konon, yang paling murah harganya Rp 400.000. Dengan menggunakan merek tersebut, para sosialita akan merasakan peningkatan status sosial, meski menurut Ichy, koleksi merek Mini**l para sosialita tersebut bisa dihitung dengan jari. Praktis, merekapun harus menggunakan koleksi bajunya yang cuma beberapa helai itu berkali-kali, karena yang mereka pentingkan adalah sisi prestisnya, bukan kualitas apalagi fungsinya, seperti yang terjadi pada masyarakat pendukung tribal culture cloth.

Tidak ada kesimpulan dalam diskusi ini. Yang bisa kita pelajari dari wacana Bubble Brand Culture ini adalah bagaimana sebuah pola pikir manusia berpengaruh pada cara manusia itu berpakaian. Bahkan dengan pakaian, seseorang maupun sekelompok masyarakat bisa mendapatkan status, nilai, penghargaan bahkan identitas sosial secara personal dan komunal.

Kepustakaan:

Young, Komunikasi dan Politik – – Ri2nae Lah: Politik Identitas dan Perang Gaya Baru, browsing Google, search: konsep+politik identitas

Parekh, Bhiku, 2008, A New Politics Of Identity: Political Principles For An Interdependent World – – G. Faimau: Politik Identitas Yang Baru, browsing Google, search: konsep+politik identitas

Sesuatu sekaliii…

BAGIAN 2 –

Obrolan ringan juga sempat melintas di arena Jum’atan. Kali ini melibatkan hampir semua peserta Jum’atan. Yang kami bicarakan adalah tentang Internal Audio (IA). Menurut informasi dari kerabat Ayak ’01, IA adalah salah satu badan semi otonom (BSO) yang ada di kampus FISIP, UNAIR. Menurut kerabat Ayak ’01, IA muncul pada tahun 1994. Salah satu penggagasnya adalah mas IGAK Satriya, mantan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi angkatan ’94 (?), yang saat ini juga tercatat sebagai staf pengajar di jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip, Unair. Pada prosesnya, IA mengalami berbagai dinamika. Dari yang saya tahu, IA sempat mati suri. Sebab, pada tahun 1998, saya tidak mendengar gaungnya IA. Saat itu IA kalah pamor dengan BSO lain, seperti KINE KLUB, untuk para penggemar film; PUSKA, salah satu BSO-nya teman-teman seniman teater; RETORIKA, BSO yang membidangi jurnalistik kampus; SKI & SKK, yang membidangi kerohanian dan satu lagi LIGA ANTROPOLOGI hehehe… Yang terakhir ini adalah mantan-calon BSO ☺. Disebut mantan-calon karena saat itu sempat ada wacana untuk menjadikan LIGA ANTROPOLOGI sebagai BSO. Tapi dikarenakan minimnya pembahasan, akhirnya keinginan untuk menjadikan LIGA ANTROPOLOGI sebagai satu-satunya BSO yang membidangi olahraga (rencananya bukan cuma sepak bola aja lhooo…) menjadi terlupakan, sampai sekarang (maafkan kami ya dulursss…). Sebenarnya jurusan Antropologi memiliki satu lagi aktivitas kreatif yang juga layak di-BSO-kan. Namanya PALAGA kependekan dari Pecinta ALAm Gaib Antropologi. Sesuai dengan namanya, PALAGA memfokuskan diri pada aktifitas alam dan aktivitas metafisika. Konon, para dukun Antropologi periode 1993 s/d 2003, yang membaiat kerabat baru di Inisiasi/KKA ‘lahir’ dari PALAGA ini. Tapi senasib dengan ‘adiknya’, PALAGA juga belum sempat di-BSO-kan. Bahkan sampai sekarangpun namanya sudah tidak terdengar lagi. Sayang sekali…..😦

Jika ada kesempatan, kapan-kapan kita ngobrol tentang 2 ekstra kurikuler kebanggaan Antropologi Unair ini dulurs. Tentunya akan lebih mantabzzz lagi jika para pioner masing-masing ekskul juga bisa hadir, mengingat 2 ekstra kurikuler ini memiliki nilai sejarah tersendiri di jurusan ANTROPOLOGI, FISIP, UNAIR. Dan saya yakin adik-adik kerabat di kampus ingin tahu sejarah dan dinamika PALAGA dan LIGA ANTROPOLOGI.

Kok jadi melebar kemana-mana yak ? Sori-sori, saya lagi semangat beromantika nech hehehe…. Kembali ke IA. Sedikit cerita tentang IA, versi saya. Kira-kira tahun 2000, salah satu kerabat kita, almarhum Janardhana Barata, angkatan ’99 (semoga beristirahat dalam damai dulur…), bergabung di kepengurusan IA. Rasa ketertarikan Janar ’99 terhadap dunia broadcasting ternyata dapat menghidupkan kembali ‘urat nadi’ Internal Audio, satu-satunya radio internal di Universitas Airlangga saat itu. Bersama kawan-kawannya di IA, Janar ’99 mengupayakan supaya IA dapat menjadi media komunikasi dan hiburan bagi ‘warga’ Fisip Unair, bukan hanya bagi mahasiswa, tapi juga staf, dosen, pemilik dan penjaga kantin di kampus Fisip Unair.

Pada masa kepengurusan Janar dkk, IA sempat memiliki beberapa penyiar, yang di dominasi kaum hawa. Saya ingat penyiar-penyiar IA ini sambil membawa beberapa kertas kecil dan pulpen, berjalan di sepanjang koridor kantin, mendatangi tempat nongkrong mahasiswa Fisip, temasuk mampir di Goanya kerabat Antropologi hanya untuk menanyakan kita mau request lagu apa, nitip salam kesiapa, salamnya apa ? ”Mas, namanya siapa, mau request lagu apa, kalo lagunya gak ada diganti gak pa-pa ya” atau ”mas, mau nitip salam ke siapa, tulis aja di sini, sekalian tulisin salamnya apa ? ”. Begitu kira-kira aktivitas teman-teman IA dari divisi penyiaran.

Tapi begitu masuk jam 1 siang, saat semua mahasiswa kembali ke kelas untuk kuliah atau sebagian sudah ada yang meninggalkan kampus, sedulur-sedulur Antropologi silih berganti masuk ke studio. Niatnya cuma satu, ngelist lagu kesukaannya sendiri-sendiri. Biasanya yang di list lagu-lagu rock, yeahhh \m/. Kalo lagu-lagunya sudah di list, kerabat Antropologi kembali ke Goa, leyeh-leyeh di kursi panjang dan badugan sambil menikmati sebatang rokok dan tentunya di temani lagu-lagu rock. Aktivitas leyeh-leyeh ini berlangsung sampai menjelang Maghrib dan hampir setiap hari dulurs. Sampai-sampai pak Slamet, penjaga kampus dan pak Agung, bagian perlengkapan sering mengingatkan kami, kalo hari sudah menjelang petang dan kampus harus segera di kunci. ” Gak buyar ta rek ? ” tanya pak Slamet. Atau, ” gak mulih…mulih arek-arek iki ? ” ujar pak Agung saat itu. Wajar jika bapak-bapak tersebut mengingatkan, karena sampai hampir jam 5 sore, cuma kamilah mahasiswa yang masih bertahan di dalam kampus dalam kondisi kolar-koler gak jelas hahaha…..

Kalo tidak salah, sekitar tahun 2002, kerabat Janar ’99 berpulang. Benar dulur, beliau meninggal dunia. Menurut informasi, Janar di diagnosa menderita demam berdarah. ‘Sepeninggal’ kerabat Janar, IA kehilangan semangat untuk tetap eksis. Memang faktanya, Janar dan kawan-kawanlah yang membuat IA kembali dipertimbangkan sebagai salah satu BSO yang potensial untuk menampung minat dan bakat mahasiswa Fisip di dunia broadcasting. Tapi dulurs jangan lupa, Janar adalah salah satu Kerabat Antropologi Unair. Janar tidak akan meninggalkan sesuatu yang dibangunnya tanpa ‘ahli waris’. Tanpa gembar-gembor yang berlebihan, tongkat estafet kepengurusan IA diserahkan kepada kerabatnya sendiri, yaitu Bachtiar Rahman Edi atau yang akrab di panggil Ayak, angkatan 2001.

Sama halnya dengan almarhum Janar, Ayak dkk meneruskan eksistensi IA, bukan hanya sebagai media hiburan (entertainment) saja. Tapi lebih dari itu, Ayak ’01 juga memberikan sentuhan gaya hidup (lifestyle) bagi mahasiswa Fisip melalui media Internal Audio (IA). Tidak mengherankan apabila Ayak sedikit emosi, ketika adik-adik kerabatnya, seperti Zakky ’08, Ichy ’09, Ryan ’10 menginformasikan bahwa saat ini IA gosipnya akan dijadikan sebagai salah satu program hima oleh salah satu jurusan di Fisip. ”Gak iso iku. IA iku BSO. Gak oleh diklaim karo jurusan, opo maneh dadi programe himane. Nek perlu aku tak melok ngomong (sambil mesam-mesem, hehehe)”. Begitulah reaksi Ayak saat itu. Wajar jika Ayak bereaksi seperti itu, karena Ayak adalah salah satu orang di Fisip yang memiliki andil dalam upaya menyelamatkan IA dari mati suri untuk yang kedua kalinya. ”Arek-arek iku gak ngerti sorone ngusungi ampli teko omahku nang kampus. Gak ngerti sorone masang sound system nang kampus”, cetus Ayak masih dengan nada emosi, tapi tetap lucu hehehe…..

Wacana yang berkembang, beberapa kerabat Antropologi sudah berusaha untuk menemui salah satu mahasiswa jurusan yang mengklaim IA sebagai program himanya, untuk membicarakan perihal diaktifkannya kembali Internal Audio (IA). Tindakan ini dilakukan karena kunci studio IA di bawa oleh mahasiswa yang melakukan klaim sepihak tersebut (lhoooo durung ngerti arek iku hihihihi….). Bahkan menurut informasi dari kerabat mahasiswa, perwakilan kerabat Antropologi sudah menemui institusi BEM Fisip untuk memediasi niat baik tersebut. Niat baik beberapa kerabat itu bukan untuk mengambil alih atau mengekspansi IA untuk kepentingan sendiri. Tapi lebih dari itu, untuk memberikan ruang bagi kerabat mahasiswa dan mahasiswa jurusan lain untuk ikut berpartisipasi dan berekspresi di IA.

Kerabat, kalo memang SESUATU itu bernama niat baik, maka tidak ada salahnya untuk diperjuangkan. Dalam prosesnya nanti yang mendapatkan manfaat bukan hanya kita saja, tapi manfaatnya juga bisa dinikmati orang lain. Internal Audio hanya salah satu dari banyak hal yang bisa kerabats optimalkan manfaatnya. Yang penting kita tidak (mudah) menyerah dan tetap mengusahakan yang terbaik untuk diri kita, lingkungan dan orang-orang terkasih……

* BAGIAN 2 ini di dedikasikan untuk (alm) Janardana Barata (1979-2002), Kerabat Antropologi Unair, angkatan 1999. Semoga semangatnya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Amin *

Kerabat, tulisan ini hanya sekedar apresiasi tanpa tendensi. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Mohon maaf juga jika ada kesalahan penulisan nama dan angkatan, juga kesalahan-kesalahan yang lain. Mohon koreksinya. Suwun.

– Damai Di Bumi, Damai Di Hati –

Daftar hadir Jum’atan, edisi tgl. 18 Mei 2012:

1. Iyok ’98
2. Ayak ’01
3. Roikan ’03
4. Kuro ’05
5. Djinggo ’06
6. Bundo ’07
7. Zakky ’08
8. Grandong ’08
9. Ichy ’09
10. Japrok ’09
11. Ryan ’10
12. Icol ’10/’11
13. Faktiawan ’11
14. …..

Ada beberapa muka baru yang saya kurang familiar. Ditambah saya juga (mohan maaf) tidak bisa menghafal nama-nama kerabat baru. Jadi, yang merasa hadir tapi namanya belum tercantum, kalo tidak keberatan absennya yang masih kosong mohon diisi ya….. Suwun maneh.

[Di copy dari FB Grup KELUARGA -Iyok Wic]

Lowongan di Perusahaan Minyak

Hess Corporation; Community Development Officer

Posting date: March 14, 2012
Expiry date: March 28, 2012

——————————————————————————–

Hess Corporation is a leading global independent energy company, engaged in the exploration and production of crude oil and natural gas, as well as in refining and in marketing refined petroleum products, natural gas, and electricity. Our vision is to maximize shareholder value by enhancing financial performance and providing long-term profitable growth. We attract and motivate highly talented people who embrace their work with a passion to be the best. Hess Corporation has offices in 20 countries across six continents. The company s headquarters is in New York City, with key regional headquarters in Houston; London; Kuala Lumpur, Malaysia and Woodbridge, N.J.

Currently we have a position open as Community Development Officer (08009).
Located in the Onshore Processing Facility in Gresik, Surabaya, the employment status of this position is Third party Contractor.

POSITION SUMMARY:

1. Provide technical supports in annual and quarter planning, implementing and monitoring SR programs
2. Provide management support and advice in seeking collaboration with appropriate institutions or non government organizations (NGOs) to advance the delivery of SR program initiatives
3. Lead and deliver the approved CD programs within budget and time planning
4. Report directly to CDCR Coordinator at Gresik; weekly, monthly, quarterly and annual report
5. Provide support in communicating SR plan with CR function and any respected function within Hess organization
6. Provide supports to the rest of team in handling any social issues, as part of CDCR team
7. Ensure all SR program comply with ED 26 and ED 28

Technical competencies:

• Bachelor degree/S1 in related field of social science, community development with 4 years experience in development work in rural and urban communities; or
• Relevant University degree with 8-10 years of comprehensive experience in development work in both divers and remote environments

Non-technical competencies:

• Project management skill
• Self management to work independently
• Logical thinking with sound judgment and problem solver
• Community empowerment focus
• Mature personality
• Communication skill
• Conflict Resolution

Basic skill:

Fluency in English (speaking and writing) and local language (preferable). Microsoft office basic skill, MS Project (preferable)

Experience:

• Facilitating local stakeholders, especially communities and society groups
• Managing community development
• Has experience in working in East Java coastal area (preferably)
• A minimum of 4 years experience in a similar role in oil and gas company (KKKS) will be a plus

For more information and to apply online, please visit http://www.hess.com/careers and search E&P Jobs no later than 28 March 2012. Put the number you wish to apply in job number box in search criteria page. Please upload your resume and answer the eligibility question truthfully as this will be your requirements to apply. For those of you who do not upload your resume and complete the eligibility question, your application will not be identified as valid application and will not be processed.

Please note that only shortlisted candidate will be invited for interview.

Rekrutmen Fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi Jawa Timur

Rekrutmen Fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan Provinsi Jawa Timur

 

Sekretariat Provinsi Jawa Timur
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Mandiri Perdesaan
Membutuhkan tenaga-tenaga profesional untuk posisi:

A1. Fasilitator Kecamatan (Kode: FK)
A2. Asisten Fasilitator Kecamatan (Kode: As.FK)

  • Pendidikan semua bidang ilmu (Umum) S-1 dan D-3 (Umum)
  • S-1 berpengalaman dalam bidang Program Pemberdayaan Masyarakat minimal 3 (tiga) tahun atau D-3 berpengalaman dalam bidang Program Pemberdayaan Masyarakat minimal 5 (lima) tahun
  • Mengenal budaya dan adat-istiadat lokasi tugas, diutamakan dapat berbahasa daerah di tempat lokasi tugas
  • Diutamakan mampu mengoperasikan komputer, terutama Program Microsoft Office
  • Sanggup bertempat tinggal di lokasi penugasan
  • Pada saat melamar usia maksimal 45 (empat puluh lima) tahun

B1. Fasilitator Teknik (Kode: FT)
B2. Asisten  Fasilitator Teknik (Kode: As.FT)

  • Pendidikan S1 dan D-3 bidang Teknik Sipil
  • Berpengalaman dalam kerja yang relevan dengan program/proyek pembangunan infrastruktur minimal 3 (tiga) tahun untuk S-1 atau minimal 5 (lima) tahun untuk D-3
  • Mengenal budaya dan adat-istiadat lokasi tugas, diutamakan dapat berbahasa daerah di tempat lokasi tugas
  • Diutamakan memiliki pengalaman berorganisasi dan pernah aktif di kegiatan pemberdayaan masyarakat, pekerjaan sosial maupun kegiatan pendampingan masyarakat lainnya
  • Diutamakan mampu mengoperasikan komputer, terutama Program Microsoft Office
  • Sanggup bertempat tinggal di lokasi penugasan
  • Pada saat melamar usia maksimal 45 (empat puluh lima) tahun


Ketentuan:
Lamaran lengkap (Surat Lamaran, CV, Pas Foto berwarna 4×6 : 2 lbr, Foto kopi KTP, Foto kopi Ijazah & Transkrip Nilai yang dilegalisir) dikirim ke:
SEKRETARIAT PNPM MANDIRI PERDESAAN
PROVINSI JAWA TIMUR
Jalan Ahmad Yani No. 152 C, Surabaya
Surat Lamaran paling lambat tgl. 17 Pebruari 2012 pukul 15.00 WIB diterima Panitia Rekrutment dengan mencantumkan Kode Posisi yang dilamar pada pojok kanan atas.

KKA sebagai “Sebuah Proses Menjadi”

“Sebuah proses menjadi,” demikian ujar Prof. Dr. L. Dyson tatkala mengomentari foto pelaksanaan KKA 2011 dalam suatu jejaring sosial. Memang pelaksanaan KKA tahun 2011 kemarin, tergolong semarak. Setidaknya itu tercermin dari banyaknya dosen Antropologi yang hadir kala itu. Selain Prof. Dr. L. Dyson dan Ketua Departemen Antropologi, Sri Endah Kinasih, M.Si., tampak hadir Djoko Adi Prasetyo, M.Si., dan Budi Setiawan, M.A., selaku dosen pembina. Selain itu, hadir pula Dr. Toetik Koesbardiati, yang selain dosen, juga mewakili alumni (KELUARGA).

KKA merupakan singkatan dari Kemah Kekerabatan Antropologi, sebagai ritual ucapan “selamat datang” bagi mahasiswa baru Antropologi Universitas Airlangga. Ada juga yang mengenalnya sebagai Kemah Keakraban Antropologi. Bahkan secara berseloroh, ada pula yang menyebutnya sebagai Kamp Konsentrasi Antropologi.

Biasanya, KKA ini dilaksanakan pada medio tahun pertama bagi mahasiswa baru Antropologi. Disebut kemah, karena memang, KKA ini selalu digelar di luar kampus. Tepatnya, dilaksanakan pada suatu bumi perkemahan yang dipilih secara khusus.

“Pertama kali saya mendengar tentang KKA banyak hal negatif yang saya bayangkan. Tetapi, setelah saya mengikuti seluruh kegiatan KKA, saya menjadi kian yakin bahwa Antropologi memang pilihan yang tepat untuk saya !” demikian ungkap mahasiswi Antropologi angkatan 2011, ditemui sesaat setelah mengikuti kegiatan KKA baru lalu.

KKA selalu menyajikan dialektika yang menarik di permukaan. Bagi Universitas lain yang memiliki program studi Antropologi, kegiatan semacam KKA ini kerap disebut sebagai Inisiasi Mahasiswa Baru. Jadi, bagi mahasiswa Antropologi, KKA ini bukan sekedar ajang Ospek yang sengaja digelar di tingkat Prodi.

Inisiasi, memang sebuah istilah yang telah dikenal luas di kalangan antropolog. Inisiasi ini, sebagaimana pernah dinyatakan oleh Mordecai Marcus, diartikan sebagai bagian dari masa kecil, menuju remaja, hingga kemudian keanggotaannya dapat diterima secara penuh dalam adult society. Agar dapat diterima, biasanya inisiasi juga melibatkan beberapa jenis ritual simbolis.

Dalam kajian sastra, istilah inisiasi ini, diakui telah dipinjam dari Antropologi, dan dikemukakan untuk yang pertama kali setelah Perang Dunia II. Merujuk pada pendapat Freese, maka J.E. Gotowos menulis deskripsi yang melukiskan inisiasi sebagai sebuah langkah menuju pemahaman diri. Inisiasi menggambarkan sebuah episode untuk mendapatkan wawasan dan pengalaman, dimana pengalaman ini umumnya akan dianggap sebagai tahapan penting dalam menuju kedewasaan. Pada karakteristik yang lain, inisiasi menekankan pada aspek dualitas, berupa hilangnya kepolosan melalui sebuah pengalaman menyakitkan, namun diperlukan. Bahkan dapat disebut sebagai keuntungan dalam memperoleh identitas.

Selain itu, pengalaman inisiasi, baik itu berupa aturan, tugas dan perilaku yang dipelajari, memang sengaja diaktifkan agar dapat menjadi anggota penuh dari sebuah masyarakat. Di sini, inisiasi berfokus pada pengalaman individu dan konsekuensinya, hingga bersandar pada aspek sosiologis inisiasi. Pada aspek yang lain, inisiasi dapat menjelaskan proses penemuan antara “diri” dan “realisasi diri”, yang pada dasarnya dapat diartikan sebagai proses individuasi.

Satu hal penting yang perlu disampaikan, jika memang KKA dapat diartikan sebagai suatu bentuk inisiasi, KKA pun akan memiliki agenda untuk mengajak mahasiswa baru, guna mengalami perubahan sehubungan dengan pengetahuannya tentang dunia atau diri mereka sendiri, perubahan karakter, atau keduanya.

Dan yang terpenting, perubahan ini harus merujuk pada titik yang sanggup membawanya menuju dunia “orang dewasa”. Meski KKA juga merefleksikan beberapa bentuk ritual, namun dalam tantangannya, KKA juga harus mampu memberikan beberapa bukti bahwa perubahan positif itu, setidaknya cenderung memiliki efek yang permanen.

“Banyak hal yang bisa saya dapatkan dari kegiatan KKA ini. Mulai dari pembelajaran tujuh unsur budaya, mempraktekkan tentang apa itu Antropologi Visual, hingga menyerap rasa persaudaraan yang kental. Bisa dikatakan KKA 2011 ini, tidak bisa dilupakan begitu saja ! Penyambutan calon kerabat dengan tari-tarian hingga acara inisiasi yang telah menyambut kedatangan kita sebagai Kerabat Antropologi. KKA ini mengajarkan saya hal-hal baru,” pungkas salah seorang peserta KKA 2011 Antropologi Universitas Airlangga. (dev)

Raih Gelar Doktor, Bu Pinky Gelar Tasyakuran

Salah satu langkah besar yang diraih Departemen Antropologi tahun 2011 lalu adalah capaian gelar Doktor bagi salah seorang dosennya yang menjalani studi lanjut. Siapa tak kenal Pinky Saptandari ? Segudang prestasi dan aktivitas telah ia raih. Sebut saja Pinky Saptandari pernah menjadi anggota Konsorsium Swara Perempuan (KSP) Surabaya, Dewan Redaksi Warta BK3S Jawa Timur, Sekjen Dewan Kota Surabaya, hingga ketika ia dipercaya sebagai Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Bu Pinky, begitu ia biasa disapa oleh mahasiswanya, merupakan salah satu dosen Antropologi Universitas Airlangga yang kiprah dan pengabdiannya telah dikenal luas. Bagi Departemen Antropologi, Bu Pinky tergolong dosen yang sangat dibanggakan oleh mahasiswanya. Setelah berhasil meraih gelar doktornya, Departemen Antropologi pun berinisiatif untuk menggelar acara tasyakuran.

Bertempat di Ruang Adi Sukadana, gedung FISIP lt II, Kampus B UNAIR, karangan bunga di pintu depan seakan turut menunjukkan kemeriahan acara tasyakuran pada siang hari itu. Selain dihadiri oleh Ketua Departemen, acara tasyakuran juga dihadiri oleh Wakil Rektor, Dekan FISIP, serta beberapa dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa di lingkungan FISIP Universitas Airlangga.

Sementara upacara promosi sendiri, telah berlangsung pada hari Rabu, (14/12) baru lalu di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Bu Pinky berhasil memperoleh gelar doktor melalui disertasinya yang berjudul “Kebijakan Kesehatan Reproduksi dalam Wacana Tubuh Perempuan: Perspektif Filsafat”. Bertindak selaku promotor adalah Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi, serta Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto dipercaya selaku ko promotor. Sejak itu, Bu Pinky dinyatakan berhasil meraih gelar doktor ilmu pengetahuan budaya dari Universitas Indonesia. Dan karenanya, kini nama lengkap Bu Pinky pun bertambah panjang menjadi Dr. Pinky Saptandari W, dra., MA.

“Hal ini juga sebagai suatu prestasi yang membanggakan bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, sebab Bu Pinky, dengan menjadi penyelamat untuk Fakultas, yaitu satu-satunya dosen yang meraih gelar Doktor di tahun 2011 ini,” demikian tukas Drs. I. Basis Susilo, MA., selaku Dekan FISIP Universitas Airlangga.

Sementara itu, Bu Pinky tampak sangat terharu atas acara tasyakuran yang diselenggarakan ini. Untuk menambah semarak, acara tasyakuran menampilkan tim paduan suara dari Departemen Antropologi, serta Tari Gandrung yang juga dibawakan oleh mahasiswa Antropologi, Arry Setiawan. Selain itu, Departemen Antropologi juga berkesempatan menyerahkan kenang-kenangan yang disampaikan oleh Sri Sanituti Hariadi, SH, M.Si., selaku dosen senior pada Departemen Antropologi yang juga mantan Dekan FISIP Universitas Airlangga. (rez)

Sumber : http://antro.fisip.unair.ac.id/berita.antro.php?tl=Raih%20Gelar%20Doktor,%20Bu%20Pinky%20Gelar%20Tasyakuran

Selamatkan Permainan Anak Tradisional

Departemen Antropologi mendapatkan kesempatan mengisi acara “Thanks to Nature” yang diselenggarakan di Taman Flora Surabaya, (1/12) baru lalu. Kali ini, Antropologi Universitas Airlangga memilih tema stan “Permainan Anak Tradisional”. Tema ini sengaja diangkat oleh Himpunan Mahasiswa Antropologi, ketika melihat keadaan permainan anak tradisional, yang kini, terasa sudah tidak memiliki peminat, bahkan telah dilupakan.

Permainan tradisional atau biasa disebut folkgames ini, perlahan terasa mulai terpinggirkan. Bahkan melalui film kartun yang diproduksi oleh Negara tetangga, beberapa permainan anak tradisional terkesan bukan lagi menjadi milik bangsa Indonesia. Melalui tontonan tersebut, anak Indonesia mengenal permainan tersebut sebagai tuntunan yang justru disajikan oleh bangsa lain. Kini, semua anak mulai beralih memainkan gadget-gadget cangih.

Sejalan dengan itu, sebagai dukungan kepada pemerintah Kota Surabaya yang berupaya menjadikan Surabaya sebagai Kota Layak Anak (KLA), maka Departemen Antropologi UNAIR tergerak untuk berpartisipasi. Masyarakat didorong untuk memperkenalkan dan mewariskan permainan rakyatnya kepada anak-anak di lingkungan mereka masing-masing.

Istilah tak kenal, maka tak sayang, memang masih berlaku di sini. Jika kembali dicermati, sebenarnya permainan anak tradisional di Indonesia sangat beragam dan menarik. Contohnya; ada permainan dakon, egrang, yoyo, gasing, pistol-pistolan kayu, layang-layang, holahop, gelembung sabun dan masih banyak lagi. Ada juga beberapa permainan anak tradisional yang harus diakui juga memiliki banyak manfaat. Misalnya, karenanya anak pun menjadi lebih kreatif, berguna bagi pengembangan kecerdasan majemuk anak, hingga bisa digunakan untuk terapi pada anak. Dan yang terpenting, anak menjadi mudah bersosialisasi dengan teman sebaya, sekaligus bangga sebagai pewaris kekayaan budaya bangsanya.

Dibukanya “Permainan Anak Tradisional” oleh Antropologi UNAIR ternyata cukup berhasil menarik animo. Stan itu pun sangat ramai dikunjungi oleh anak-anak yang ternyata juga penasaran dengan keberadaan permainan yang ditampilkan. Bahkan banyak dari mereka yang ternyata tidak mengenal nama-nama permainan tradisional yang dipamerkan.

Mengetahui pengunjungnya mulai kebingungan, dengan sabar mahasiswa Antropologi menjelaskan serta mengajarkan cara permainan tersebut. “Ini begini cara mainnya, Dik”, ujar salah seorang mahasiswi.

Dalam kesempatan itu, panitia juga membagikan permainan secara cuma-cuma. “Iya, agar anak-anak bisa memainkannya di rumah,” tutur salah seorang pengurus Hima Antropologi UNAIR. Ekspresi yang jarang didapat ketika mereka hanya bermain game di depan komputer, terpancar manakala anak-anak mulai memainkan permainan yang diberikan. Tak ayal, saat itu tidak hanya anak-anak saja yang merasa terhibur, para orang tua pun banyak yang mengaku tertarik dan bahkan ada juga yang ikut bermain.

“Sekalian nostalgia,” celetuk para orang tua. Menurut mereka, acara semacam ini harusnya dapat digelar secara rutin. Selain untuk menjaga kebudayaan bangsa, acara semacam ini juga mereka yakini dapat memberikan kebahagiaan bagi keluarga.

Sumber : http://antro.fisip.unair.ac.id/berita.antro.php?tl=Selamatkan%20Permainan%20Anak%20Tradisional

Hess Corporation ; Community Development Officer

Hess Corporationis a leading global independent energy company, engaged in the exploration and production of crude oil and natural gas, as well as in refining and in marketing refined petroleum products, natural gas, and electricity. Our vision is to maximize shareholder value by enhancing financial performance and providing long-term profitable growth. We attract and motivate highly talented people who embrace their work with a passion to be the best. Hess Corporation has offices in 20 countries across six continents. The company s headquarters is in New York City, with key regional headquarters in Houston; London; Kuala Lumpur, Malaysia and Woodbridge, N.J.

Currently we have a position open in our Surabaya office (OPF – Onshore Processing Facility) as Community Development Officer (05596)

Position Summary:

1. Provide technical supports in annual and quarter planning, implementing and monitoring SR programs
2. Provide management support and advice in seeking collaboration with appropriate institutions or non government organizations (NGOs) to advance the delivery of SR program initiatives
3. Lead and deliver the approved CD programs within budget and time planning
4. Reports directly to CDCR Coordinator at Gresik; weekly, monthly, quarterly and annual report
5. Provide support in communicating SR plan with CR function and any respected function within Hess organization
6. As part of CDCR team, provide supports to the rest of team in handling any social issues
7. Ensure all SR program comply with ED 26 and ED 28

Technical competencies:

• Bachelor degree/S1 in related field of social science, community development with 4 years experience in development work in rural and urban communities; or
• Relevant University degree with 8-10 years of comprehensive experience in development work in both divers and remote environments

Non-technical competencies:

• Project management skill
• Self management to work independently
• Logical thinking with sound judgment and problem solver
• Community empowerment focus
• Mature personality
• Communication skill
• Conflict Resolution

Basic skill:

Fluency in English (speaking and writing) and local language (preferable). Microsoft office basic skill, MS Project (preferable)

Experience:

• Facilitating local stakeholders, especially communities and society groups
• Managing community development
• Has experience in working in East Java coastal area (preferably)
• A minimum of 4 years experience in a similar role in oil and gas company (KKKS) will be a plus

For more information and to apply online, please visit http://www.hess.com/careers and search E&P Jobs no later than 28 November 2011. Put the number you wish to apply in job number box in search criteria page.

Please note that only shortlisted candidate will be invited for interview.